Kategori
Artikel

UTANG ialah berbicara tentang kehidupan itu sendiri, Utang ada sejak seseorang masih dalam kandungan hingga meninggalkan dunia

 

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com,JAKARTA — UTANG ialah berbicara tentang kehidupan itu sendiri.
Utang ada sejak seseorang masih dalam kandungan hingga meninggalkan dunia.
Sejak masih dalam kandungan hingga persalinan, kita utang nyawa pada ibu kita.
Setelah lahir dan menyusui, kita utang kasih sayang kepada ibu kita. Saat lulus kuliah mulai bekerja dan menikah, kita utang budi dan restu pada orangtua.
Ketika kita punya anak dan mulai beranjak dewasa, serta membutuhkan biaya, kita mulai utang biaya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, dstnya.
Jadi, di sepanjang kehidupan, kita ternyata berhadapan dengan utang.

No life without debt.

Hal ini menjadi relevan karena wujud utang bukan hanya fisik uang saja, melainkan juga kewajiban lainnya yang melekat di sepanjang kehidupan manusia itu sendiri.
Kenapa kita harus utang?

Setiap orang membutuhkan interaksi dengan orang lain untuk saling menutupi kebutuhan dan tolong-menolong di antara mereka.
Hal ini karena kondisi seseorang itu berbeda.
Namun, ada juga yang menghindari utang karena beranggapan akan memberatkan jika gagal mengaturnya dengan baik atau membebani mental jika kesulitan membayarnya.
Inilah yang menganggap utang selalu negatif. Padahal, utang ialah sesuatu yang wajar terjadi dalam kehidupan manusia dan merupakan praktik yang sudah berlangsung selama berabadabad.

Catatan tertua tentang utang berasal dari kebudayaan Mesopotamia pada 2000 SM.
Saat itu, para petani biasa meminjam bibit atau hewan penggarap sawah kepada pemodal.
Lebih aman Ada tiga alasan mengapa seseorang perlu berutang.
Pertama, ada kebutuhan mendesak.
Kedua, kebutuhan mendadak karena musibah, misalnya sakit, dll.
Ketiga, ada kebutuhan tambahan modal.

Apa gunanya utang bagi Indonesia?
Utang digunakan untuk menutup defisit APBN 2020 yang besar.
Selain itu, juga membiayai kebutuhan ekspansi perekonomian nasional, seperti pembangunan infrastruktur, membayar bunga dan cicilan utang, serta membiayai krisis akibat pandemi covid-19 seperti sekarang yang jumlahnya relatif besar.
Berdasarkan data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI), posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada akhir Februari 2020 mencapai US$405,7 miliar.
Jika dilihat dari jenis mata uangnya, ULN dalam US$ mencapai US$269 miliar, dalam rupiah US$85,1 miliar, yen US$23,4 miliar, euro US$20 miliar, dan SDR US$4,08 miliar.
Jika dilihat dari sumbernya, kreditur terbesar RI, Singapura, Jepang, AS, Tiongkok, dan Hong Kong berkontribusi dalam menyalurkan kredit sebesar US$155,6 miliar.
Angka itu setara dengan 38,3% dari ULN Indonesia.
Jika dilihat dari sisi kreditur global, pinjaman IBRD sebesar US$17,7 miliar, ADB US$10,6 miliar, dan IMF US$2,7 miliar.

Bagaimana dengan utang pemerintah?

Menurut data Kemenkeu, jumlah utang pemerintah per akhir April 2020 sebesar Rp5.172,48 triliun. *Dari total pinjaman Rp834,04 triliun, pinjaman luar negeri Rp824,12 triliun dan pinjaman dalam negeri Rp9,92 triliun.

Khusus pinjaman luar negeri terdiri atas pinjaman bilateral Rp333,00 triliun, multilateral Rp448,45 triliun, serta commercial bank Rp42,68 triliun.

*Membengkaknya posisi utang pemerintah disebabkan:

Pertama, meningkatnya kebutuhan belanja prioritas di sektor produktif (untuk pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat).

Kedua, penggunaan utang lebih aman karena lebih dititikberatkan pada sektor usaha produktif dan menghasilkan devisa negara, serta telah dilakukan hedging agar terhindar dari maturity mismatch maupun currency mismatch.

