Wakil Presiden JK Hari- Hari Ini Tidak Selincah Zamannya SBY

Oleh:Dr. Dhedi Rochaedi Razak, S.HI, M.Si

Busur News Com,Jakarta-Wakil Presiden Jusuf Kalla atau “JK hari-hari ini memang tak selincah ketika menjadi wakil presiden di era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Di masa itu kita menyaksikan seorang wapres yang hidup, cekatan, dinamis, dan inovatif.
Pemerintahan pun jadi amat berdenyut.
Ia seperti berada di depan serupa lokomotif.

Putra Makassar itu menjawab ringan setiap ada pertanyaan ia seperti mendahului presiden.
“Kalau wapres salah, enggak apa-apa, masih ada presiden.
Tapi, kalau presiden salah, siapa yang mengoreksi?

Karena itu, enggak apa-apa saya mendahului,”
begitu kira-kira jawab JK.

Karya besar JK yang tak terlupakan pastilah perdamaian Aceh pada 2005.
Waktu itu, peran JK seperti jauh lebih besar daripada SBY sendiri.
JK memang menggunakan pendekatan historis dan kultural untuk perdamaian Aceh dan berhasil.

Pada pemerintahan Joko Widodo (Jokowi), JK memang tak selincah dulu.
Jokowi yang jauh lebih muda memang seperti punya vitalitas yang penuh.
Bahkan, ada yang mengatakan Jokowi seperti selalu kehabisan waktu karena mobilitasnya yang superaktif.
Akan tetapi, ada seorang anggota dewan di Senayan yang mengatakan Presiden Jokowi seperti jalan sendiri.
JK seperti berada di ruang sunyi.
Ia seperti menanti tugas-tugas yang belum dibagi.
Dalam soal reshuffle kabinet, JK rupanya juga banyak tak tahu.

Dalam pilkada Jakarta memang ada kabar.
JK berpihak pada Anies-Sandi daripada Ahok-Djarot.
Hal yang disorot ialah adik ipar JK, Aksa Makmud, plus anaknya (Erwin Aksa) yang jelas-jelas mendukung Anies-Sandi.

Nyonya RI-2, Mufidah Yusuf Kalla, juga disebut-sebut mendukung Anies.
Tentu itu semua tak bisa dijadikan bukti bahwa JK mendukung Anies-Sandi.
Pilkada Jakarta memang hajatan politik yang paling membuat warga Jakarta terpolarisasi amat tinggi. Termasuk dalam keluarga.

Tak salah pula, sebagai sosok yang pernah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), JK pernah memuji Anies dan Sylviana Murni yang pernah aktif di HMI maju sebagai calon pemimpin Jakarta.
Sebagai pengusaha, wajar pula JK akrab dengan Sandi.
Anies pula yang menemui JK sehari setelah versi hitung cepat memenangi paslon nomor tiga.

Sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia, JK pernah pula meminta spanduk provokatif yang menyudutkan Ahok-Djarot diturunkan.

Hanya, ia kurang berbunyi ketika ada politisasi masjid yang dilakukan para ustaz/ulama pendukung Anies-Sandi.
JK juga beberapa kali mengkritik Ahok yang kerap meminta maaf.

“Seorang pemimpin jangan terpaksa terlalu sering minta maaf karena terlalu sering minta maaf berarti membikin kesalahan,”
begitu katanya menanggapi permintaan maaf Ahok setelah berencana hendak mengancam Ketua MUI Ma’ruf Amin yang dinilai kurang terus terang.

Saya melihat justru permintaan maaf Ahok bukan karena ia bersalah, melainkan
‘demi pertimbangan tertib sosial’.

Dalam beberapa aksi bela Islam yang dimotori pemimpin FPI Rizieq Shihab, nama JK memang relatif ‘bersih’.
Ahok dan Jokowi yang kerap dimaki-maki peserta aksi.

JK pula yang paling di depan menjawab kritik media asing yang mengatakan kemenangan pilkada Jakarta ialah kemenangan umat Islam garis keras.
Menurut JK, Anies-Sandi justru pasangan Islam moderat.
Kata JK, demokrasilah yang memenangi pilkada.

Ia katakan pula pada Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence yang datang ke Jakarta sehari setelah pencoblosan.
Menurut JK, tak benar hanya karena didukung Rizieq Shihab, itu disebut kemenangan garis keras.

Dari berbagai ‘kecenderungan’ itu, agak sulit untuk mengatakan JK mendukung Ahok-Djarot di putaran kedua.
Sekali lagi, demokrasi memberi ruang kepada siapa pun untuk memberikan dukungan.

Namun, sebagai seorang wapres, sementara para anti-Ahok umumnya juga ‘menyerang’ Presiden Jokowi, wajar pula jika ada rasa nyeri di dada sebelah kiri Jokowi.

Pilihan JK bisa mungkin menjadi faktor menambah
‘nyeri dada sebelah kiri’
Jokowi itu.

Terlebih kemenangan pilkada Jakarta pasti menjadi modal penting Pilpres 2019.
Bisa jadi akan bertanding lagi Jokowi vs Prabowo.
Pascapilkada, JK mestinya mulai mendinginkan suasana.

*Masih banyak masjid, khususnya di Jakarta, dengan ceramah dan khotbah dalam suasana pilkada*.

*Harus mulai tausiah yang berisi membangun kerukunan*

(Riena)