Virus cofid19 yang mematikan itu, setiap hari justru semakin memurukkan kehidupan umat manusia.

 

Oleh : Dhedi Razak

Busurnews.com, nanggroe ACEH darussalam —  Virus cofid19 yang mematikan itu, setiap hari justru semakin memurukkan kehidupan umat manusia.

Satu per satu orang mulai kehilangan pekerjaan dan juga kemudian masa depan.
AS yang mencoba mengembalikan kebesarannya pun ikut tak berdaya.
Untuk April saja angka pengangguran di sana mencapai 20,5 juta orang.
Tidak usah heran banyak warga terpaksa ikut program Feeding America demi mendapatkan bahan kebutuhan pokok.
Semua sangat berharap masa kegelapan ini segera berakhir.
Orang tidak mungkin dibiarkan tidak bisa melakukan kegiatan apa pun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Semua menyadari, kita tidak mungkin terus menggantungkan hidup dari uluran tangan orang lain.
Martabat manusia ditentukan oleh pekerjaan.

Sebagai homo faber, manusia harus bekerja untuk menghasilkan sesuatu.
Orang akan kehilangan harga diri ketika tidak bekerja, ketika tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarganya.
Kecepatan untuk merespons kondisi itulah yang diperlukan sekarang.
Kita harus mencegah jangan sampai masyarakat terpapar covid-19, tetapi juga jangan sampai terkapar oleh virus PHK.

Kita harus bersiap hidup dalam suasana yang disebut the new normal.

Sampai kelak ditemukan vaksin covid-19, kita harus mau hidup dengan protokol kesehatan yang ketat.
Tidak boleh masker lepas dari wajah kita.

Selalu menjaga jarak agar tidak terkena oleh aerosol yang keluar dari mulut orang lain. Kita wajib menjaga pola hidup sehat dan bersih dengan selalu mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir.
The new normal akan menciptakan sebuah peradaban baru. Peradaban untuk peduli terhadap sesama.
Tanggung jawab pribadi harus dijalankan dengan sepenuh hati agar kita tidak membahayakan orang lain.Peradaban itu bahkan harus dimulai dari sekarang.
Kalau pemerintah melarang mudik, semua orang harus patuh menjalankannya. Mengapa? Karena kalau kita tidak patuh, berarti kita sebenarnya membahayakan orang lain termasuk saudara-saudara kita sendiri.
Bagaimana dengan orang yang mencuri-curi mudik dan bangga bisa mengelabui petugas?

Kita harus mampu membangun peradaban baru bahwa orang yang hebat itu ialah orang yang patuh kepada aturan.
Bukan orang yang melanggar aturan.
Kita harus seperti bangsa lain yang maju peradabannya, yang tidak goyah oleh ketidakbenaran. Meski sudah tengah malam dan jalanan sepi, ia tidak pernah menerobos lampu merah karena itu membahayakan keselamatan orang lain.

Sekarang ini gugus tugas mengeluarkan surat edaran tentang kriteria pembatasan perjalanan orang dalam rangka percepatan penanganan covid-19.
Tujuannya agar pergerakan orang dan barang untuk penanganan covid-19 tidak terhambat.
Kekecualian lain diberikan kepada mereka yang sedang mengalami kemalangan atau warga negara Indonesia yang hendak kembali ke Tanah Air.

Namun, sekarang yang ramai diperbincangkan seakan pemerintah melonggarkan sarana transportasi.
Muncul kekhawatiran kebijakan ini dimanfaatkan sekelompok orang untuk bisa mudik Lebaran.
Di sinilah kesempatan untuk membangun peradaban.
Kita jangan pernah membenarkan orang yang memanfaatkan kesempatan untuk melanggar aturan.
Kepada mereka yang melanggar, kita harus berikan hukuman sosial.
Mereka jangan diperlakukan sebagai pahlawan, tetapi sebagai pelanggar aturan
Bangsa-bangsa yang maju peradabannya selalu mendahulukan sikap percaya kepada orang lain.
Sampai kemudian orang itu melanggar kepercayaan yang diberikan, maka orang itu akan dikucilkan dari pergaulan sosial.
Di Tokyo, Jepang, orang yang kehilangan kepercayaan dari masyarakat hanya bisa hidup di pinggiran Sungai Tokyo.
Tidak ada seorang pun yang mau memberikan pertolongan karena ia sudah menjadi orang yang tidak bisa dipercaya.

Wabah covid-19 harus kita jadikan momentum membangun peradaban baru seperti itu.
Hanya dengan itu wabah virus korona ini akan membuat kita menjadi bangsa besar.

Kalau tidak mampu membangun peradaban yang lebih baik, kita akan menjadi bangsa merugi karena kita hanya merasakan akibat buruk dari wabah penyakit satu ini.

@drr