Kategori
Artikel

Tiada seorang pun yang menyangsikan pentingnya sahabat atau teman

 

Oleh : Dhedi Razak

Busurnews.com , JAKARTA —Tiada seorang pun yang menyangsikan pentingnya sahabat atau teman.
Masalahnya, dengan siapa kita semestinya bersahabat dan apa motivasi utama dari persahabatan itu.
Persahabatan seperti apa yang bisa menjerumuskan ke dalam neraka?

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ
عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Sahabat-sahabat karib pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.”
(QS az-Zukhruf: 67).
Berdasarkan ayat di atas, mengapa orang-orang yang berkawan karib di dunia bisa menjadi musuh di akhirat?
Jawabannya, karena persahabatan dalam bermaksiat dan kekufuran kelak akan menjadi permusuhan di hari kiamat.
“Sesungguhnya, permusuhan para teman karib disebabkan oleh motivasi pertemanan itu,” kata Sayyid Qutb dalam Fi Dhilalil Quran. Beliau menafsirkan bahwa mereka di dunia bersekutu dalam kejahatan, antara satu dengan yang lain saling menyokong dalam kesesatan.
Pada hari kiamat mereka saling memusuhi dan saling menyalahkan. Padahal, dulunya mereka sahabat kental sekali.
Dalam pandangan ahli hikmah, persahabatan itu terkait dengan cinta. Cinta itu lahir karena ada keyakinan kita bisa memperoleh kebaikan atau menolak keburukan. Kapan saja keyakinan itu terwujud, niscaya cinta itu akan hadir. Ketika keyakinan tadi malah membawa keburukan, hasilnya adalah kebencian. Kebaikan-kebaikan yang mendatangkan cinta sifatnya langgeng. Cinta itu tak berubah sampai hari kiamat.
Namun, persahabatan atas dasar cinta bagaimana yang paling ideal?
Jawabannya, menurut Imam Al-Ghazali, persahabatan yang abadi didasari oleh mahabbah fillah, yaitu cinta pada seseorang bukan karena orangnya, melain kan karena sisi-sisi ukhrawi darinya. Seperti mencintai guru karena dialah perantara memperoleh ilmu dan memperbaiki amal.
Maksudnya, ilmu dan amal yang membawa keselamatan di akhirat. Mencintai siswa, karena berkat dia, guru bisa mengamalkan ilmunya, termasuk mahabbah fillah. Orang yang bersedekah dengan memasak makanan yang lezat lalu mengundang tamu-tamu menyantap di rumahnya.
Niatnya semata-mata taqorrub ilallah termasuk mahabbah fillah. Menikahi seorang wanita untuk menjaga kesucian diri, terhindar dari godaan setan agar agamanya terpelihara, agar lahir anak-anak yang saleh, dan dia mencintai istrinya sebagai alat untuk mencapai semua tujuan itu, termasuk juga mahabbah fillah. Rasul SAW bersabda:

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يُخَالِل

“Seseorang dinilai dari agama sahabatnya, hendaklah kamu menilai dengan siapa ia bergaul.”
(HR Ahmad dan Abu Daud).

Benar sekali, menilai kapasitas, karakter, dan kualitas agama seseorang, cukup lihat siapa sahabat-sahabatnya.
Hari ini kita melihat, motivasi pertemanan sekadar menambah kenalan dan relasi.

Jarang sekali ada motivai
tawasi bil haq wa tawasi bish shobr
(saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran

 

@garsantara