Kategori
Artikel

Teori Paradigma,Hingga Peralatan Epistemologis Sampai Bahasa Sebagai Kekuatan Komunikasi

 

Oleh : Dr. Dhedi Rochaedi Razak, S.HI, M.Si

Busur News Com, Jakarta –Teori, paradigma, hingga peralatan epistemologis sampai bahasa sebagai kekuatan berkomunikasi banyak kita tangkap, tidak hanya di tingkat permukaan saja, tapi juga praktikkan secara keliru.

Umumnya, jika tidak eklektik ya sinkretik alias utak-atik gatuk.

Mau itu benar atau tidak, valid atau tidak, asal sudah dibumbui oleh teori, bahkan sekadar kutipan orang bule, kita anggap saja kesimpulan, analisis, sampai pernyataan itu ilmiah, absah, bahkan benar.

Inilah penjelasan yang dapat kita bersama melihat hasil-hasilnya di tengah hidup kita:
*pernyataan palsu, pidato keliru dan dusta, hingga kaum ilmuwan yang besar dan bergengsi padahal keliru* (fake). –

 

*Maka, bila kesadaran kewarganegaraan sebagai jati diri kita berbangsa, jika dulu pernah ada dan hidup di antara bangsa kita yang sedang berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan, hari ini sesungguhnya telah pupus*.

Terbunuh cepat atau pelan-tapi-pasti oleh kita sendiri yang lebih memilih, atau gandrung dan bahkan merasa tersanjung oleh ukuran-ukuran global (universal?)
yang menjadi penumpang
(sembunyi atau terang-terangan)
dalam pergaulan internasional baik lewat medium tradisonal maupun modern (virtual, ie media sosaial, dll).

*Ajaib dan ‘syukur’-nya, pihak pemerintah, elite dan obligor utama konstitusi kita, bukan saja tidak sadar, melainkan juga tidak mafhum, bahkan seperti melakukan pembiaran*. –

 

(Riena)