Kategori
All

*VIRUS CORONA BUKAN PENYEBAB KEMATIAN*

 

Busurnews.com, Jakarta, Penyebaran Covid diciptakan untuk menghancurkan peradaban kehidupan perekonomian dan sosial masyarakat suatu negara secara periodik, sistematis dan masif.

Masyarakat dunia akan digiring sugestinya agar terus menyakini bahwa ada wabah menular yang mematikan yaitu virus corona dan sugestinya digiring bahwa virus corona lah penyebab kematian.

Sugesti ini telah berhasil dikembangkan supaya program vaksinasi global secara masal berhasil dijalankan di setiap negara.

Masyarakat negara sengaja dibikin ketakutan selamanya dengan pernyataan WHO secara serius ternyata virus corona akan selalu ada meskipun telah divaksin.

Diciptakan sugesti bahwa Virus corona sebagai ‘wabah’ atau pandemi memang dikondisikan untuk menakut nakuti seluruh masyarakat dunia, agar semua orang bersugesti virus corona adalah virus yang paling berbahaya dan mematikan melebihi dari penyakit AIDS, Demam Berdarah, TBC dll.

Sebenarnya seluruh permasalahan kasus covid itu sudah lama tercium ketidak beresan, ketidak rasionalan dan ketidak ilmiahan.

Sebenarnya inti dari kasus covid19 yang sengaja dibuat mencekam semua ini adalah dari yang namanya permainan VAKSIN yang dilakuan oleh WHO, yaitu adanya gerakan *Konspirasi Vaksin Global.*

Dimana WHO saat ini sudah dikuasai dan dikendalikan oleh China Komunis dan EG (Elite Global) dibelakangnya adalah Yahudi.

Maka wajar akan banyak sekali policy-policy (kebijakan-kebijakan) ‘destroyer’ yang merusak bila komunis dan yahudi sudah ‘bermain’ dengan menguasai WHO.

Yaitu adanya konspirasi untuk memproduksi vaksin secara global dan penciptaan sistem sebagai ‘alat’ pendukungnya seperti Rapid test, test Swab, test Antigen dll.

Sebagai senjata agar seorang itu mudah dinyatakan sakit dan divonis covid hanya dengan alat tersebut, padahal bukan covid.

Penggalangan secara kolosal ke seluruh lapisan masyarakat dengan gunakan test ‘swab’ dan ‘rapid test’ yang menyebabkan seolah-olah kasus covid19 semakin bertambah.

Logikanya bila masyarakat tidak di lakukan test-test secara masal tersebut tentunya kasus covid19 juga tidak akan tinggi dan bertambah dan kita yakin masyarakat tetap sehat-sehat saja.

Ini agar masyarakat yang sehat pun divonis sakit sehingga mengesankan kasus korban pasien covid dinyatakan meningkat dan terus bertambah.

Semua penyebaran ‘isu covid’ dikampanyekan agar seorang gampang dinyatakan terkena covid. Terlebih dahulu setelah dirinya melalui sistem test yang tidak ilmiah dan tidak akurat. Dengan metode Test Swab, PCR, Rapid Test atau Antigen.

Sistem alat ini tidak relevan karena terbukti sampai saat ini tidak dapat membuktikan secara spesifik bahwa yang ‘positif’ itu adalah pasti selalu virus corona atau tidak karena alat itu (swab, pcr, antigen dll) hanya bisa mendeteksi virus secara global tidak spesifik virus corona. Harus diakui ini !

Karena dengan sistem alat test swab tersebut adalah untuk mendeksi segala virus. Tapi celakanya kenyataan dilapangan jika indikatornya menunjukkan ‘positif’ maka dipukul rata bahwa itu adalah virus corona.

