Kategori
Artikel

Sudah ratusan tahun hingga saat ini, di Amerika Serikat lazim terjadi pembunuhan orang laki-laki ras Afrika-Amerika, baik yang berusia muda maupun tua.

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA — Sudah ratusan tahun hingga saat ini, di Amerika Serikat lazim terjadi pembunuhan orang laki-laki ras Afrika-Amerika, baik yang berusia muda maupun tua.
Ada 82 orang kulit hitam dibunuh Polisi AS. Sebagian korbannya bernama Tamir Rice, Botham Shem Jean, EJ Bradford, dan Michael Brown.
Yang paling mutakhir yang secara tragis bisa dicatat ialah Michael Dean, seorang ayah berusia 28 tahun, dan Jamee Johnson, seorang siswa HBCU pada Desember 2019.
Alasan yang diajukan polisi biasanya soal rasa takut mereka sekalipun terbukti korbannya itu ditembak dari belakang.
Demikian juga dengan Antwon Rose, berusia 13 tahun, dan Stephon Clark, 22 tahun, polisinya kemudian tidak ditahan sekalipun telah terbukti menggunakan senjata letal atau mematikan.
Seorang pengacara hak-hak sipil menulis tentang hal ini dalam buku Open Season dan menyebutnya sebagai pembunuhan atau genosida terhadap warga kulit hitam di Amerika Serikat.
Namun, yang seketika telah memicu konflik di negara-negara bagian ialah pembunuhan George Floyd oleh polisi Minneapolis.

Sensitif Mengapa semua ini menimbulkan kerusuhan di berbagai kota-kota AS?

Keadilan ialah soal yang teramat sensitif di masa pandemi covid-19 karena telah menimbulkan pengangguran dalam skala besar, kurang lebih 40 juta rakyat AS kini menjadi pengangguran.
Di samping itu, kenyataan bahwa 100 ribu lebih pasien covid-19 yang telah meninggal dunia tersebut mayoritasnya terdiri atas orang Afrika-Amerika.
Akhir-akhir ini, berbeda dengan politik kelompok kanan sebelumnya yang lebih peduli pada konservatisme sosial, politik sayap ultra kanan yang membawa Donald Trump menjadi presiden lebih cenderung otoriter, nativistik (rasialis), tamak, dan bernuansa nasionalisme ekstrem.

Hal ini tidak seperti apa yang dulu digambarkan Albert Hirschman bahwa ketamakan itu justru dianggap tidak berbahaya.
Kini, terbukti bahwa pemerintahan Presiden Trump terus-menerus berupaya membela kepentingan keluarganya ataupun kalangan terkaya di Amerika Serikat.
Hal itu menimbulkan kekhawatiran kalangan Partai Republikan bahwa akan terjadi perubahan dan mereka bisa kalah dalam Pemilihan Umum November 2020.
Menghadapi politik sayap ultra kanan Partai Republikan, kalangan sayap kiri Partai Demokrat meresponsnya dengan hadirnya Bernie Sanders dalam pemilihan umum pada 2016.
Upaya kandidat Sanders untuk melanjutkan pencalonannya pada 2020, sebelum kemudian mengundurkan diri.
Politik kelompok sayap kiri ini mendukung kesetaraan sosial dan egalitarianisme, antihierarki sosial, dan untuk mencapai rencana ini, lazim menggunakan tindakan-tindakan afirmatif (affirmative action).

Presiden Trump dalam pidatonya pada 29 Mei tidak menyebutkan apa pun tentang kerusuhan yang terjadi.
Baru pada 30 Mei saat berada di Kennedy Space Center di Cape Canaveral, Florida, Presiden Trump menyatakan bahwa kematian George Floyd itu merupakan sebuah tragedi.
Hal ini dipandang sebagai penyebab timbulnya kekhawatiran, kemarahan, dan kesedihan.
Namun, menurutnya, ingatan pada George Floyd ini kemudian dilecehkan para perusuh, penjarah, dan anarkis.
Presiden Trump langsung menuduh kelompok-kelompok sayap kiri yang telah membakar gedung-gedung serta melakukan protes yang menimbulkan kerusuhan dan penjarahan.
Presiden Trump sesungguhnya mirip dengan Presiden Herbert Hoover yang mengatakan ekonomi AS akan menjadi lebih baik, tapi tidak berbuat apa pun untuk mengatasi beban hidup warga AS yang menjadi semakin berat.
Hanya majelis rendah Kongreslah yang telah menghasilkan 400 undang-undang untuk membantu warga AS dan tampaknya tidak dipedulikan Presiden Trump.

