Setiap manusia pasti memiliki kesalahan satu sama lainnya

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA- Setiap manusia pasti memiliki kesalahan satu sama lainnya. Namun terkadang ada di antara mereka yang enggan untuk memaafkan kesalahan atau kekeliruan orang lain, bahkan mengeluarkan sumpah akan menuntut pahala atau ganjaran dari kesalahan orang lain itu saat di akhirat kelak.
Untuk membahas hal itu, pendiri Pusat Studi Alquran (PQS) Jakarta, Prof Muhammad Quraish Shihab, menjelaskan bahwa di antara sifat Allah adalah Muqsith atau dari kata qisth. Banyak yang mengartikannya sebagai adil atau pemberi keadilan.

Kata qisth berbeda dengan adil. Sebab, adil adalah seseorang menuntut semua hak dan memberi semua kewajiban.
Dalam hal sengketa, menjatuhkan sanksi yang wajar pada yang bersalah disebut dengan adil. Misalnya saja pencuri, koruptor yang dijatuhkan sanksi sesuai dengan kesalahannya. Hal demikian, disebut dengan adil.
Dalam hubungan antarmanusia termasuk dalam bisnis atau muamalah yang dituntut bukanlah adil melainkan qisth. Kata yang bermakna kedua belah pihak senang atau win-win solution.
Mencontohkan seorang adik mengambil mainan kakaknya semestinya orang tua tidak menerapkan adil dalam hal itu melainkan melakukan qisth. “Mau adil? Hei ini bukan punyamu, kasih kakakmu, menangiskan yang kecil. Lakukan qisth, beri tahu kakaknya, nak kasih saja adikmu itu nanti ayah belikan kamu yang lain yang lebih bagus, dua duanya senang atau tidak?”
Begitu pun dalam hidup, seorang hamba yang mengalah, memaafkan, melimpahkan, atau menyerahkan kesalahan yang diperbuat orang lain ke pada Allah, maka Allah mempunyai cara melakukan qisth. Sebaliknya orang yang menuntut ganjaran orang lain yang pernah berbuat kesalahan justru dikatakan orang yang rugi atau muflis.
“Orang datang mengadu (tentang perbuatan orang lain padanya). Allah berfirman, coba kamu tengok ke atas. Dia lihat satu pemandangan istana yang indah, orang itu bertanya siapa yang punya. Allah menjawab, yang sanggup membeli. Siapa yang sanggup membeli?
Kata orang itu. Allah menjawab, kamu kalau mau beli bisa.
Bagaimana saya beli? Tanya orang itu. Allah menjawab, maafkan saudaramu. Itu qisth, dua-duanya senangkan? Jadi, jangan pernah berkata, saya tuntut di akhirat, Anda rugi,”
Karena itu, dijelaskan dalam Alquran surat Fussilat ayat 34 bahwa tidak sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang baik.

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.”
Selain itu, ayat tersebut juga menjelaskan, bila seseorang berbuat baik ter hadap orang yang pernah berbuat salah, lawannya itu akan berubah sikap menjadi sahabat yang begitu dekat.
Pada dasarnya ketika seseorang menyimpan kebencian, kemarahan pada orang lain, sejatinya orang tersebut juga menyimpan cinta dan perasaan untuk menjalin hubungan yang baik.
Ketika di balas dengan kebaikan, maka orang yang menyimpan kebencian, kemarahan, permusuhan itu pun akan memunculkan kasih sayang untuk menjalin persahabatan.
Karena itu, pada dasarnya semakin dekat hubungan seseorang dengan orang lainnya maka akan semakin banyak tuntutan yang muncul. Selain itu, semakin dekat hubungan potensi terjadinya salah paham semakin tinggi.

Agama menginginkan kita ini hidup harmonis, saling maaf memaafkan. Yang lalu sudahlah.
Mari kita bina hubungan yang baik karena kalau tidak kita rugi. Bukan cuma rugi di akhirat, kita rugi tidak dapat teman.

 

@drr