Sungguh, Ramadhan adalah bulan Alquran. Sebab, ia diturunkan pada malam penuh keberkahan, yakni Lailatul Qadar

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA —:Sungguh, Ramadhan adalah bulan Alquran.
Sebab, ia diturunkan pada malam penuh keberkahan, yakni Lailatul Qadar (QS ad-Dukhan [44]: 3, al-Qadr [97]: 1-5).
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang hak dan yang batil…”
(QS al-Baqarah [2]: 185).

Alquran diturunkan secara berangsur-angsur selama masa kenabian. Kadang, ia turun karena sebab kondisi sosial atau jawaban atas pertanyaan masyarakat (asbabun nuzul). Sebagian lagi turun semata pengajaran dan pedoman bagi umat Islam hingga akhir zaman.

Alquran merupakan panduan dan penjelas bagi segala sesuatu dalam kehidupan (tibyan ‘ala kulli syai’). Semua persoalan dan pedoman hidup, baik yang berkaitan dengan ritual (ibadah), sosial (mu’amalah) maupun natural (alamiyah), sudah termaktub di dalamnya. Oleh karena itulah, Alquran disebut kurikulum kehidupan (manhaj al-hayah).

Sementara, untuk petunjuk teknis operasionalnya, diutuslah seorang role model terbaik, yakni Nabi Muhammad SAW. Umat Islam tinggal mengikutinya sebagai aktualisasi Alquran, baik dalam sikap, ucapan maupun tindakan (sunah Nabi).
Beliau SAW laksana Alquran berjalan. “Kaana khuluquhu al-qur’an” (sungguh akhlaknya adalah Alquran). Demikian ditegaskan oleh Aisyah RA
(HR Muslim).

Ada tujuh keutamaan atau keuntungan menjadikan Alquran sebagai kurikulum kehidupan, yakni:
Pertama, bacaan Alquran adalah taufiqi, bukan ijtihadi (hasil pemikiran).
Artinya, cara membacanya sudah ditetapkan oleh Nabi SAW, sehingga akan sama pada semua umat Islam di manapun. Kelak, ia akan menjadi syafa’at bagi pembacanya (HR Muslim).

Kedua, Allah SWT telah memudahkan untuk membaca, menghafal, dan memahaminya (QS al-Qamar [54]: 17).

Ketiga, Alquran diturunkan sebagai wujud kasih sayang Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya. “(Allah) Yang Maha Pengasih telah mengajarkan Alquran. Dia menciptakan manusia. Dia mengajarinya pandai menjelaskan (QS a-Rahman [55]: 1-4).

Keempat, semakin sering membaca Alquran, maka semakin dekat dan cinta kepada Allah SWT. Bagi orang beriman, membaca dan mendengar lantunannya dapat menggetarkan hati dan menambah kekuatan iman (QS al-Anfal [8]: 2).

Kelima, Alquran adalah kitab suci yang memuat nasihat-nasihat ilahiyahsebagai obat dari penyakit hati, petunjuk dan rahmat bagi orang beriman (QS Yunus [10]: 57, al-Isra`[17]: 82).

Keenam, orang yang senang membaca dan mengamalkan kandungan Alquran tidak akan pernah merugi dalam hidupnya, baik di dunia maupun di akhirat kelak (QS Fatir [35]: 29).
Ketujuh, orang-orang yang terbaik adalah mereka yang tekun belajar dan mengajarkan Alquran
(HR Bukhari).
Itulah hakikat Alquran sebagai kurikulum kehidupan.

(*

Terdapat banyak Muslim yang sering kali mengaku mencintai Rasulullah SAW, namun tindakannya justru tak mencerminkan ajaran Nabi.
Lantas seperti apa ciri Muslim yang mencintai Rasulullah itu?
Syekh Aidh Al Qarni dalam buku “Sentuhan Spiritual” menjelaskan, orang Muslim yang mengaku sebagai kalangan Ahlu Sunnah sudah pasti taat dan patuh kepada ajaran Nabi Muhammad SAW. Sedangkan orang yang hanya mengaku mencintai Nabi, kata Syekh Aidh Al-Qarni, biasanya kerap berlaku inkonsisten, tanpa ibadah, tanpa adab, dan jauh dari kekhusyukan.
Dalam kisah-kisah terdahulu, golongan umat Yahudi yang mengaku telah mencintai Allah SWT, namun mereka tidak taat kepada Nabinya. Mereka semua mendapat teguran keras dari Allah, dan bahkan Alquran mengabadikan sikap mereka dalam surat Ali Imran ayat 31.
Allah SWT berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Qul in kuntum tuhibbunallaha fattabi’uniy yuhbibkumullahu wa yaghfir lakum dzunubakum wallahu ghafurun rahim.”

Yang artinya: “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’. Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”

Sehingga, dijelaskan, di antara kecintaan seorang hamba kepada Rasulullah adalah taat kepada sunahnya.
Kemudian mengukitu jalan yang ditunjukkan Nabi, dan melaju dalam petunjuknya.
Syekh Aidh Al Qarni mengingatkan, barangsiapa yang tidak mengikuti sunahnya baik itu secara ucapan, perbuatan, perlakuan, lahir maupun batin, itulah yang disebut sebagai sebesar-besarnya pendusta.
Naudzubillah.

Allahu a’lam bish-shawab.

(drr