Kategori
Artikel

Spirit Pengorbanan dan Kepedulian Terhadap Sesama

 

Oleh : Dhedi Razak

Busurnews.Com, JAKARTA –Spirit Pengorbanan dan Kepedulian Terhadap Sesama
Semakin tingginya spirit pengorbanan seorang hamba, semakin besar kepeduliannya.

Salah satu hikmah Idul Adha, ialah menumbuh-suburkan semangat dan spiritpengorbanan dan kepedulian terhadap sesama. Semangat dan spirit berkorban ini merupakan warisan nilai nilai luhur yang diajarkan dalam teladan kisah Nabi Ibrahim alaihissalam yang bergelar khalilullah.
Dengan demikian, semakin tingginya spirit pengorbanan dalam diri seorang hamba, dan semakin besarnya kepeduliannya terhadap sesama, sebesar dan setinggi itulah gambaran derajat kedudukan dan kedekatannya di sisi Sang Maha Pemurah (ar-Rahman).
Sesungguhnya teladan Ibrahim sebagai role model figur Bapak, Pemimpin Umat, dan Rasul yang Agung berpusat pada arketipe karakter beliau yanghalim, awwah, dan munib. Halim menggambarkan betapa lemah lembut sikap pembawaan juga baik hati, dan penyantun dalam berhubungan dengan orang lain. Awwah mengindikasikan begitu halusnya budi, dan bersifat pengasih.Munib, menegaskan begitu besarnya rasa insaf dan cinta kepada Rabb nya dengan senantiasa bergegas kembali menuju-Nya.
Kehidupan, senantiasa diuji dengan berbagai cobaan dan cabaran. Akan halnya ujian Ibrahim, sungguh sangat luar biasa: menghadapi ayahnya yang tidak hanya penyembah, tetapi pembuat berhala; menghadapi raja lalim yang mengaku-aku sebagai tuhan; menghadapi bangsanya sendiri yang ingkar dan tiada mendukung risalah Ilahi yang diembannya; hingga menepis keraguan dari diri sendiri juga godaan setan-yang-dirajam manakala perintah menyembelih anak, buah hati yang dicintainya diturunkan kepadanya.
Semua itu beliau jalani dengan penuh ketundukan, kepatuhan, dan juga pengorbanan. Sebuah wujud keteladanan paripurna yang senantiasa diemban secara lemah lembut, penuh kasih sayang, dan selalu disandarkan kembali kepada Ilahi Rabbi.

