Terasingkan Kebudayaan dan Kepercayaan

Bukan motivasi yang dibutuhkan oleh masyarakat saat ini, situasi yang semakin membentuk budaya baru untuk lebih mengerem gaya hidup masyarakat jadi lebih modern. Meninggikan ego memang sudah terlihat, tarik urat untuk menjelaskan budaya yang tidak bisa dilepaskan, wajib dilakukan dan tak bisa terhapuskan.

Oleh Zuliana

Memaknai bulan ramadan dan hari raya oleh masyarakat tentunya memiliki catatan tersendiri. Mulai dari kuliner yang khas hingga mudik sudah jadi satu ciri masyarakat muslim Indonesia. Bukan hal yang aneh bulan ramadan memiliki atmosfir yang berbeda dibanding bulan bulan lainnya. Desakan demi desakan saat pandemi merupakan sebuah ujian bagaimana setiap individu melangkah dengan penuh kehati hatian. Pandemi yang belum usai tentunya menjadi momen untuk diberikan lebih kesabaran. Pada kenyataanya, hal tersebut sangat sulit untuk di temui, entah budaya yang memang sudah kepalang mendarah daging, masyarakat kian tak peduli untuk menjaga satu sama lain untuk menumbuhkan kepercayaan berada di ruang publik.

Bukan motivasi yang dibutuhkan oleh masyarakat saat ini, situasi yang semakin membentuk budaya baru untuk lebih mengerem gaya hidup masyarakat jadi lebih modern. Meninggikan ego memang sudah terlihat, tarik urat untuk menjelaskan budaya yang tidak bisa dilepaskan, wajib dilakukan dan tak bisa terhapuskan. Rasa geram yang teramat sangat menjauhkan dari sakralnya bulan Ramadan, pada kenyataannya memaknai bulan Ramadan bukanlah seperti hal yang sepantasnya dapat memberikan pelajaran lebih baik di bulan bulan kedepannya, menjadi bulan yang hanya berlalu sebagai bulan dengan atmosfir musiman yang terlihat lebih religius. Perasaan yang terus mengambang di tengah arus gelombang yang masih menjadi pesakitan, duduk tenang jadi aktivitas yang benar sulit dilakukan oleh siapapun, memaknai kembali bulan Ramadan yang seharusnya menjadi momen untuk bersyukur, bersabar, dan mengevaluasi diri menjadi bulan yang hanya dimaknai oleh ragam kuliner musiman dan perayaan dengan melekatkan tradisi berdesak desakan saat berberanja dan mudik ke kampung halaman.

Manusia yang berakal bisa jadi jauh tidak bijak, penuh penyesalan di akhir, dan melakukan banyak kesalahan di hari hari selanjutnya. Harga diri yang dikorbankan dari citra yang ditunjukan dan ditujukan ‘masih manusia’, saat masa keemasan telah usai kini waktunya untuk taat dan lebih ketat dalam beribadah berharap semua kesalahan termaafkan hanya dalam waktu semalam, namun esok bilamana hari dimulai kembali, kesalahan tersebut mungkin dilakukan lagi sampai seterusnya, tabiat mesra individu selalu dikaitkan dengan ‘cara’ memakai kepercayaan untuk berulang ingin terus dimaklumi dan termaafkan merupakan budaya masyarakat yang kian jauh dari ‘paham’ untuk membuat kami percaya pada diri sendiri. Ramadan bukan ajang untuk mengubah orang lain untuk menjadi lebih religius, namun mengevaluasi diri sendiri yang sebenar benarnya. Begitu pula para pemenang yang seharusnya muncul karena dapat memaafkan diri dan mau berubah jadi lebih baik.

Bulan Ramadan harusnya jadi bulan untuk kita berhenti sejenak, cukup menjadi ‘manusia’ untuk  lebih memaknai. Masih berada ditengah tengah kebingungan dan perubahan situasi yang dinanti nantikan. Gaya hidup masyarakat yang lebih modern kian di idamkan, masyarakat yang memiliki gaya dinamis dan lebih sadar akan ‘makna’ dibanding hal yang dapat terlihat oleh mata. Gaya hidup masyarakat modern yang lebih paham cara memaknai bulan Ramadan dengan lebih dewasa, tanpa mengorbankan asa. Seyogyanya generasi millennials dapat menggantikan hal yang terlanjur melenceng dari hal yang sebenarnya bisa jadi lebih baik lagi dimasa yang akan datang.

Pendidikan menjadi ujung dari apa dan bagaimana memaknai kepercayaan, seperti apa yang terlihat, dan dapat tesentuh oleh perasaan individu, bahwa ‘kepercayaan’ tidak dapat dipaksakan, menjadi ‘berumur’ tidak menjamin bisa dan mampu menjadi lebih baik, begitu pula pertanggung jawaban yang dipertontonkan meski pengalaman yang pernah dirasa sudah menggunung. Segala hal yang dianut memiliki banyak sisi yang mudah diikuti juga mudah ditinggalkan bila jauh melenceng dari makna sesungguhnya. Budaya baru masyarakat yang syarat melunturkan makna dapat menghilangkan ciri dari ‘kepercayaan’ dan berubah menjadi ‘ketidak percayaan’ hingga bulan Ramadan dan Hari Raya hanya dimaknai hanya sebatas ‘kiasan religius’ dan ‘musiman’. Berharap untuk berhenti dan befrikir sejenak dampak dari apa yang diperlihatkan oleh gaya hidup masyarakat, hingga berharap harap budaya baru masyarakat yang direm oleh pandemi dapat menjadi pelajaran dan menjadi satu pola baru untuk lebih modern yang dapat diadopsi oleh masyarakat, Masyarakat baru yang mengerti dan bijak dalam untuk mempelajari dan paham bahwa mental pemenang hanya muncul dalam diri sendiri saat mengalahkan ego diri, lawan kata ‘musiman’ dengan hal yang ‘pasti’.