Tawakal merupakan salah satu amalan penting orang beriman

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews. com, JAKARTA. —:
Tawakal merupakan salah satu amalan penting orang beriman

Tawakal menjadi kata yang tidak asing diungkapkan masyarakat Indonesia atau Umat Islam khususnya.

Seringkali kata ini keluar saat seseorang menghadapi kondisi tertentu, seperti saat menunggu hasil ujian sekolah, menunggu panggilan kerja atau kondisi menentukan lainnya.

Namun sebenarnya apa makna dari tawakal yang menjadi satu ajaran dalam Islam ini?
Apa penjelasan para ulama mengenai tawakal?.
Berikut berbagai pengertiannya:

Seorang ulama besar Islam, Imam Ahmad mengatakan tawakal berkaitan erat dengan hati.
Tawakal bukan sekadar dari ucapan lidah, bukan pula masalah pengetahuan dan persepsi.
Menurutnya, di antara manusia ada yang menjadikannya ilmu dan mengartikannya sebagai ilmu hati untuk mencukupkan Tuhan sebagai semua kebutuhan seorang hamba.
Didefinisikan juga tawakal adalah menjatuhkan hati hanya kepada Tuhan, selayaknya mayit di tangan orang yang memandikannya, dibasuh sesuka hatinya.
Ini berarti meninggalkan pilihan, dan menghanyutkan diri kepada jalan takdir.

Ulama lain, Sahl berkata tawakal adalah kerelaan mengikuti alur hidup seperti yang Tuhan inginkan.
Diartikan juga sebagai ridha, yakni ridha dengan apa yang akan terjadi.

Menurut Bishr Al Hafi, seseorang tergolong berbohong mengatakan bertawakal kepada Alah SWT, jika dia tidak puas dengan apa yang Tuhan lakukan.

Ulama lain, Yahya bin Muadz saat ditanya tentang kapan seseorang tergolong bertawakal. Dia lalu berkata, “Saat seseorang telah ridha Allah SWT sebagai pengaturnya.

Beberapa ulama ada yang mengartikan tawakal sebagai keyakinan yang kuat kepada Tuhan, berfokus kepada-Nya dan tenang atas semua keputusan-Nya.
Ibnu Atha berkata, “Tawakal membuat seseorang tidak tampak terganggu oleh sebab-sebab (takdir Tuhan) meskipun Anda sangat membutuhkannya.”

Dzun Nun berkata, “Tawakal adalah pengabaian diri sebagai pengendali dan memindahkan kekuatan dan kekuasaan kepada-Nya.  Seorang hamba akan bertawakal  jika mengetahui bahwa Allah SWT Mahamengetahui dan melihat seorang hamba.”

Pengertian lain juga disebutkan bahwa tawakal adalah melekatkan diri kepada Tuhan dalam setiap situasi.
Dzun Nun juga berkata, tawakal adalah menghapus penguasaan diri.  Memotong keterikatan hati kepada hal-hal lain selain Allah SWT.
Tawakal dijelaskan sebagai mengembalikan kebutuhan diri kepada sumbernya, maka jangan meminta kecuali kepada yang Maha mencukupi kebutuhan.
Sehingga pengertian lain juga menyebut tawakal sebagai penolakan segala bentuk keraguan dan memasrahkan diri kepada Tuhan.

Abu Said Al Kharraz mengatakan, “Tawakal adalah turbulensi tanpa keheningan, dan keheningan tanpa turbulensi.” Menurutnya, pergerakan seorang hamba secara lahiriah dan batiniah, tidak menghentikan kepuasan atas takdir-Nya.

Abu Turab An Nakhhabi mengatakan tawakal adalah penyerahan tubuh sebagai hamba-Nya, keterikatan hati pada Tuhan, ketenangan pikiran dan merasa cukup.
Maka dia menjadikan tawakal adalah gabungan dari lima perkara, yakni beribadah, keterikatan hati pada rencana Tuhan, ketenangannya pada ketetapan dan takdir-Nya, tenang dan merasa cukup, rasa syukur ketika diberikan, dan kesabaran ketika tidak diberikan.

Sahl bin Abdullah menjelaskan, tawakal adalah putusnya ikatan hati dengan selain Allah. Saat ditanya tentang tawakal lagi,  dia berkata bahwa tawakal adalah Hati yang hidup dengan Tuhan.

