Ulama merupakan pewaris nabi yang seyogianya dihormati

 

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA — Ulama merupakan pewaris nabi yang seyogianya dihormati

Belakangan ini sejumlah ulama di Tanah Air kerap menjadi sasaran fitnah.
Yang terbaru, seperti fitnah yang menyerang Ustadz Adi Hidayat terkait dana kemanusiaan untuk rakyat Palestina.

Sebenarnya bagaimana bahayanya memfitnah, membenci dan menyakiti ulama?

Bahwa kedudukan ulama sangatlah tinggi. Dalam hadits sahih riwayat Imam Tirmidzi, Imam Ahmad, Imam Ad Darimi, Imam Abu Dawud dan Ibnu Majah dijelaskan bahwa ulama adalah pewaris para nabi.

إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.”

Ilmu yang diwariskan dari para nabi, khususnya dari Rasulullah SAW kepada ulama adalah dalam ruang lingkup tiga pokok ajaran agama atau arkanuddin, yaitu Islam, iman dan ihsan.
Bahwa ulama sebagai pewaris para nabi sangat mengetahui dan menguasai tentang Islam, iman dan ihsan.
Pengetahuan dan penguasaan mereka terhadap arkanuddin bukan sekadar sebagai ilmu, tetapi mereka adalah pribadi-pribadi yang paling dahulu melaksanakannya secara istiqomah, dari yang wajib sampai yang sunnah atau amalan-amalan tambahan (nawafil) sehingga Allah SWT mengangkat derajatnya sebagai waliyullah atau kekasih Allah.
Kepada ulama yang kekasih Allah SWT inilah kita, sebagai Muslim, sangat dilarang untuk memfitnah, membenci atau menyakiti mereka karena mereka bukan hanya pewaris para nabi, tetapi mereka juga Waliyullah, kekasih Allah SWT.

Dalam sebuah hadist qudsi yang diriwayatkan bu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

إنَّ اللهَ قال : من عادَى لي وليًّا فقد آذنتُه بالحربِ ، وما تقرَّب إليَّ عبدي بشيءٍ أحبَّ إليَّ ممَّا افترضتُ عليه ، وما يزالُ عبدي يتقرَّبُ إليَّ بالنَّوافلِ حتَّى أُحبَّه ، فإذا أحببتُه : كنتُ سمعَه الَّذي يسمَعُ به ، وبصرَه الَّذي يُبصِرُ به ، ويدَه الَّتي يبطِشُ بها ، ورِجلَه الَّتي يمشي بها ، وإن سألني لأُعطينَّه ، ولئن استعاذني لأُعيذنَّه ، وما تردَّدتُ عن شيءٍ أنا فاعلُه ترَدُّدي عن نفسِ المؤمنِ ، يكرهُ الموتَ وأنا أكرهُ مُساءتَه

“Sesungguhnya Allah berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi wali (kekasih)-Ku maka sungguh Aku telah mengumumkan peperangan kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (amal shaleh) yang lebih Aku cintai dari pada amal-amal yang Aku wajibkan kepadanya (dalam Islam), dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal tambahan (yang dianjurkan dalam Islam) sehingga Aku-pun mencintainya.
Lalu jika Aku telah mencintai seorang hamba-Ku, maka Aku akan selalu membimbingnya dalam pendengarannya, membimbingnya dalam penglihatannya, menuntunnya dalam perbuatan tangannya dan meluruskannya dalam langkah kakinya. Jika dia memohon kepada-Ku maka Aku akan penuhi permohonannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan berikan perlindungan kepadanya.
Tidaklah Aku ragu melakukan sesuatu yang mesti aku lakukan seperti keraguan untuk (mencabut) nyawa seorang yang beriman (kepada-Ku), dia tidak menyukai kematian dan Aku tidak ingin menyakitinya”
(Hadits sahih riwayat Imam Bukhari).
Dari hadits qudsi di atas dapat kita pahami bahwa jika seseorang memusuhi seorang Waliyullah, yaitu seorang ulama yang juga kekasih Allah, dengan memfitnah, membenci atau menyakitinya sama saja dengan mengumumkan atau menyatakan perang, permusuhan kepada Allah SWT.
Yang dimaksud menyatakan perang sama dengan menantang Allah SWT untuk memerangi diri orang yang memfitnah, membenci atau menyakiti ulama yang kekasih Allah ini.
Selain itu, seorang ulama yang kekasih Allah juga dapat mencelakakan orang yang memfitnah, membenci dan menyakitinya dengan doa yang dipanjatkannya sebab doa seorang ulama kekasih Allah pasti Allah kabulkan.
Karenanya, jangan sekali-kali memfitnah, membenci atau menyakiti seorang ulama yang kekasih Allah sebab yang kerugian dan mudharatnya jelas kepada dirinya, bukan kepada ulama tersebut.
Agar tidak perlu sibuk dengan urusan untuk mencap seseorang itu ulama kekasih Allah atau hanya mendapat label ulama saja dari masyarakat namun bukan kekasih Allah karena perkara tersebut tidak dapat diukur dari penampilan luar dan amal yang terlihat dari seseorang.
Yang patut diingat, jika seseorang menyakiti, menganiaya atau menzalimi seorang Muslim yang awam, yang bukan ulama, lantas dia berdoa, maka doanya tidak ada hijab antara dirinya dengan Allah SWT persis seperti doa kekasih Allah.
Ini sebagaimana bunyi hadits dari Muadz bin Jabal, Rasulullah bersabda:

