Kategori
Artikel

Sikap dan partisipasi politik TNI kali ini memang tampak diekspresikan ke hadapan publik.

 

Oleh:Dhedi Rochaedi Razak

BusurNews.Com,Jakarta -PESAN POLITIK TNI

Sikap dan partisipasi politik TNI kali ini memang tampak diekspresikan ke hadapan publik.

Hal ini sejalan dengan dinamika politik belakangan di Tanah Air ini yang tampak agresif memperlihatkan upaya polarisasi ideologi komunis dan upaya sistematis ‘okupasi’ teritorial negeri ini melalui agenda investasi dan bisnis.

Dua aspek yang sekaligus digalang dalam perspektif kebangsaan dan kenegeraan merupakan ancaman serius yang berpotensi meraibkan kedaulatan NKRI dan nasib hidup bangsanya yang jelas-jelas berfalsafah Pancasila, bukan komunisme ataupun kapitalisme.

 

Memang, kali ini tampak bagai hantu.
Namun,
Etape dan proses ‘kolonisasinya’ sudah begitu kentara.

Itulah sebabnya,
TNI–sekali lagi atas dasar Sapta Marganya yang diindoktrinasi sejak masuk ke institusi tidak bisa memandang kecil atas potensi bahaya itu.

Refleksinya,
Tak rela berdiam diri ketika saksikan geliat politik, ideologi, dan ekonomi yang sungguh akan memorak-porandakan bangsa dan negeri ini.

Kesadaran ideologis itu di mata TNI perlu diperkuat.
Memang, TNI kita tak bisa dipandang sebelah mata.

Jika kita komparasikan kualitas mental dengan prajurit dari berbagai negara, TNI dikenal jauh lebih berdaya secara mental.
Itu dapat dibuktikan ketika bersama-sama diterjunkan dalam misi perdamaian dunia di bawah bendera pasukan PBB.

Namun demikian,
TNI tampak menyadari bahwa potensi ancaman dalam dan luar negeri demikian ‘raksasa’.

Bukan hanya dari sisi kuantitas tentara, melainkan juga sejumlah kekuatan lain seperti ekonomi dan teknologi informasi.
Inilah keraksasaan kekuatan strategis lawan yang kini dihadapi.

Dalam konteks inilah menjadi sangat relavan ketika TNI menunjukkan bahwa dirinya bersama rakyat akan membuat TNI kuat.

 

Secara langsung atau tidak,
Drama HUT ke-72 TNI seperti menunjukkan,
“INILAH KEKUATAN KAMI YANG UTUH,
SIAP MENGHADAPI GEMPURAN APA PUN DAN DARI MANA PUN”.

Pesan ini secara implisit pun sesungguhnya tanpa secara langsung disampaikan kepada para pihak yang ada di dalam ataupun di luar sana untuk jangan coba-coba mengganggu kedaulatan negeri ini, termasuk ideologinya yang sudah dirumuskan dan disepakati sejak 1945 itu.

Perlu dicatat, kekuatan rakyat sangat tak terbatas.
Meski mereka tak dipersenjatai,
Tapi ketika pekik dikumandangkan untuk melawan kekuatan agresor, mereka akan menjadi kekuatan mahadahsyat dan kekuatan luar biasa.

Itu dapat kita baca jelas dari lintasan historis saat kemerdekaan negeri ini, saat hadapi para pembonceng NICA, juga saat hadapi kekuatan pemberontak komunis dari tahun ke tahun.

Jika kita kaitkan dengan era proxy-war, jelas bahwa elemen rakyat akan bisa memainkan peran yang jauh lebih berdaya bersama rakyat.

Ada pembagian tugas,
TNI DARI SISI PERTAHANAN SECARA MILITER,
SEDANGKAN RAKYAT,
AMBIL PERAN DARI SISI TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI.

 

Kini, kita perlu merenung lebih jauh, apakah para antek komunis yang ada di dalam dan atau di luar masih ‘bernafsu’ mengganggu kedaulatan dan ideologis negara?

 

Jika memang tetap bernafsu,
Nasib mereka akan jauh lebih buruk jika dibandingkan dengan apa yang mereka hadapi semasa 1942, 1949 ataupun 1965, karena TNI kita lebih siap dan profesional.

The last but not least,
TNI sudah memperingatkan atau menyampaikan pesan politik seperti itu.
Karena itu,
Sebaiknya siapa pun mereka dari unsur dalam atau pun luar negeri perlu menghentikan libodo serakahnya.

 

JANGAN GANGGU BANGSA DAN NEGARA DENGAN UPAYA MENGUBAH IDEOLOGI NEGARA.

 

Juga,
Jangan coba-coba bermain-main yang arahnya merusak NKRI.
Inilah pesan politik TNI yang dapat kita lansir lebih jauh dari tema besar HUT ke-72 TNI.

Ada tampilan yang beda dari peringatan HUT ke-72 TNI jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Bagaimana tidak?

Acara HUT TNI yang dipusatkan di Pantai Anyer pada 5 Oktober lalu itu melibatkan unsur rakyat yang demikian menyatu dengan kekuatan TNI.

Mereka dari berbagai kalangan ikut menikmati
(menaiki armada kapal perang, tank, dan mobil-mobil TNI).

Terlihat rona wajah rakyat yang begitu antusias dan gembira, bergandeng tangan bersama tentara-tentara sigap-tegap-gagah.

Yang perlu kita selisik lebih jauh, apa pesan yang sesungguhnya disampaikan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo?

Siapa pun dalam merayakan hari ulang tahunnya berhak menentukan tema.

Lalu,
Mengapa HUT ke-72 TNI mengambil tema Bersama rakyat, TNI kuat?

 

Dalam hal ini kita tak bisa mungkiri bahwa TNI melihat dinamika kebangsaan dan kenegaraan Indonesia setidaknya dalam akhir-akhir ini
– menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan.
Gerakan-gerakan ormas yang anti-
Pancasila dan merajalela adu domba melalui media semakin kencang.

 

Hal tersebut dapat membahayakan NKRI.
Di sanalah TNI sebagai institusi dan sumpah prajurit memang harus terpanggil untuk maju terdepan dalam mengamankan kedaulatan NKRI tanpa kompromi.

Apakah sikap tegas itu dapat dinilai bahwa TNI berpolitik?

It’s absolutely yes.

Upaya dan gerakan apa pun terkait dengan kepentingan bangsa-negara dalam kamus politik
–*merupakan domain politik, yakni politik keamanan dan pengamanan, bukan politik*
how to get a power
(memburu kekuasaan).

 

Karena itu,
Sungguh tidak tepat jika ada pernyataan bahwa TNI tidak boleh berpolitik.

Yang harus digarisbawahi, politik TNI hanya satu, yakni menjaga kedaulatan dan harga diri bangsa-negara.

Politik memelihara dan mempersatukan entitas yang bersumbu pada kepentingan bangsa dan negara.

 

Dengan demikian,
*Ada dimensi yang mendarah daging dalam jati diri TNI, yakni menyelamatkan negara dan ideologi yang disepekati para pendiri negeri ini dari rongrongan dalam ataupun luar negeri*.

(iRn)