Kategori
opini publik

Siapakah Aroma Busuk Dalam Proses Hukum Penodaan Agama

 

Opini Publik

 

Oleh: Dahlan Watihellu

Busur News Com,Jakarta – Setelah Polri mendapat tekanan dan desakan yang luar biasa dari ormas Islam dan masyarakat Islam atas kasus penodaan agama, akhirnya terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pun diperiksa. Inilah awal cerita kasus penodaan agama hingga saat ini sudah dipenghujung meja hijau (pengadilan). Akan tetapi, dalam perjalanan proses hukum ada hal yang aneh. Keanehan itu terlihat dari awal proses diperiksanya Ahok sebagai saksi hingga sidang ke-18 dengan statusnya sebagai terdakwa, seperti ada aromah busuk yang tidak ingin Ahok dipidanakan atas ulahnya sendiri di pulau seribu kala itu.

Aromah busuk itu membuat spirit dan keberanian para penegak hukum tumpul lalu ramai-ramai melacuri aurat hukum kepada sang terdakwa Ahok. Bukan saja para pengamat, politisi, Ormas dan mahasiswa yang mencium aromah busuk itu tapi masyarakat umum pun ikut menciumnya. Seakan-akan polisi, kejaksaan, hingga pengadilan terasuki aromah busuk itu dan ikut berkonspirasi untuk meloloskan Ahok dari jeratan pidana.

Konspirasi itu tergambarkan mulai pada tanggal 22 Oktober 2016, dimana Bareskrim Mabes Polri berpendapat pemeriksaan Ahok menunggu izin Presiden. Padahal mantan ketua MK, Mahfud MD mengatakan pemeriksaan kepala daerah tidak harus izin Presiden. Pada tanggal 5 April 2017, kapolda Metro Jaya meminta sidang penodaan agama ditunda sampai selesai pilkada. Tanggal 7 April 2017, Jaksa Agung setuju sidang penodaan ditunda hingga selesai pilkada.

Pada tanggal 4 April 2017, Kapolda Metro Jaya kembali meminta agar pembacaan tuntutan Ahok ditunda seusai Pilkada Jakarta putaran ke dua dengan alasan keamanan dan ketertiban masyarakat. Sikap Kapolda ini menuai kritik, sebab Presiden sekalipun tidak berhak meminta atau memberhentikan proses persidangan yang sedang berjalan, apalagi hanya seorang kapolda. Setelah permintaan kapolda itu, tanggal 11 April 2017, Jaksa Penuntut Umum (JPU) minta sidang penodaan agama oleh Ahok ditunda karena berkas tuntutan belum selesai diketik.

Dihari yang sama juga majelis hakim menysetujui sidang penistaan agama oleh Ahok ditunda sampai 20 April 2017 (sehari setelah pilkada). Pertanyaan yang lahir dari fenomena proses hukum ini adalah siapakah aromah busuk itu ?. Terlepas dari hal itu, saya ingin berpesan kepada Presiden dalam bahasa Latin *”Ab Honesto Virum Bonum Nihil Deterret”.* Pesan itu jangan diabaikan oleh Presiden, karena rasa keadilan yang terusik adalah api revolusi

 

(Riena).