Dengan alat metode test seperti ini seolah-olah virus Corona tidak akan pernah hilang, mau lockdown 1000 tahun pun bibit virus corona itu memang hakekatnya tetap akan selalu ada didalam tubuh kita,

Tentunya wajar saja setiap orang yang sehat pun dengan di test alat ‘swab’ atau ‘rapid test’ tersebut 40% nya akan dinyatakan ‘positif’ virus corona atau istilahnya OTG (Orang Tanpa Gejala) dan akhirnya orang tersebut harus di isolasi karantina 14 hari di rumah sakit, disanalah nasib nyawa seseorang antara hidup atau mati yaitu setelah berada dirumah sakit.

Virus corona itu pasti akan selalu terdekteksi dan nampak. Memang virus corona dari dulu dan sampai kapanpun tidak akan pernah hilang. Virus corona akan selalu menyertai ada disekitar lingkungan kita mau pakai masker berlapis-lapispun, saatnya dia kena sakit flu itulah dia terkena virus corona.

Virus corona mau dihilangkan dengan metode vaksin apapun dengan sistem protokoler apapun virus corona selamanya sampai dunia ini kiamat tidak akan pernah hilang akan selalu muncul disekitar kita.

Sebenarnya ‘virus corona’ itu bukan virus baru dalam dunia medis tapi virus lama sudah ada sejak jaman dulu dan sampai kapanpun.

Baik sesungguhnya corona itulah virus flu atau virus flu influenza yang suatu saat akan muncul didalam tubuh manusia jika seorang itu tidak fit atau imun dan antibodi kita menurun maka terseranglah demam dan flu, maka itulah virus corona.

Virus corona sebenarnya bukan virus baru yang baru muncul. Dan virus corona adalah nama lain dari nama virus flu dan ini termasuk jenis virus jinak tidak berbahaya apa lagi mematikan. Virus flu yang paling berbahaya dan mematikan adalah virus SARS atau viirus flu burung.

Tapi kenapa corona ini dikatakan mematikan, benarkah?

Ada dua pernyataan dari IDI (Ikatan Dokter Indonesia) sendiri yaitu pertama, menyatakan 99% penyebab kematian bukan disebabkan karena virus corona tapi disebabkab oleh dua faktor.

Faktor pertama yang paling dominan adalah pemberian vaksin setelah korban di isolasi dirumah sakit. Faktor kedua karena korban memiliki riwayat penyakit berat sebelumnya seperti asma dan penyakit jantung. Tapi alasan faktor yang kedua tidak terlalu kuat dan dominan. Yang paling kuat adalah faktor pertama.

Pemberian vaksin saat korban di rumah sakit adalah sebab utama kematian dari jutaan kasus kematian yang dikalim sebagai ‘corona’ mengapa demikian?

Karena ternyata vaksin-vaksin yang sudah menyebar di seluruh rumah sakit di dunia itu ada vaksin yang berjenis senovac.

Vaksin sinovac adalah CoronaVac merupakan kandidat vaksin COVID-19 yang dikembangkan oleh Sinovac. Vaksin ini mengandung virus SARS-CoV-2 inaktif atau dimatikan.

Dimana vaksin sinovac bila disuntikkan ke tubuh itu akan menjadikan virus didalam tubuh bermutasi dan efeknya akan membunuh sel-sel darah putih (sel-sel baik) dan mematikan imun dalam tubuh otomatis tubuh secara ritme akan lemas dan hilang antobodinya.

Gejalanya tubuh akan lemas, kepala pusing, demam tinggi dan sesak nafas yang berujung kematian. Celakanya kematian seperti ini di klaim disebabkan virus corona.

Tidak bisa dijadikan alasan ukuran penyebab kematian dirumah sakit lebih besar dengan alasan bahwa rumah sakit tempat banyak bertebaran virus corona. Padahal hakekatnya kematian karena vaksin itu sendiri.

Bila markas virus corona berada di rumah sakit tentunya di rumah sakit sudah banyak manusia yang menjadi mayat bergelimpangan berhamburan di rumah sakit. Tapi ternyata tidak seperti itu.

