Tak Hanya Isaac Newton Yang Menemukan Ide Besar Hukum Gravitasi Sewaktu Terjadi Musibah

 

Oleh : Dhedi Razak

Busurmews.com, JAKARTA — Tak hanya Isaac Newton yang menemukan ide besar hukum gravitasi sewaktu terjadi musibah.

Ternyata banyak karya besar yang lahir dalam situasi ini.
Bahkan, dahulu pada zaman Orde Baru sebagian orang mengatakan karya monumental justru lahir dalam suasana terkekang.
Dalam suasana sepi dan menyindiri, ide dan pikiran bisa mengarungi sampai tembus ke langit tingkat tujuh.

Lagi pula, harus diingat pula, Nabi Muhammad SAW mendapat wahyu juga tidak di tengah suasana keramaian.
Nabi juga tak menerima wahyu di tengah Pasar Malam Ukaz yang penuh geriap dan sajak para penyair kala itu.
Rasulullah menerima itu semua di tempat sepi, jauh dari keramaian.
Nabi saat itu berada di sebuah gua yang ada di dekat Makkah, Gua Hira.

Salah satu contoh paling mutakhir soal sejenis ini adalah lagu Ebiet G Ade “Berita Kepada Kawan”. Lagu ini ditulis setelah bencana asap beracun di kawah yang ada di kawasan pegunungan Dieng.

Banyak orang menjadi korban dari keganasan asap beracun itu. Publik kala itu, sekitar tahun 1979, gempar.

Dari pengakuan Ebiet dalam banyak kesempatan, dia membuat lagu itu saat tinggal di Yogyakarta. Kebetulan ayahnya adalah salah satu camat di sana.

Mendengar berita tersebut, Ebiet yang kala itu sudah mulai terkenal dan acap kali bernyanyi berduet dengan Emha Ainun Nadjib tergerak menuangkan kepeduliannya dalam sebuah syair yang kemudian dia nyanyikan.

“Ide ya mengalir begitu saja. Isinya keprihatinan saya,” kata Ebiet dalam perbincangan di rumahnya pada sebuah sore. Kisah ini juga bisa ditemui pada berbagai tayangan video di Youtube dan artikel lainnya yang bercerita tentang sosok penyanyi kelahiran Wanadadi, Banjarnegara, ini.

****

Lagu abadi yang lain yang berkisah tentang kepedihan juga ada. Misalnya lagu “Glommy Sunday”. Lagu ini lagu ini digubah oleh Rezso Seress, seorang pianis dan komposer yang lahir di Hungaria pada 1889 dengan nama Rudolf Spitzer.

Di negara asalnya, yakni Hungaria, bahkan Eropa, lagu ini dituduh sebagai lagu pemicu banyak orang untuk bunuh diri. Secara sekilas lagu ini juga terkait dengan wabah yang terjadi pada dekade itu, sekitar tahun 1930-an, yakni dekade setelah mengganasnya flu Spanyol pada tahun 1918-1920-an. Ada juga penderitaan lain, yakni Perang Dunia I dan krisis ekonomi.

Kala itu disebut zaman malaise (depresi besar). Lidah orang Indonesia menyebut zaman “meleset”.

Sama dengan sekarang, kala itu ekonomi dunia bangkrut, termasuk ekonomi Hindia Belanda yang tiba-tiba komiditas perkebunannya tak laku di pasar internasional maupun Amerika.

Hindia Belanda kala itu bangkrut secara ekonomi.

Hal ini sangat berbeda dengan ekonomi Hindia Belanda yang dari tahun 1900 sampai akhir 1920-an gilang gemilang, yang oleh orang awam disebut sebagai “zaman normal”.

Syair lagu “Gloomy Sunday” seperti berikut.

Sunday is gloomy, my hours are slumberless.

Dearest, the shadows I live with are numberless.

Little white flowers will never awaken you,

Not where the black coach of sorrow has taken you

Angels have no thought of ever returning you.

Wolud they be angry if I thought of joining you?

Gloomy Sunday…

Lagu tersebut memang terkesan horor. Bahkan, terlacak bahwa si penulis lagu ini merupakan seorang keturunan Yahudi yang ditinggal kekasihnya. Namun, pada sisi lain, bila latar belakangnya dilihat, lagu ini juga merupakan cerita duka penderitaan keturunan Yahudi di Eropa kala itu yang dianggap warga paria karena dianggap tak lebih dari “binatang ekonomi” penghisap rakyat, tukang sihir karena berhidung bengkok, rentenir, dan sebutan buruk lainnya.

Di berbagai dokumen, lagu itu juga sezaman dengan kemunculan seorang pelukis gagal bernama Adolf Hitler yang lahir di Austria. Hebatnya, meski gagal sebagai seniman dan hanya menjadi prajuit rendahan, Hitler pada kemudian hari mampu menjadi kaisar (führer) di Jerman.

*****

Lagu lain yang senada adalah lagu yang lahir dari biduanita dunia musikcountry, Joan Baez, dengan lagu “Dona Dona”. Lagu ini juga menceritakan kisah horor pembantian kaum Yahudi di Eropa oleh kaum Nazi pimpinan Hitler.

Joan Baez mengidentikkan penderitaan manusia yang akan dibantai layaknya seekor sapi yang akan dibawa ke pasar hewan untuk dipotong. Uniknya lagi, meski tahu akan dibantai, sapi muda (calf) tak boleh mengeluh.

Syairnya di antaranya begini.

On a wagon bound for market

There’s a calf with a mournful eye

High above him there’s a swallow

Winging swiftly through the sky

How the winds are laughing

They laugh with all the their might

Laugh and laugh the whole day through

And half the summer’s night

Donna Donna Donna Donna
Donna Donna Donna Don

Donna Donna Donna Donna

Donna Donna Donna Don

“Stop complaining,” said the farmer

Who told you a calf to be

Why don’t you have wings to fly with

Like the swallow so proud and free

Jadi, itulah beberapa lagu abadi yang lahir atas penderitaan besar umat manusia.
Apakah nanti ada orang Indonesia yang bisa menulisnya:
Kita tanya pada rumput yang bergoyang?

Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan sayang engkau tak duduk di sampingku kawan banyak cerita yang mestinya kukatakan di tanah kering bebatuan

@drr