Strategi Politik Agama Untuk Menangkan Ahok- Djarot Gagal

Opini Publik

Oleh : Dahlan Watihellu

Busur News Com,Jakarta – 15 Oktober 2012 silam, masyarakat Jakarta menjatuhkan pilihan untuk dipimpin oleh Gunernur Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Dalam masa jabatan menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi menjadi Capres yang didampingi Jusuf Kalla. Setelah bertarung melawan Prabowo Subianto – Hatta Rajasa, Jokowi dan Jusuf Kalla menang dan dilantik pada tanggal 20 Oktober 2014. Artinya, setelah Jokowi terpilih menjadi Presiden RI, Posisi Gubernur DKI Jakarta yang dipimpin Ahok bukan hasil murni dari Pilkada. Akan tetapi, Ahok mendapatkan jabatan warisan dari mantan Gubernur Jokowi yang telah naik pangkat menjadi Presiden.

Berbicara karir politik Ahok di DKI Jakarta, tidak terlepas dari peran Jokowi. Terpilihnya Jokowi dan Ahok menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur bukan karena tingkat kesukaan warga DKI terhadap Ahok, tapi warga DKI memilih sosok Jokowi karena kerab menjalankan politik blusukannya. Seiring berjalannya waktu, masyarakat Jakarta perlahan mulai merasa tidak nyaman dengan Ahok akibat beberapa proyek penggusuran pemukiman masyarakat, sering mengeluarkan perkataan yang kurang sopan, kasus dugaan korupsi sumber waras, reklamasi Jakarta dan sebagainya serta Ahok terlalu mengkalim dirinya sebagai pejabat bersih disaat terindikasi dalam beberapa kasus korupsi.

Rasa tidak nyaman masyarakat DKI itu memuncak ketika munculnya kasus penistaan ulama dan agama Islam yang dilakukan olehnya. Akibatnya muncul aksi bela Islam untuk penjarakan Ahok terjadi dalam beberapa seri yang dikomandankan oleh FPI serta beberapa ormas Islam lainya. Walhasil, elektabilitas Ahok sebagai Calon Gubernur menurun jauh. Menyadari hal itu, tim Ahok – Djarot bekerja cantik untuk menghapus sentimen agama dengan mengunakan tangan kelompok politik yang mengatasnamakan Islam pendukung Ahok sebagai bemper.

Berbagai agenda konsolidasi politik dan kampanye dilakukan tim Ahok – Djarot dengan target 1 putaran. Tapi sayangnya agenda tersebut tidak berhasil, hanya meloloskan Ahok – Djarot masuk pada putaran ke dua melawan Anies – Sandi setelah menyingkirkan Agus – Sylvi di putaran pertama. Sadar akan sulit mengalahkan Anie – Sandi di putaran ke dua karena bertambahnya gerakan Islam menolak Ahok – Djarot serta pendukung Agus – Silvy yang hampir semuanya telah hijrah ke Anies – Sandi, berbagai strategi politik dimainkan oleh tim Ahok – Djarot untuk menangkis isu penistaan sebagai langkah meminimalisir ketidaksukaan masyarakat DKI khususnya yang beragama Islam.

Strategi politik yang dimainkan diantaranya pemberian gelar Ahok sebagai santri kehormatan, dinobatkan sebagai Sunan oleh GP Ansor serta beberapa agenda politik agama lainnya. Namun strategi politik tersebut Justru semakin mempersempit kemenangan Ahok – Djarot. Entah ini sebuah strategi politik untuk menangkan Ahok – Djarot ataukah ada musuh dalam selimut yang ingin menghabisi Ahok – Djarot dari dalam ? Ada dugaan publik bahwa beberapa agenda politik yang dilakukan oleh tim Ahok – Djarot sengaja membuat masyarakat DKI bertambah sentimen. Benar atau tidak hal itu, tetapi yang jelas beberapa agenda politik dengan label agama telah membuat peluang kemenangan Ahok – Djarot semakin sempit.

 

(Riena).