Sebagai bukti pasien covid yang isolasi diri di rumah sendiri 100% sembuh dan selamat tidak ada satupun yang meninggal karena mereka tidak ada di sentuh oleh vaksin.

Pernyataan kedua
dari IDI menyatakan, kasus korban kematian covid 99% adalah di rumah sakit yaitu korban yang meninggal setelah dirinya diisolasi di karantina di rumah sakit. Dan rata-rata orang yang dinyatakan covid dan isolasi mandiri dirumah sendiri 100% selamat tidak ada satupun korban meninggal covid ada dirumah-rumah mereka. Ini fakta!

Logikanya saja bila virus corona ini memang dikatakan benat suatu wabah menular yang cepat mematikan seharusnya korban kematian juga cepat yang ada dirumah-rumah mereka, di apartemen mereka, di kost-kost, dipasar-pasar bahkan dijalan-jalan korban karena covid pada bergelimpangan dimana-mana tidak harus setelah masuk rumah sakit baru meninggal.

Tidak ada satupun kasus kematian karena corona ditempat tinggal mereka, padahal katanya ini WABAH yang cepat MEMATIKAN?

Masyarakat akan digiring sugestinya agar menyatakan bahwa virus corona lah penyebab kematian supaya program vaksinasi masal berhasil dijalankan di Indonesia.

Masyarakat sengaja dibikin ketakutan selamanya dengan virus yang akan selalu menghantui dirinya meskipun telah divaksin.

Padahal nama virus corona itu adalah nama salah satu jenis virus flu ringan biasa atau virus influenza biasa bukan virus baru.

Jika kita sedang sakit flu, demam dan batuk-batuk itulah yang dinamakan bahwa kita sedang terkena virus corona karena corona itu adalah nama lain dari virus flu itu sendiri, baru paham kan?

Virus corona adalah virus jinak sampai kapanpun dan divaksin ratusan kalipun tidak akan pernah hilang. Karena ini adalah virus alami setiap manusia memiliki bibit virus corona yang sewaktu-waktu akan selalu muncul bila kondisi tubuh drop atau tidak fit.

Virus corona bukan sebagai penyebab kematian. Tapi saat ini sengaja virus corona ‘dikambing hitamkan’ diframing sedemikian rupa oleh WHO seakan virus corona berbahaya dan mematikan.

Karena dibalik kasus isu wabah covid ini adanya kepentingan politik ‘big program’ atau rencana besar yang dijalankan *EG (Elite Global)* ‘preman dunia’ yang saat sudah menguasai WHO.

Propaganda, pengelabuan dan pembodohan dengan teknologi medis ternyata cara ampuh dan cara paling logis dan efisien untuk hancurkan masyarakat suatu negara.

Ini merupakan keberhasilan yang dilakukan oleh para EG (Elite Global) untuk melumpuhkan sendi perekonomian suatu negara.

Semua ini dalam rangka bisnis besar program raksasa EG. Konspirasi vaksin global tak lepas dibalik itu ada kepentingan politik dalam rangka mengusai dunia.

Pesan penting dari para dokter yang terkabung dalam IDI adalah,

Pertama agar para dokter dan team medis bersikap jujurlah atau bagi yang belum mengerti agar sadarlah bukalah pikiran ‘akal sehat’ dan logika anda tentang kasus covid ini, karena sudah banyak masyarakat dan saudara kita sendiri yang menjadi korban sia-sia akibat kasus uji coba vaksin dan isu corona ini.

Iya kalau lah vaksin yang diberikan benar sebagai antibodi pasien bisa pulang dari rumah sakit dengan selamat. Tapi jika vaksin yang diberikan berfungsi sebaliknya justeru mematikan antibodi? Seperti kasus vaksin sinovac ini.

Maka seketika itu pula pasien akan panas tinggi dan sesak nafas ujungnya adalah kematian, itu semua disebabkan pemberian vaksin bukan akibat virus corona.

