Kategori
All

Si Tou Timou Tumou Tou ,Pengusiran Fahri Hamzah Di Menado Hanya Fenomena

 

Oleh : Rudi Thamrin

Busur News Com,Menado – Mau tahu kenapa Fahri Hamzah (FH) diusir dengan tidak hormat dari tanah Minahasa (Manado)? Jawabnya sangat mudah saja. Apalagi kalau bukan karena gaya hidup (bicara) FH yang tidak sesuai (baca:solider) dengan falsafah hidup bermasyarakat orang Minahasa. Si Tou Timou Tumou Tou!

Pengusiran ini bukan pula sebuah kebetulan tak bermakna. Ini bukan sekedar pengusiran terhadap seorang FH belaka. FH hanya sekedar nama. Pengusiran FH hanya fenomena saja yang mewakili realitas besar. Sejatinya ini adalah simbol bangkitnya perlawanan terhadap FH-FH lain di negeri ini. Ini peringatan untuk para FH di negeri ini.

Dari tanah Minahasa sedang diserukan kepada Bangsa Indonesia sebagai bumi pertiwinya yang sedang mengalami kesakitan akibat ulah para politikus busuk yang haus kekuasaan, intoleran pemecah belah bangsa. “Jangan main-main dengan torang, Rakyat (daerah). Ketika tarian adat kami sudah dihentakkan, jangan harap ngoni bisa menginjakkan tanah kami. Jangan berpikir ketika Anda berani memporakporandakan Jakarta, Anda dapat juga memegang kepala kami. Kurang ekor betul, ngoni ini,”begitu kira-kira seruannya.

Dan patut diingat bahwa Indonesia itu anonim jika tak ada Minahasa. Indonesia akan lebih absurd lagi jika tak ada Batak, tidak ada Jawa, tidak ada Dayak, tidak ada Bali, tidak ada Padang, tidak ada Aceh, tidak ada Ambon, tidak Ada Papua, tidak ada Makasar…………..Indonesia itu Bhineka Tunggal Ika.

Kita kembali ke Manado! Jangan bilang kenal dengan Minahasa jika tidak tahu falsafah hidup orang Minahasa ini; Si Tou Timou Tumou Tou. Ini suatu ungkapan kalimat yang tidak asing bagi masyarakat Minahasa. Ungkapan ini dikemukakan oleh putra terbaik Tanah Toar Lumimuut, yaitu DR Sam Ratulangi untuk masyarakat Minahasa (seluruh keturunan leluhur Toar-Lumimuut). Begitu meresapnya falsafah ini sehingga “negeri” Minahasa menjadi negeri yang flamboyan, sejuk dan damai. Karena itu, ketika ada seorang intoleran datang ke Minahasa, pasti berhadapan dengan tarian kebasarannya. Ujung-ujungnya tak berbeda seperti yang dialami Fahri Hamzah.
Dan ternyata falsafah ini mengandung banyak arti dalam hidup bermasyarakat, bahkan bernegara pada umumnya. Si Tou Timou Tumou Tou dapat menjadi “obat mujarab” bagi Pertiwi yang sedang sakit ini.
1. Interaksi Sosial, dalam hidup bermasyarakat harus menunjukan sifat-sifat yang baik sesuai kaidah/norma/aturan masyarakat yang telah disepakati; Haruskah Indonesia sebagai ibu pertiwi diajarkan lagi soal salah satu nilai dari Si Tou Timou Tumou Tou ini, bahwa dalam kehidupan bermasyarakat kita harus menunjukkan sifat-sifat manusia yang baik? Seharusnya tidak!
Pancasila adalah kaidah/norma/aturan bagi masyarakat Indonesia. Bangsa ini akan semakin terpuruk jika Pancasila sebagai dasar Negara ini diabaikan atau dirobohkan. Itulah sebabnya pembubaran ormas yang menolak Pancasila adalah sebuah keharusan dan kemendesakan.
Si Tou Timou Tumou To melihat Pancasila sebagai dasar Negara yang mengatur bagaimana Rakyat ini berinteraksi. Bercermin pada proses panjang pilkada kemarin yang berujung pada ditangkapnya Basuki Tjahaya Purnama sebagai symbol kebangkitan bangsa, adakah sifat-sfat baik yang dipertontonkan. Apakah benar-benar Pancasila ditegakkan dalam interaksi social selama Pilkada kemarin? Orang Minahasa dari kejauhan bergumam,” Adoh kasiang Jakarta! Ngoni so terlalu, komang!”
2. Toleransi, menghargai orang lain (tidak ada sifat meremehkan); Orang Minahasa betul-betul menghidupi falsafah ini dalam kehidupan bermasyarakatnya. Cobalah tinggal beberapa saat di sana. Pasti kita merasakan kehangatan persaudaraan di seluruh penjuru Minahasa. Apalagi kalau gohu dan tinutu’an sudah dihidangkan di meja oleh tanta-tanta Manado. So, tidak ada tempat bagi orang yang suka meremehkan dan tidak menghargai orang lain dalam interaksi sosialnya di bumi Minahasa. Wajarlah jika orang seperti FH diusir dari Manado ini.
3. Kerjasama, harus ada sifat saling membantu karena kita hidup membutuhkan orang lain. Ada satu ungkapan lagi yang begitu popular di tanah Minahasa, yaitu Mapalus. Ini merupakan penjabaran dari falsafah Sitou Timou Tomou Tou. Mapalus merupakan suatu aktivitas kehidupan masyarakat dengan sifat gorong royong (kerja-sama) yang sudah melekat pada setiap insan putra-putri masyarakat suku Minahasa. Bukankah Gotong Royong itu salah satu identitas bangsa kita sejak dulu? Ke manakah sekarang? Sekurang-kurangnya kita masih akan menjumpainya di sudut-sudut tanah Minahasa. Bravo Minahasa!
4. Aspek ekonomi, hidup jangan sampai merugikan pihak lain. Seandainya falsafah ini kita terapkan bukan pada ekonomi bangsa, tapi juga pada hidup politik bangsa, tentunya Ahok tidak bernasib seperti sekarang ini. Indonesia akan memulai kembali kejayaannya karena ekonomi yang berbasiskan keadilan sosial benar-benar diterapkan oleh pemerintah, bahkan oleh pelayan rakyat selevel Ahok.

Itulah 4 nilai yang dikandung dalam falsafah Si Tou Timou Tumou Tou. Walaupun memiliki nilai dan arti yang banyak, namun falsafah hidup ini sebenarnya hanya mempunyai satu makna yaitu ‘manusia hidup harus dapat menghidupkan manusia lain’. Falsafah luhur orang Minahasa ini mengedepankan sifat mengasihi sesama manusia serta menjaga alam sekitarnya sebagai ciptaan Maha Kuasa adalah kunci dari makna falsafah ini.
Jadi, kenapa seorang FH harus diusir dari Manado? Ah, sudahlah! Sekarang marilah kita menjadi manusia yang hidup dengan menghidupkan orang lain. Salam Si Tou Timou Tumou Tou untuk bangsaku, bangsa Indonesia!