*Wujudkan Masyarakat Sehat dan Produktif, Kapolres Sukoharjo Akan Tetap Adakan Gerai Vaksinasi*

 

Busurnews.com, Sukoharjo – Dalam rangka Hari Jadi Polwan ke-73, Polwan Polres Sukoharjo diterjunkan untuk membantu percepatan penanggulangan Covid-19. Yaitu dengan membantu proses Vaksinasi Merdeka Candi TNI-Polri di Kabupaten Sukoharjo.

Kegiatan Gerai Vaksin Merdeka Candi TNI – Polri terus berlanjut. Kali ini, vaksinasi dosis ke-2 untuk masayarakat Sukoharjo dilaksanakan di Gedung PGRI Kabupaten Sukoharjo, Selasa (24/8/2021).

 

Saat berkunjung ke Gerai Vaksinasi di Gedung PGRI, Kapolres Sukoharjo, AKBP Wahyu Nugroho Setyawan mengatakan, bahwa Gerai Vaksinasi Merdeka Candi Polres Sukoharjo akan terus berlanjut sebagai Percepatan Penanggulangan Covid-19 Untuk Mewujudkan Masyarakat Yang Sehat dan Produktif.

“Untuk hari ini, vaksinasi dosis ke-2 di ikuti 877 orang yang terdiri dari tokoh agama, tokoh masyarakat, mahasiswa, dan semua lapisan masyarakat,” ungkapnya.

Kapolres menyampaikan, dalam pelaksanaan vaksinasi terlihat antusias dari masyarakat untuk mendapatkan vaksin. “Semoga dengan antusias masyarakat yang tinggi ini dapat mempercepat herd immunity masyarakat, sehingga pandemi Covid-19 segera berakhir,” jelasnya.

Selain di Gedung PGRI, Gerai Vaksinasi Merdeka Candi Polres Sukoharjo dosis I juga dilaksanakan di Gedung Serbaguna PT Sritex. Yang mana vaksinasi di ikuti 1.516 buruh/karyawan dan masyarakat Kabupaten Sukoharjo.

Kapolres menambahkan, dalam Gerai Vaksinasi Merdeka Candi tersebut dikerahkan Polwan Polres Sukoharjo dalam proses vaksinasi, seperti pada proses regiristasi, observasi, input data, dan percetakan kartu vaksin.

“Ini dalam rangka bakti Polwan dalam menyambut Hari Jadi Polwan ke-73, pada tanggal 1 september 2021 nanti,” kata Kapolres.

Untuk diketahui, Sejarah Polwan dimulai pada awal tahun 1948, pada saat itu, terdapat kesulitan-kesulitan pada pemeriksaan korban, tersangka ataupun saksi wanita terutama pemeriksaan fisik untuk menangani sebuah kasus. Hal tersebut mengakibatkan polisi sering kali meminta bantuan para istri polisi dan pegawai sipil wanita untuk melaksanakan tugas pemeriksaan fisik.

Kemudian, organisasi wanita dan organisasi wanita Islam di Bukit Tinggi berinisiatif mengajukan usulan kepada pemerintah agar wanita diikutsertakan dalam pendidikan kepolisian untuk menangani masalah tersebut.

Pada tanggal 1 September 1948 secara resmi disertakan 6 (enam) siswa wanita yaitu: Mariana Saanin, Nelly Pauna, Rosmalina Loekman, Dahniar Sukotjo, Djasmainar, Rosnalia Taher; untuk mulai mengikuti pendidikan inspektur polisi.

Vio Sari/Humas