اِتَّقِ دَعْوةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ “

Takutlah kepada doa orang-orang yang teraniyaya, sebab tidak ada hijab antaranya dengan Allah (untuk mengabulkan).”
(hadits sahih riwayat Imam Muslim).

(*

Kekasih akan melihat pengorbanan kekasihnya itu.
Pada makalah kesebelas dalam kitab “Nashaih Al-Ibad” diterangkan bahwa Nabi Ibrahim AS ketika ditanya, “Sebab apa kamu menjadi kekasih Allah (khalilullah)?”
Ia menjawab, “Sebab tiga hal. Yang pertama, aku mendahulukan perintah Allah dari pada perintah selain-Nya. Kedua, aku tidak pernah susah atas apa yang sudah menjadi tanggungannya Allah SWT. Dan ketiga, aku tidak pernah makan sore dan sarapan kecuali bersama dengan tamu.”
(Syekh Nawawi Al-Bantani, Nashaih Al-Ibad, Beirtu-Libanon: Darul Kutub Al-Ilmiah, 2013, h. 23).

Dari jawaban Nabi Ibrahim AS di atas, maka dapat dijabarkan sebagai berikut:
Pertama, syarat menjadi kekasih Allah adalah harus mendahulukan perintah Allah SWT dan menomor sekiankan perintah dan tugas yang lainya.
Dalam kenyatannya, memang seorang kekasih itu harus selalu dinomorsatukan.
Sebab inilah bukti cinta yang tulus.
Ketika seseorang sudah setiap waktu mendahulukan kekasihnya, maka secara otomatis kekasihnya akan mencintainya. Kekasih akan melihat pengorbanan kekasihnya itu.
Inilah kenapa Nabi Ibrahim mendapat gelar khalilullah.
Dan pengabdian hidupnya hanya untuk Allah semata. Sebagaimana firman Allah SWT. “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
(QS Adz-Dzariyat: 56).

Kedua, “Aku tidak pernah susah atas apa yang sudah menjadi tanggungannya Allah SWT.” Pernyataan Nabi Ibrahim AS ini memberi pemahaman bahwa manusia hendaknya tidak perlu menyusahi apa saja yang sudah menjadi tanggung jawab Allah kepada hambanya, seperti urusan rezeqi.
Keberadaan kita di dunia ini bukan kehendak kita, melainkan diadakan oleh Yang Mahaada. Eksistensi kita pun akan senantiasa dijaga oleh-Nya. Karena Ia yang mengadakan kita, maka Ia pula yang akan menanggung kita.
Allah berfirman: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.”
(QS Huud: 6).

Rezeki manusia itu berada pada genggaman-Nya. Jadi tidak perlu susah esok makan apa.
Pasti itu sudah ada pada ketentuan Allah SWT.
Nabi Ibrahim AS mengajarkan kemurnian tauhid. Artinya, manusia hendaknya menggantungkan hidupnya hanya kepada Allah, bukan pada kekuatannya sendiri. Karena Dialah yang maha dimintai segalanya. Jika manusia menggantungkan hidupnya pada dirinya sendiri, maka akan rapuh karena keterbatasannya.

Ketiga, alasan gelar “kekasih Allah” yang disematkan kepada Nabi Ibrahi AS adalah Ia tidak pernah makan kecuali bersama tamu.
Artinya Nabi Ibrahim AS adalah orang yang sangat dermawan. Bahkan dikisahkan, ia rela berjalan satu sampai dua mil mencari kawan untuk diajak makan bersama. Kedermawanan menjadi penyebab ia dicintai Tuhannya.

Dalam pandangan Allah, kesalehan individu belum cukup untuk menjadikan manusia layak dicintai Tuhan, melainkan ia harus mempunyai kesalehan sosial, kepedulian dengan lingkungannya, dan kepekaan dengan masalah-masalah sosialnya.
Alhasil, jika kita ingin dicintai Allah jadilah hamba yang total mencintai-Nya.

@drr0