Kedua, agar masyarakat untuk saat-saat ini bila ada keluhan sakit cukup datang ke puskesmas, poliklinik atau dokter praktek umum, jangan bermudah-mudah memasukkan keluarganya ke rumah sakit. Cukup istirahat dan isolasi diri di rumah sendiri itu cara paling aman menghindari dari vaksin sebagai resiko kematian. Hilangkan dari pikiran kasus kematian karena virus corona itu keliru dan menyesatkan.

Apalagi saat ini sedang ada isu baru virus corona. Bahwa gejala pencernaan dapat merupakan terinfeksi Covid-19, benarkah?

Itu adalah informasi HOAX yang telah menyebar bisa juga ini suatu analisa hoax karena tidak ilmiah yang tidak dapat dipertanggung jawabkan.

Seperti memang ada upaya pihak-pihak tertentu yang sengaja membangun opini baru ke publik agar masyarakat semakin bingung dan ketakutan.

Karena secara ilmiah sejak kapan virus dapat berkolaborasi dengan bakteri. Karena virus dan bakteri itu dua tekstur yang berbeda dan tidak dapat hidup di alam yang sama. Mereka akan hidup salah satu atau mati salah satunya.

Memang virus dan bakteri dapat menimbulkan gejala yang serupa seperti panas dan demam. Tapi tidak bisa gangguan pencernaan diklaim sebagai akibat adanya virus corona.

Virus corona hanya menyerang saluran pernapasan. Virus itu hanya menyerang bagian tubuh yang lebih spesifik, misalnya sel darah, hati, atau saluran pernapasan saja.

Begitu pula bakteri hanya menyerang saluran pencernaan misalnya, lambung, usus dan daerah kolon lainnya, jadi sudah ada kavling masing-masing tidak bisa saling mengklaim.

Masalahnya kedua unsur ini tidak dapat bermerger kolaborasi disebabkan oleh mikroorganisme yang berbeda.

Jangan membangun analisa yang bodoh dan jangan membangun narasi pembodohan publik. Ini namanya mengada-ngada semua apa-apa dihubungkan dengan virus corona, ini pembodohan.

Intinya saja bahwa kasus virus Corona yang di isukan sebagai suatu *’wabah mematikan’* harus dihilangkan dari masyarakat. Maka kita yakin masyarakat suatu negara pasti akan sehat seluruhnya.

Seperti yang terjadi di negara Swedia disana tidak ada kasus corona dibesar-besarkan oleh pemerintahnya, tidak ada lockdown dan tidak ada protokoler berlebihan.

Semua berjalan seperti biasa dan akibatnya masyarakat disanapun dinyatakan sehat semuanya. Karena pemerintahnya tegas tidak termakan dengan adanya ‘isu wabah’ virus corona, dengan itulah rakyatnya sehat-sehat saja semuanya.

Hakekatnya virus corona walaupun diadakan uji test ‘swab’ pada tahun 1970, tahun 1980, tahun 1990 dan tahun 2020 pun virus ini sudah ada dan selalu muncul. Karena virus corona itu memang selalu ada sejak nenek moyang kita sejak dulu.

Virus corona bukanlah virus yang berbahaya dan mematikan seperti yang di isukan oleh WHO selama ini adalah pembodohan. Tidak selamanya kita harus membebek kepada WHO.

Bahkan ada seorang ahli sampai perpendapat bahwa ‘Isu wabah’ corona ini akan hilang dan akan terlupakan dengan sendirinya bila dengan terjadi perang dunia.

Pada masanya terungkap kasus propaganda ini dan masyarakat akan baru sadar berarti salama ini kita hanya di bodohi dengan gunakan teknologi medis.

Sumber : IDI( Ikatan Dokter Indonesia)’ yang masih peduli menyuarakan kebenaran demi kemanusiaan. Komunitas Ikatan Dokter Indonesia)_*