Kategori
Artikel

Wahai Bangsa Indonesia Mari Kita Belajar Dari Kehancuran Di Timur Tengah

 

Oleh : Dahlan Watihellu
(Peneliti Resolusi Konflik)

Busur News Com,Jakarta – Renungan Kebangsaan – Belakangan ini sungguh terlihat jelas dinamika kehidupan secara nasional sedang diarahkan ke sentimen antar etnis bercampur agama. Jika kita runutkan satu per satu, ada dua masalah fital yang mengakibatkan sentimen ini meluas. Ini berawal dari munculnya persoalan ekonomi bangsa yang dianggap tidak stabil akibat dikuasai oleh segelintir konglomerat, persoalan penistaan agama dan Pilkada DKI Jakarta, dan isu Komunis. Tiga isu ini menjadi serangkaian akumulasi nasional hingga terciptanya kondisi saling sentimen antar etnis dan agama.

Puncak dari akumulasi ini diekpresikan pada gerakan demontrasi aksi Al-Maidah 51 menuntut keadilan hukum. Hingga saat ini pun sentimen itu masih terawat yang di dekorasi dengan isu-isu radikalisme serta kriminalitas. Sebuah pertanyaan besar yang perlu kita bangsa Indonesia renungkan adalah siapa yang menciptakan isu sentimen ini dan untuk apa ?. Sebuah rahasia dibalik dinamika ini yang perlu kita curigai adalah ada oknum anak bangsa Indonesia dan pihak asing yang sedang berfikir dan menjalankan misi bersama ingin merubah eksistensi ideologi Pancasila yang menaungi keberagaman NKRI ke ideologi sentimental dengan harapan kehancuran NKRI untuk kepentingan golongan tertentu dan negara tertentu.

Sedikit kekwahatiran saya atas nasib negara bangsa Indonesia ketika negara berada di puncak gerakan demonstrasi Al-Maidah 51 kemarin. Saya berfikir, jika dalam aksi Al-Maidah 51 terjadi chaos bagaimana nasib masa depan negara bangsa ini. Yang pasti berpontesi terjadi konflik antar sesama anak bangsa. Tapi alhamdulillah apa yang saya pikirkan tidak terjadi. Seperti yang saya katakan di atas, sentimen itu masih terawat hingga hari ini. Jika kita ingin NKRI tetap utuh dan damai dalam bingkai Pancasila, mari kita belajar dari hasil arab spring di Timur Tengah.

Empat tahun Suriah berantakan karena isu agama. Sekarang di Suriah sudah begitu banyak nyawa yang melayang, tak sedikit bangunan yg indah kini menjadi hancur berantakan. Libya sampai sekarang hancur menjadi negara gagal. Irak setiap minggu terjadi minimal satu kali bom bunuh diri di pusat keramaian dan tempat ibadah yg menewaskan banyak orang. Belajar dari situasi mereka, kita menjadi paham bahwa keragaman itu sangat mahal harganya. Mereka mungkin dulu awalnya persis seperti kita saat ini. Duduk minum kopi, teh setiap sore sambil ngobrol politik tapi kini tidak ada yang mengira bahwa semua itu berubah 180 derajat. LANTAS maukah kita terprovokasi dengan isu sentimen yang mengarah ke kehancuran dan benasib sama dengan beberapa negara Arab di atas ?

Hiduplah Indonesia Raya. Selamat berbuka puasa untuk para sahabat Muslim di Indonesia Barat ..

(Rn)