Ketiga, fundamental ekonomi RI dan kinerja pemerintah positif, termasuk dalam pengelolaan utang.
Karena itu, memungkinkan pemberian utang.
Hal ini didukung pencapaian dan pengakuan yang positif atas country rating dan country risk classifi cation dari rating agencies dan negara anggota OECD.

Keempat, penerapan pengelolaan utang ke depan mengutamakan prinsip prudentiality akuntabel dan transparan sesuai Keputusan Menteri Keuangan No 380/kmk.08/2010 tentang Strategi Pengelolaan Utang Negara Tahun 2010-2014.

Kelima, dalam periode mendatang, kebijakan pengelolaan utang difokuskan terhadap upaya meningkatkan efisiensi pengelolaan utang dengan tetap memperhatikan indikator risiko utang secara terukur.

Fungsi dan manfaat Dari pembahasan utang di atas, ada yang perlu dicermati.
Pertama, masalah utang selalu menjadi trending topic.

Apalagi, saat krisis pandemi covid-19, muncul polemik yang mempermasalahkan jumlahnya yang menggunung atau dampaknya yang selalu digaungkan bakalan menjadi beban anak cucu kita.
Opini miring ini seolah menafikan fungsi dan manfaat utang selama ini.
Mereka melupakan fungsi utang sebagai pelumas roda perekonomian, penyangga defisit APBN RI, penyelamat krisis pandemi covid-19, dll.

Utang tak ubahnya seperti pahlawan tanpa tanda jasa.
Kedua, RI kini mulai diperhitungkan sebagai negara yang prospektif.
Kinerja pembangunan telah menaikkan kelas dari negara berkembang menjadi negara maju. Dari mana stimulusnya? Hasil ekspor masih belum mampu membebaskan dari defisit neraca perdagangan. Hasil pajak masih jauh api dari panggang. Investasi langsung belum maksimal karena isu perburuhan dan panjangnya rantai birokrasi perizinan.

Bagaimana dengan utang?
Kenyataannya RI memang masih membutuhkan.

Ketiga, masalah utang dikaitkan kemampuan membayar kembali.
Selama ini, RI masih tercatat sebagai good boy.
Masih dipercaya kreditur karena konsistensi kebijakan membayar tepat waktu.
Yang perlu dipahami, berutang itu tidak mudah.
Ada beberapa kriteria yang harus dilalui, termasuk penilaian dan rekomendasi lembaga rating internasional yang menilai peringkat risiko kredit yang objektif, independen, serta dapat dipertanggungjawabkan negara ybs.

Keempat, masalah utang (utang luar negeri) ialah soal cara pandang.
Biarkan beda pandangan menjadi hal yang lumrah.

Anggap saja sebagai kritik sosial untuk mengedepankan aspek kehati-hatian.

Kelima, mengubah persepsi pengelolaan utang yang benar, terbuka, dan lebih mengedepankan manfaatnya dengan mempertimbangkan faktor hedging untuk menghindari risiko maturity mismatch, currency mismatch.

Mengingat pengelolaan utang tidak dapat dipisahkan dari pengaruh kondisi pasar keuangan global, diperlukan langkah antisipatif dengan mempertimbangkan semakin dinamisnya perkembangan pasar keuangan.

Keenam, untuk menjaga struktur utang tetap sehat dan terkontrol, perlu ditingkatkan koordinasi dalam memantau perkembangan utang yang didukung penerapan prinsip kehati-hatian dan akuntabilitas pengelolaan.

*Akhir kata, masalah utang ialah masalah klasik yang tak ada habisnya.
Utang tak mungkin dinihilkan perannya karena RI rentan krisis. Utang dan krisis memiliki siklus sama. Utang timbul di setiap krisis bermula karena utang dimaksudkan untuk menutupi dampaknya. Apalagi, dalam kondisi pandemi covid-19. Yang penting, sekarang bagaimana peran utang harus dioptimalkan dalam menyokong pembiayaan pembangunan dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.
Untuk itu, menghentikan polemik tentang masaalah utang yang justru memperkeruh suasana ialah langkah bijak.
Kita sadar, masalah utang memang butuh tantangan, tetapi bukan untuk tantangan yang tidak jelas.

  1. @drr