Kategori
Artikel

WHO telah menetapkan kriteria New Normal.

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA — WHO telah menetapkan kriteria New Normal.

Di antaranya ialah kita masih harus menunggu sampai kasus infeksi virus corona turun sampai level minimal sekitar dua pekan hingga pakar epidemiologi menyatakan aman untuk pelonggaran.
Itu pun harus dibarengi dengan langkah pengidentifikasian, isolasi, pengujian, pelacakan kontak, dan karantina mandiri.

Sementara waktu, persiapan untuk New Normal sudah harus dilakukan di semua sendi kehidupan bermasyarakat.
Protokol kesehatan di fasilitas transportasi umum, mulai dari halte, terminal, stasiun hingga di armadanya perlu disiapkan.
Sosialisasinya juga harus gencar agar tak menimbulkan gesekan antarpenumpang akibat adanya orang yang tak patuh.
Kita memang butuh diingatkan dan terus diingatkan hingga protokol kesehatan itu menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, kantor juga harus bersiap mengatur kebijakan untuk remote working, memodifikasi ruangan tempat kerja, dan mengintensifkan disinfeksi fasilitas kantor.
Di lain sisi, sejumlah perusahaan besar di berbagai penjuru dunia malah telah memutuskan untuk memperpanjang work from homehingga akhir 2020.
Bagi kantor yang akan kembali menerapkan work from office, karyawannya tentu harus cek suhu tubuh sebelum masuk pintu gedung, menyanitasi tangan, pakai masker dan menjaga jarak minimum satu meter, termasuk ketika jam makan siang.
Semua harus dipastikan punya pemahaman yang sama soal protokol kesehatan ini.

Di samping itu, kantor perlu menyiapkan pasokan masker dan mengelola sampahnya dengan benar. Kantor juga harus siap dengan ruang karantina dan cara penanganan andaikan ada karyawan yang jatuh sakit.
Protokol kesehatan di rumah ibadah, taman, tempat hiburan, restoran, pasar, dan mal juga harus disiapkan. Apalagi, virus corona dikabarkan tak akan sirna begitu saja dan vaksinnya belum tersedia.
Bagaimana dengan sekolah? Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah mengeluarkan anjuran menjelang akhir masa tanggap darurat Covid-19. Kegiatan pembelajaran jarak jauh menjadi opsi yang direkomendasikan saat ini.
Kita bisa mencontoh negara lain yang sudah lebih dulu memasuki masa transisi New Normal dalam hal membuka sekolah. Tentunya, penyesuaian dengan setting lokal amat diperlukan.
Meniadakan upacara, olahraga, dan memangkas jumlah murid dalam satu kelas, menutup kantin, dan mewajibkan pemakaian masker telah diterapkan di luar negeri. Mereka juga memperpendek jam sekolah agar guru punya waktu untuk mempersiapkan bahan ajar daring. Tapi, ini tak mungkin terlaksana dengan beban kurikulum seperti sekarang.
Sementara itu, orang nomor satu di New South Wales Gladys Berejiklian menampik telah gegabah dalam membuka sekolah. Ia menyebut penutupan dua sekolah akibat temuan kasus Covid-19 akan menjadi “kenormalan baru” saat negara bagian Australia itu melakukan pelonggaran.
Menurutnya, sekolah yang ditutup tinggal dibuka lagi setelah semua menjalani uji Covid-19 dan pembersihan fasilitas.

Kita harus berhati-hati dalam perjalanan menuju New Normal.
Jika gegabah, kita berisiko mengalami pukulan yang lebih parah oleh Covid-19 mengingat dampak yang telah ditimbulkannya sejauh ini.

@drr