Kategori
Artikel

Ternyata Akar Pemurtadan Umat Ada Sejak Era Rasulullah

 

 

Oleh : Dhedi Razak

Busurnews.com , JAKARTA — Ternyata Akar Pemurtadan Umat Ada Sejak Era Rasulullah
Fakta-fakta pemurtadan pernah terjadi pada masa Rasulullah dan sahabat.
Sejarah tentang adanya upaya pemurtadan umat Islam oleh pihak lain melalui kekerasan dan penyiksaan fisik.
Pada awal Islam.
Bilal bin Rabbah dipaksa Umaiyah bin Khalaf agar meninggalkan keyakinan Islam.
Karena tak mau menggubris titah majikannya, Bilal diperlakukan secara kasar.
Ia ditelentangkan di atas padang pasir yang panas, dihimpit dengan batu besar, dan dipukuli.
Tapi, Bilal tetap pada imannya, dari mulutnya keluar kata Ahad, Allah Mahaesa.
Atas kekuasaan dan pertolongan Allah SWT, upaya pemurtadan terhadap Bilal menjadi gagal setelah datang Abu Bakar yang membeli dan lalu memerdekakan Bilal dari tangan Umaiyah.
Korban upaya pemurtadan lainnya adalah Amar bin Yasir. Ia dipaksa sejumlah kafir Quraisy untuk mendustai ajaran Islam yang dibawa Rasulullah SAW.
Bila tidak mau, Amar diancam akan dibunuh seperti yang telah diperlakukan kepada ayah dan bundanya di depan mata kepalanya sendiri.
Tak tahan siksaan, Amar menuruti kehendak mereka. Ia mengucapkan kata-kata yang membantah kebenaran Islam, sehingga ia dilepaskan.
Merasa berdosa, Amar bin Yasir segera menemui Rasulullah SAW untuk mengakui kesalahannya.
Tapi, Rasulullah membenarkan tindakan Amar, karena wahyu Allah telah turun menjelaskan duduk persoalannya.

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

”Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah beriman (mendapat siksa), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa). Tapi, orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.”
(An-Nahl: 106).

Berarti pemurtadan terhadap Amar bin Yasir juga gagal.
Bahkan, sebelumnya upaya pemurtadan itu justru dilancarkan orang-orang kafir kepada Muhammad SAW yang membawa risalah Allah SWT.
Mula-mula dengan mendekati dan mau memperalat paman Nabi, Abu Thalib, yang bukan Muslim, akan tetapi tidak mempan karena pamannya itu meski tidak Muslim senantiasa membela pribadi Muhammad.
Berikutnya Muhammad SAW diajak kompromi menyembah Tuhan kafir Quraisy, Latta dan Uzza, dan pada waktu bersamaan menyembah Allah SWT.
Lalu turunlah surat Al-Kafirun:

قُلْ يٰٓاَيُّهَا الْكٰفِرُوْنَۙ لَآ اَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَۙ وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۚ وَلَآ اَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدْتُّمْۙ وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۗ لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ

”Katakanlah, ‘Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku’.”
Lalu, kafir Quraisy memusuhi dan memerangi Rasulullah.

@drr