UNTUK PERTAMA KALINYA DI INDONESIA, KASUS KLAIM ASURANSI MASUK RANAH PIDANA.

 

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

BusurNews.Com,Jakarta –  UNTUK PERTAMA KALINYA DI INDONESIA,
KASUS KLAIM ASURANSI MASUK RANAH PIDANA.

 

Direktur utama dan manajer klaim PT Asuransi Allianz Life Indonesia ditetapkan sebagai TERSANGKA OLEH KEPOLISIAN,
KARENA TIDAK MENCAIRKAN KLAIM ASURANSI NASABAH.

Biasanya kasus pencairan klaim asuransi hanya berproses di pengadilan perdata.

Secara umum,
Penolakan klaim terjadi lantaran syarat dalam perjanjian polis tidak dipenuhi pihak tertanggung (konsumen).

Mayoritas kasus asuransi terjadi akibat kecurangan dalam pengajuan klaim asuransi.
Masyarakat sengaja memalsukan dokumen atau memasukan data yang salah agar bisa mendapatkan klaim dari perusahaan asuransi.

 

“Yang biasa terjadi adalah asuransi kebakaran.
Pihak tertanggung sengaja membakar, sehingga meminta klaim.
Perusahaan asuransi yang biasanya mengadukan ke peradilan.
Di Indonesia, yang begitu juga ada”.

 

Adapun kasus yang menimpa Allianz Indonesia berawal dari pelaporan Ifranius Algadri.
Ia mengajukan klaim asuransi kesehatan dari Allianz sebesar Rp16,5 juta usai dirawat inap beberapa kali di dua rumah sakit berbeda.

 

Kuasa Hukum Ifranius Algadri,
Alvin Lim menjelaskan kasus ini dimasukan ke ranah pidana lantaran ada penolakan dari pihak Allianz atas pengajuan klaim korban.

Penolakan tersebut disebabkan oleh syarat dari perusahaan asuransi yang tidak sesuai dengan buku polis yang diberikan, yakni harus menyertakan rekam medis lengkap.

 

Di samping itu, sesuai Peraturan Menteri Kesehatan No 269/MENKES/PER/III/2008 tentang Rekam Medis, catatan medis memang dilarang diberikan kepada sembarang pihak, termasuk pasien.

Selama ini,
Pasien hanya berhak menerima resume atau ringkasan catatan medis.
Karena itu,
Pihak rumah sakit menolak memberikan rekam medis lengkap meski korban sudah meminta sesuai syarat tambahan dari Allianz.

 

“Ada trik atau persyaratan yang tidak tertera di buku polis dan melanggar UU No.8/1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Mereka menolak klaim karena katanya batas klaim 14 hari dan tidak ada rekam medis.
Jadi, di situ masuk ranah pidana”.

 

Pun, kasus tersebut sengaja tidak dibawa ke Badan Mediasi dan Arbitrase Asuransi Indonesia (BMAI) agar ada efek jera bagi para perusahaan asuransi yang nakal.

Menurutnya,
Korban tidak lagi peduli terhadap nominal klaimnya, tetapi agar tidak ada lagi masyarakat yang dirugikan seperti itu.

 

“Kalau di BMAI kan prosesnya rahasia dan tertutup.
Kami mau ini dibuka agar tidak ada lagi korban.
Usai kami laporkan ini, makin banyak konsumen yang jadi melapor kasus gagal klaim asuransinya”.

(Rn)