Yang ia lakukan kemudian hanya membalas dendam atau menuduh tokoh tokoh media melalui aneka cerita konspirasi.
Selain itu, juga memerintahkan pembukaan perekonomian negara bagian sebelum ada kajian yang lengkap tentang risiko penularan virus korona.
Sejumlah besar para penasihatnya ialah para ABS (asal bapak senang). Sejak terpilih, Presiden Trump juga tidak pernah menunjukkan ketertarikan untuk memerintah Amerika Serikat secara baik.
Awal proses pembaruan politik Amerika Serikat itu beruntung karena memiliki kelompok liberal yang lazimnya diasosiasikan dengan kalangan sayap kiri Partai Demokrat.
Kelompok ini juga dikenal sebagai kelompok progresif.
Sebagai contoh, Wali Kota Atlanta Keisha Lance Bottoms yang menjadi sorotan publik karena pandai dan memberikan komentar terhadap Presiden Trump. Komentarnya ialah ‘Anda membuat persoalan ini menjadi lebih parah dengan mendorong ketegangan hubungan antarras’.

Ia juga menyatakan kepada para partisipan kerusuhan di Atlanta bahwa ‘apa yang terjadi di jalan-jalan Atlanta ialah bukan Atlanta.
Ini bukanlah sebuah protes, ini bukan dalam rangka menyemarakkan semangat Martin Luther King Jr, ini sesungguhnya adalah kekacauan (chaos)’.
Peter Wehner menulis di Journal the Atlantic bahwa kini warga Amerika Serikat sudah secara nyata melihat Presiden Trump itu sebagai the con man (seorang penipu) di belakang tabir.
David Frum berpendapat bahwa Presiden Trump tidak memiliki kehendak untuk mempelajari banyak isu, apalagi menjadi seorang yang ahli tentang isu tersebut.
Para pengamat menyatakan memang kesadaran warga Amerika Serikat ini baru wujud di paruh kedua masa jabatannya, tapi akhirnya krisis itu tiba dalam bentuk pandemi virus korona.

Presiden Trump dan administrasinya bertanggung jawab penuh atas kesalahan yang besar istimewa dalam soal kegagalan membuat pengkaji (tes) diagnostik, keputusan untuk tidak menambahkan laboratorium untuk tes di luar CDC (Centers for Disease Control and Prevention), dan mengatasi masalah rantai pasokan kebutuhan barang barang medis.

Upaya pembendungan dan mitigasi seharusnya bisa dilakukan untuk mengurangi kecepatan daya penularan virus korona sehingga akhirnya kesempatan tersebut pun sirna.
Para pengamat di Amerika Serikat menyimpulkan bahwa Presiden Donald Trump semakin melemah.
Yang lebih penting lagi, Presiden Trump itu karena telah terbongkar samarannya dan lebih terlihat sebagai a con man, akan cenderung semakin marah dan terdesak.
Presiden Trump pasti paham bahwa suasana tidak bisa dikembalikan seperti semula. Amerika Serikat membutuhkan seorang pemimpin baru yang akan terpilih pada November mendatang.
Warga Amerika kini membutuhkan sebuah bentuk kepemimpinan yang bisa membantu mengangkat segala permasalahan yang mereka hadapi saat ini.

Bagi Indonesia, yang penting ialah terus menyelisik seberapa jauh kondisi internal Amerika Serikat akan membawa pengaruh pada kondisi stabilitas Indo-Pasifik yang dibutuhkan negeri ini untuk melakukan pembaruan perekonomian Indonesia pascapandemi covid-19.

@drr