SPEKULASI (maysir) MERUPAKAN TRANSAKSI YANG YANG DILARANG DALAM ISLAM.

 

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

BusurNews.Com,Jakarta -SPEKULASI (maysir) MERUPAKAN TRANSAKSI YANG YANG DILARANG DALAM ISLAM.

 

Hal itu ditegaskan dalam surat
Al-Maidah ayat 90,
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, maysir (berjudi), (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan.
Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

 

Istilah popular yang digunakan untuk menunjukkan perjudian, spekulasi, taruhan dalam kajian fiqh
Mu’amalat adalah maysir dan qimar.

“Dua istilah ini sering muncul dalam kitab-kitab turats yang disusun oleh ulama”.-

 

Praktik yang terjadi pada zaman jahiliyyah seperti menjadikan istri atau budak untuk taruhan dalam sebuah pertandingan sebagai imbalan dan upah atas pemenang.

“Selain itu, taruhan dan mengadu nasib juga menjadi bagian praktik maysir yang sering dilakukan dimasa jahiliyyah”.

MAYSIR sebagai setiap permainan yang menempatkan salah satu pihak harus menanggung beban pihak lain akibat permainan tersebut.

Setiap transaksi atau hal lain dalam bentuk
game of change, game of skill dan natural event
harus menghidari
zero-sum game,
Dimana menempatkan pihak lain menaggung beban atas pihak satunya.

Istilah Zero-sum game menjadi popular digunakan dalam praktik maysir dalam keuangan dan transaksi perdagangan.

MAYSIR minimal memiliki empat unsur yang menjadinya dilarang, yaitu:
unsur mukhatarah/ murahanan
(taruhan ),

unsur niat mencari penghasilan/ pendapatan dengan mengundi nasib,

unsur pengambilan hak orang lain yang kalah dalam transaksi
(zero-sum game),

dan harta yang dipertaruhkan merupakan hasil pengumpulan bersama bukan dari pihak lain (sponsorship).

MAYSIR berbeda halnya dengan risiko dalam bisnis.
Dalam bisnis,
Risiko merupakan hal yang diperbolehkan dalam transaksi Islam.

Dalam hal ini risiko terbagi menjadi dua:
risiko yang melekat dengan usaha dan

risiko yang harus dieliminasi yaitu maysir.

 

Kaidah Fiqh
“Al-Ghurmu bil Ghunmi wal Kharaj bid-dhaman”
dalam sebuah usaha harus muncul yaitu
setiap keuntungan (diraih) dengan risiko,

dan hasil usaha (diraih) dengan biaya-biaya.

 

Unsur risiko yang diperbolehkan minimal dengan tiga kriteria, yakni
Risiko yang tolerable;
dimana persiapan dan kemungkinan kegagalan dapat diminimalisir,

Risiko yang tidak bisa tidak dihindari (inevitable) yang artinya risiko ini harus muncul berupa biaya-biaya dan lainnya,

dan Risiko yang tidak disengaja (ghairu maqshud).

(Rn)