Sedangkan Abu Ali Al Daqqaq membagi hal ini menjadi tiga derajat, yakni tawakal,taslim (penerimaan), dan tafwidh (berserah diri). Tawakal adalah derajat awal, taslim adalah yang kedua dan berserah diri adalah tingakatan tertinggi.
Disebutkan tawakal adalah sifat orang-orang yang beriman, dan taslim adalah sifat para wali dan tafwid adalah milik para orang-orang mulia. Sehingga disebutkan juga tawakal adalah sifat para nabi, penerimaan adalah sifat Ibrahim sang Khalil, dan berserah diri adalah sifat Nabi kita Muhammad SAW.
(*

Rasulullah SAW mengajarkan umatnya tak gampang meminta-minta

Pada saat seseorang masih memiliki tenaga untuk berusaha, maka Islam menganjurkannya untuk dapat bekerja memenuhi kebutuhan hidupnya.
Sementara meminta-minta, ada banyak hadits yang melarang perbuatan ini.
Rasulullah ﷺ telah banyak menyebutkan larangan meminta. Sebaliknya, beliau memerintahkan umatnya untuk bekerja.
Dalam sebuah hadits disebutkan, Rasulullah ﷺ bersabda:

أن يحتطب أحدكم حزمة على ظهره، خير له من أن يسأل أحدا فيعطيه أو يمنعه ”

Sungguh, seorang yang bekerja memikul seikat kayu bakar di punggungnya, itu lebih baik daripada iameminta-minta kepada orang lain, apakah orang itu memberinya atau tidak memberinya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Sementara, Auf bin Malik Al Asyjai, dia berkata, “Kami pernah berada dekatRasulullah SAW selama sembilan atau delapan atau tujuh hari. Saat kami hendak berpisah, beliau bersabda, “Apakah kalian tidak berbaiat kepada Rasulullah?” Ketika itu kami baru saja berbaiat kepada beliau, maka kami pun menjawab, “Sesungguhnya kami telah berbaiat kepadamu wahai Rasulullah.”
Kemudian beliau bertanya lagi: “Apakah kalian tidak berbaiat kepada Rasulullah?” kami menjawab, “Sungguh, kami telah berbaiat kepada Anda wahai Rasulullah.”
Beliau mengulangi pertanyaannya, “Apakah kalian tidak berbai’at kepada Rasulullah?” Maka kami pun mengulurkan tangan sambil berujar, “Sesungguhnya kami telah berbaiat kepada Tuan, lalu atas apa lagi kami berbaiat kepada Tuan wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Bahwa kalian akan menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun juga, akan menegakkan shalat lima waktu, akan berlaku patuh kemudian beliau melirihkan perkataannya, “Dan tidak akan meminta sesuatupun kepada orang banyak.”
Auf berkata, “Aku pernah melihat sebagian dari mereka itu suatu saat cambuknya jatuh, tetapi dia tidak meminta tolong sedikit pun kepada orang lain untuk mengambilkannya.” (HR Muslim).
Bahkan orang yang tidak gampang meminta-minta diberikan jaminan surga kepadanya.

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ وَكَانَ ثَوْبَانُ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَكْفُلُ لِي أَنْ لَا يَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا وَأَتَكَفَّلُ لَهُ بِالْجَنَّةِ فَقَالَ ثَوْبَانُ أَنَا فَكَانَ لَا يَسْأَلُ أَحَدًا شَيْئًا

Dari Tsauban mantan budak Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam, dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapakah yang menjamin untukku untuk tidak meminta-minta sesuatupun kepada orang lain, dan aku menjaminnya masuk Surga? Tsauban berkata; saya! Dan Tsauban tidak pernah meminta sesuatupun kepada orang lain
(HR Abu Daud).

Kemudian juga Rasulullah ﷺ  memerintahkan Abu Dzar untuk melakukan tujuh hal yaitu sebagai berikut:

أَمَرَنِي بِحُبِّ الْمَسَاكِينِ، وَالدُّنُوِّ مِنْهُمْ، وَأَمَرَنِي أَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ دُونِي، وَلَا أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقِي، وَأَمَرَنِي أَنْ أَصِلَ الرَّحِمَ وَإِنْ أَدْبَرَتْ، وَأَمَرَنِي أَنْ لَا أَسْأَلَ أَحَدًا شَيْئًا، وَأَمَرَنِي أَنْ أَقُولَ بِالْحَقِّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا، وَأَمَرَنِي أَنْ لَا أَخَافَ فِي اللهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ، وَأَمَرَنِي أَنْ أُكْثِرَ مِنْ قَوْلِ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، فَإِنَّهُنَّ مِنْ كَنْزٍ تَحْتَ الْعَرْشِ

“Tujuh itu ialah, mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, memperhatikan orang-orang yang di bawahku dan tidak melihat siapa yang ada di atasku, menyambung tali silaturahim (yang masih ada hubungan saudara) meski saudara tersebut bersikap kasar, tidak meminta-minta pada seorang pun, mengatakan yang benar meski pahit, tidak takut terhadap celaan saat berdakwah di jalan Allah, memperbanyak ucapan ‘laa hawla wa laa quwwata illa billah’ karena kalimat ini termasuk simpanan di bawah ‘Arsy.”
(HR Ahmad).

@garsantara