Kategori
News

Sosok Pemimpin Sejati Dimasa Depan

 

Busur News Com,Jakarta-  Lembaga Pendidikan EduFun menyelenggarakan diskusi bertema Kepempinan INDONESIA di masa depan di Gedung Juang ’45 menteng pada hari Kamis 30 Maret 2017 dengan pembicara Dr. Mohammad Sobari dan Prof.Dr. Hj. Siti Musdah Mulia dengan moderator Ray Rangkuti.

Dalam hiruk pikuk pilkada ini kita menyaksikan ketidakadilan yang telanjang bulat didepan mata kita dan rata-rata kita diam. Kemanusiaan, keadilan dan kebenaran harus ditegakkan. Kita harus rajin bekerja dan giat beramal supaya kita berguna bagi masyarakat dan negara, seperti terkandung didalam sumpah pelajar Muhammadiyah. Kita harus meluhurkan nilai-nilai dasar kepemimpinan dan watak adil, benar dan manusiawi sebagaimana terkandung di dalam warisan Cak Nur. Kita harus tegas, ramah dan toleran serta berani bertindak seperti teladan Gus Dur, kita harus zuhud dan tak mengejar dunia seperti Buya Syafi’i Maarif yang teguh jiwanya dan Iuhur budinya, kita harus rendah hati seperti KH Mustofa Blsri dan Prof. Dr. Quraish Shihab yang sangat terpelajar.

Kezaliman dalam politik sama saja dengan kezaliman dalam ekonomi dan kebudayaan, yang mematikan kemanusiaan, keadilan dan kebenaran. Tatanan sudah dibikin rusak. Jiwa-jiwa sudah mati dan ketulusan serta kejernihan hati tak mudah ditemukan. Para pemimpin agama dan umat yang marah, apa yang kau ajarkan pada dunia? Serakah? Mau menang sendiri? Mulia dan kaya tanpa kerja tanpa keringat? Tldak malu menjadi kaya, pada teladan Rasul jelas: beliau wafat dan hanya meninggalkan baju perang, tameng, yang sekeplng itu. Cak Nur bukan orang miskin karena punya rumah yang tak mewah di sebuah gang kecil dalam sebuah kampung dan sesudah wafat beliau meninggalkan sisa tabungan Iima juta rupiah, yang sangat sulit diambil oleh Mbak Omi, isteri beliau. Bank itu tidak malu, dan pimpinannya pekok karena membiarkan uang itu sukar diambil.

Beliau pemimpin, Gus Dur pemimpin, Buya pemimpin, penyair van Rembang yang rohaniwan itu pun pemimpin. Dan mari kita cek: semua lemah Iembut dan sopan santun. Tapi manakah pasal yang menganjurkan pemimpin harus seperti itu? Anies itu ramah dan Iembut? Bukan. Dia tersenyum sambi! menyembunyikan nafsu kekuasaannya. The Smilling General itu, yang smile terus, bisa disebut ramah? Bisa. Tapi ramah sekaligus ‘killing while smilling”. Bung Karno? Itu urakan. Kata urakan di sini marilah kita rujuk pada penyair dan dramawan Rendra, yang menyatakan dirinya dan segenap warga Bengke! Teater sebagai kaum urakan.

Tiga Minggu lalu, Ahok direstui-boleh juga diberkati-Raja Salman. Minggu lalu, Ahok dilantik oleh lbu Umi Komariah, isteri alm Cak Nur, untuk menjadi penerus perjuangan Cak Nur menampilkan hidup yang adil, zuhud, sederhana, tidak serakah, pluralis dan inklusif. Tiba-tiba saya berpikir keras, apakah Ahok dinobatkan menjadi guru bangsa? Apakah ‘wahyu’ guru bangsa memang jatuh pada beliau, dan sama sekali bukan pada orang yang memiliki gelar akademis, yang pernah menjadi rektor di universitas peninggalan Cak Nur? Dan kemarin sore, Senin, 27 Maret 2017, dalam siaran Berita Satu, sebuah stasiun televisi Jakarta, disebutkan bahwa Raja Salman membela Ahok lebih jauh. Masalah yang ditimpakan pada Ahok tak ada hubungannya dengan agama, melainkan mumi politik dan karena Itu Ahok harus dibebaskan.

Urakan itu nabrak aturan yang hanya basa basl, dengan kejujuran sikap kritis, urakan ltu tak peduli sopan santun yang hanya di lidah, urakan menabrak etika. Tapi Bung Karno? Beliau membunuh satu etika kemudian sekaligus membangun seribu etika baru. Bung Karno bukan orang yang senyum dalam kepalsuan. Gus Dur? Beliau pendobrak kemapanan yang layak disimak dan diteladani. Boleh jadi mereka semua sering salah. Tak mengapa. Intelektuai boleh salah tapi tak boleh bohong. Intelektual boleh nin bercita-cita menjadi ini dan itu tapi tidak boleh membiarkan dirinya didukung secara salah. Dukungan diterima hanya jika hal itu benar, adil, dan manusiawi. Dukungan yang merusak kebenaran harus ditolak. Orang tak boleh mulia diatas derita orang lain. Menang itu baik. Tapi buat apa kalau kita menang tapi berkhianat terhadap kemanusiaan, keadilan dan kebenaran?(Iksan).