Besarnya ujian menentukan besarnya nilai kelulusan dan kesempurnaannya. Dan besarnya pengorbanan yang diberikan menentukan tingginya derajat kemuliaan dan keridhaan dariNya. Inilah yang telah diraih dan didarmabaktikan oleh Ibrahim alaihissalam dalam masa kehidupannya, yang terbatas, namun abadi dan terus bergaung dari masa ke masa. Bagaimana teladan kedermawanannya menjadi tolok ukur kemurahhatian yang susah untuk ditandingi (konon, Nabi Ibrahim tidak pernah makan sendirian, dan selalu menunggu siapapun orang yang ditemuinya untuk diajak makan bersamanya, meskipun orang asing sekalipun!).
Bagaimana kelurusan akidah keyakinan beliau tidak bergeming sedikitpun, manakala berhadapan dengan kaumnya, rajanya, bahkan ayahandanya sendiri – meskipun karena itu ia diasingkan, dimusuhi hingga dilemparkan ke bara api raksasa. Bagaimana ia menemukan jalan-nya sendiri dalam menemukan “sosok” Tuhan yang ia cari cari dan dialektikakan pada bulan, bintang dan matahari – dan pada akhirnya iapun berserah diri (aslamtu lirabbil alamien), dan Nabi Ibrahim lah yang menamai pengikut millah Ibrahim, jalan menuju Tuhan yang benar lagi lurus sebagai muslim (huwa sammakumul muslimin).
Dan bagaimana, dalam kisah penuh hikmah dan berkah, sesosok ayah penyayang dan begitu mengasihi anaknya, yang didapatkannya di usia senja, menerima wahyu perintah Rabbnya untuk memperkurbankan anak darah dagingnya sendiri. Namun dengan penuh keyakinan dan keteguhan hati, beliau membuktikan bahwa segala-galanya adalah milikNya semata, dari Dia kita semua berasal, kepadaNya kita semua kembali – dan manakala Dia meminta milik-Nya untuk diberikan, maka hakNya mesti segera dijalankan dan dipenuhi dengan ketulus-ikhlasan meskipun itu sungguh berat, iba dan kalut ia rasakan.
Bukankah kita semua, yang mengaku Muslim, senantiasa ber-istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi rojiun)? Namun mengapa begitu susah kita melepaskan segala titipanNya kepada kita ketika diminta untuk kita merelakannya – apakah itu berbentuk harta/jabatan, pasangan, anak kesayangan, ataupun jiwa kita sendiri? Bukankah kita semua berada di dunia untuk menjalankan misi, mengemban risalah suci dan keyakinan tinggi untuk memurnikan ibadah dengan ikhlas hanya untuk-Nya semata-mata (maka mengapakah kita tidak bersegera menunaikan segala perintah-Nya dengan sikap “Labbaik Allahumma Labbaik” manakala menerima perintah itu)?
Dan bukankah kita hidup di antara kumpulan komunitas, lingkungan, masyarakat dan bangsa yang kita berada dan lahir darinya – namun apakah kita telah berperan aktif juga berkontribusi positif untuk memperbaiki keadaan kolektif kita dengan membangun prinsip dan habitus hidup yang senantiasa peduli dan siap berkorban untuk sesama?
Inilah warisan Rasul pilihan, Bapaknya para Nabi, dan sesosok diri yang disebut sebagai “satu bangsa (ummah)” yang hanya melekat kepada satu manusia langka bernama Ibrahim Khalilullah (kecintaan Allah).

Inilah etos kehidupan yang seharusnya kita hidupkan, tumbuh-suburkan, pelihara dan lestarikan, dalam rangka menguatkan perikehidupan kita sebagai makhluk sosial; yang peduli dan peka terhadap beban-penderitaan sesama (dan senantiasa ringan hati juga ringan tangan untuk meringankan beban sesama tersebut).
Dan tidaklah kita, sebagai bagian dari umat manusia, sebagai kumpulan dari kaum Muslimin, sebagai yang mengaku beriman, dapat membuktikan dan meneguhkan identitas kemusliman yang benar, lurus lagi selamat ini – melainkan melalui jalan pengabdian mewujudkan kesalehan spiritual, kesadaran transedental melalui keberpihakan pada kaum marjinal, dan dengan senantiasa mendorong diri sendiri mengalahkan ego hewani yang bersemayam dalam diri, lalu menggantikannya dengan keinsafan dan kesadaran Ilahiyah yang lebih suci: bahwa kedekatan dan jalan menuju Tuhan ditempuh bukan melalui meditasi, tirakatan ataupun peribadatan egosentris dan personal belaka, akan tetapi dengan mengejawantahkan ruh ketakwaan dan keluhuran budi melalui kepedulian untuk berbagi dan jiwa solidaritas sosial yang selalu menjadi obsesi dalam melalui hari demi hari – khususnya di hari-hari yang kian berat saat ini, dimana kita sangat butuh pada sosok ala Ibrahim sang Pemberi.

Adakah dan dapatkah kita menemukan atau menjadi sosok pribadi Ibrahim
Masa Kini yang tinggi budi, halus pekerti, gemar berbagi dan senantiasa mencari ridha Ilahi tanpa henti?

Tengoklah pada hati nurani kita sendiri, dan semoga di relung kesadaran kita di dalam sana, terdapat suara yang mengatakan:
“LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK”
(Aku datang memenuhi panggilan seruan perintahMu ya Allah, aku datang).

Insya Allah!

@drr