Sikap tamak hanya akan berdampak negatif bagi para pelakunya

Oleh:Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA — Sikap tamak hanya akan berdampak negatif bagi para pelakunya
Sikap boros dan berlebihan menimbulkan ketamakan.
Sementara, ketamakan akan melahirkan dua hal, yaitu tidak pernah merasa cukup dan selalu dalam kemalangan dan merugi.
Dua dampak ini telah dijelaskan seorang ulama asal Turki, Badiuzzaman Said Nursi.
Dalam bukunya yang berjudul “Misteri Puasa, hemat & Syukur”, Said Nursi menjelaskan bahwa sikap tamak akan mengakibatkan orang tidak pernah merasa cukup.
Menurut dia, kondisi ini menyebabkan seseorang enggan berusaha dan bekerja, membuatnya selalu mengeluh tanpa mau bersyukur, serta melemparkannya ke dalam jurang kemalasan.
Sebagai akibatnya, menurut Nursi, orang yang tamak tersebut tidak mau menerima uang sedikit yang diperoleh dari usaha halal. Tetapi, ia menoleh kepada uang haram yang diperoleh tanpa perlu capek dan lelah. Serta demi itu, ia rela mengorbankan harga diri dan kehormatannya.
Dampak sikap tamak yang kedua adalah malang dan merugi. Menurut Nursi, orang yang tamak tidak akan pernah mencapai tujuannya, selalu merasa sulit, tidak pernah merasa ditolong dan dibantu sehingga seperti bunyi sebuah ungkapan terkenal,
“Orang yang tamak selalu malang dan merugi.”

Sifat tamak tersebut juga memberikan dampak tertentu pada kehidupan makhluk sesuai dengan kaidah hukum yang berlaku.
Begitu juga dengan kebalikan dari tamak yakni sifat qanaah, yang artinya selalu merasa cukup dan rela menerima apa yang diberikan Allah SWT.

(*

Utbah bin Ghazwan berhasil mengemban misi membebaskan Ubullah dari pendudukan tentara Persia.
Di tempat itu Utbah membangun Kota Basrah dan membangun sebuah masjid besar di dalamnya.
Kemudian dia bermaksud untuk kembali ke Madinah, tetapi Amirul Mukminin memerintahkannya untuk tetap tinggal di sana, memimpin pemerintahan di Basrah.
Utbah pun menaati perintah Amirul Muminin Umar RA, membimbing rakyat melaksanakan shalat, mengajarkan masalah agama, menegakkan hukum dengan adil, dan memberikan contoh tentang kezuhudan, wara’ dan kesederhanaan
Dengan tekun dikikisnya pola hidup mewah dan berlebihan sehingga menjengkelkan mereka yang selalu memperturutkan hawa nafsu.
Pernah dalam sebuah pidato Utbah berkata,
“Demi Allah, sesungguhnya telah kalian lihat aku bersama Rasulullah SAW sebagai salah seorang kelompok tujuh, yang tak punya makanan kecuali daun-daun kayu, sehingga bagian mulut kami pecah-pecah dan luka-luka. Di suatu hari aku beroleh rezeki sehelai baju burdah, lalu kubelah dua, yang sebelah kuberikan kepada Sa’ad bin Malik dan sebelah lagi kupakai untuk diriku.”
Utbah sangat takut terhadap dunia yang akan merusak agamanya dan kaum Muslimin, sehingga dia selalu mengajak mereka untuk hidup sederhana dan zuhud terhadap dunia.
Namun, banyak yang hendak memengaruhinya untuk bersikap sebagaimana penguasa yang penduduknya menghargai tanda-tanda lahiriah dan gemerlap kemewahan. Tetapi Utbah menegaskan kepada mereka, “Aku berlindung kepada Allah dari sanjungan orang terhadap diriku karena kemewahan dunia, tetapi kecil pada sisi Allah!”
Dan tatkala dilihatnya rasa keberatan pada wajah-wajah orang banyak karena sikap kerasnya membawa mereka kepada hidup sederhana, berkatalah Utbah kepada mereka,
“Besok atau lusa akan kalian lihat kepemimpinan orang lain yang menggantikanku.”

Ketika musim haji tiba, Utbah menunaikan ibadah haji, sementara pemerintahan Basrah diwakilkan kepada salah seorang temannya.

Setelah melaksanakan ibadah, dia menghadap Amirul Mukminin di Madinah untuk mengundurkan diri dari pemerintahan.
Tetapi Amirul Mukminin menolak dengan mengucapkan kalimat yang sering diucapkan kepada orang-orang zuhud seperti Utbah, “Apakah kalian hendak menaruh amanat di atas pundakku, kemudian kalian tinggalkan aku memikulnya seorang diri?
Tidak. Demi Allah, tidak kuizinkan selama-lamanya!”
Oleh karena itu, tidak ada pilihan bagi Utbah kecuali taat dan patuh. Dan ketika hendak kembali ke Basrah, sebelum naik kendaraannya, ia menghadap kearah kiblat, lalu mengangkat kedua telapak tangannya yang lemah lungai ke langit.
Utbah berdoa dan memohon kepada Allah agar ia tidak dikembalikan ke Basrah, dan tidak pula menjadi pemimpin pemerintahan selama-lamanya.
Allah memperkenankan doanya.
Dalam perjalanannya menuju Basrah, Allah memanggil Utbah kepangkuan-Nya dengan menyediakan kesempurnaan nikmat dan kesempurnaan suka cita karena pengorbanan dan baktinya, kezuhudan dan kesahajaannya.

@drr