Tangkal Radikalisme Tanamkan Nasionalisme Dan Empat Pilar Kebangsaan

 

BusurNews,Com,Jakarta – “Maraknya isu tentang kebangkitan komunisme di Indonesia menjelang peringatan G-30-S/PKI menjadi penanda bahwa esensi dari nilai-nilai kebangsaan Nasionalisme tampak nya tergerus , sebagaimana yang diajarkan Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika

Maka kegiatan sosislidasipun perlu di lakukan terus agar dapat menjadi pedoman bagi kehidupan masyarakat,” hal yang demikian di jelaska DR HC Zulkipli Hasan
di Jakarta,Gedung Juang 45 Jalan Menteng Raya NO 13 Jakarta pusat

Di kesempatan yang sama Wizdan Fauran Lubis SE menjelaskan Keempat pilar tersebut harus menjadi karakter dan fondasi yang kukuh untuk menangkal paham-paham komunisme, liberalisme, terorisme, dan radikalisme, serta paham-paham lain ,yang jelas tidak sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.
Ujar Wizdan Fauran Lubis yang juga ketua Umum DPP ,GPA (Gerakan Pemuda Alwashliyah )
sabtu 30/9/2017 dengan jelas.

Lebih tegasnya Widzan Fauran Lubis SE ” Segala hal yang berbau komunisme atau PKI merupakah hal yang terlarang di Indonesia, selaras dengan TAP MPRS No. 25 Tahun 1966 tentang kedudukan hukum pembubaran PKI dan ajaran-ajaran komunisme.

Pada ketentuan itu disebutkan secara tegas bahwa keberadaan PKI di Indonesia dilarang, kemudian pada TAP MPR No.1 Tahun 2003 diperkuat kembali bahwa TAP MPRS No. 25 Tahun 1966 tersebut masih berlaku hingga sekarang.
Terahir kata Wizdan Lubis
Empat pilar kebangsaan, menurut dia, sangatlah penting, bukan hanya untuk dihafal dan diingat, tetapi juga harus dipraktikkan dengan sungguh-sungguh ,agar cara pandang, cara bersikap, maupun berperilaku, semuanya mencerminkan nilai keindonesiaan.

” Ia berharap kegiatan sosialisasi empat pilar itu dapat menjadi bekal bagi masyarakat agar tidak mudah terpengaruh terhadap paham-paham yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945, khususnya paham komunisme.

Perlu di ketahui bahaya komunisme, bagi masyarakat khususnya para pemuda sebagai generasi penerus kepemimpinan bangsa dinilai harus mampu membentengi diri dari efek buruk globalisasi yang dapat menyebabkan lunturnya nilai-nilai budaya, kekeluargaan, musyawarah mufakat, gotong royong yang kemudian perlahan berganti menjadi sikap individualistis, kebarat-baratan, serta hidup bebas dan konsumtif.

Tapi meskipun demikian Globalisasi,tidak sepenuhnya buruk, terdapat juga nilai positif seperti etos kerja yang tinggi, budaya disiplin, dan budaya bersaing positif.

Namun, untuk memfilter dampak buruk dari globalisasi tersebut, pemuda perlu lebih mengenali dan menanamkan nilai-nilai keindonesiaan yang itu direpresentasikan melalui empat pilar kebangsaa,pungkasnya(an)