Kategori
Artikel

Setiap hari muazin menyeru mukmin untuk meraih keberuntungan (hayya ‘alal falah)

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com , JAKARTA —Setiap hari muazin menyeru mukmin untuk meraih keberuntungan (hayya ‘alal falah).
Maka di setiap pergantian tahun, sejatinya memicu semangat mukmin untuk meningkatkan kualitas dirinya sebagai hamba yang beruntung: lebih baik dari tahun sebelumnya.
Dalam Alquran terdapat empat ayat yang mengandung kata qad aflaha (sungguh beruntung).
Kata qad memberikan makna at-tahqiq untuk menegaskan dan memastikan sesuatu yang diharapkan.
Kata aflaha adalah fi’il madhi memberikan pengertian pasti, nyata, dan benar-benar aktual.
Kata qad aflaha mengawali surah al-Mukminun.

Menurut Wahbah az-Zuhaili, dalam Tafsir al-Munir, terdapat tujuh kriteria hamba yang beruntung hingga memperoleh surga Firdaus di awal surah tersebut (ayat 1-11). Pertama, mukmin, yaitu membenarkan Allah SWT, rasul-rasul-Nya, dan hari akhirat.

Menurut M Quraish Shihab, kata mukmin bermakna orang yang keimanannya sudah mengakar kuat dalam kepribadiannya.

Kedua, khusyuk dalam shalat.
Menurut Ibn Katsir, khusyuk dalam shalat baru terlaksana bagi yang mengonsentrasikan jiwanya mendirikan shalat itu dan mengabaikan segala sesuatu selain yang berkaitan dengan shalat.
Shalat yang khusyuk membuat jiwanya tenang sehingga mendorongnya melakukan beragam kebaikan serta menjauhi perbuatan keji dan mungkar.

Ketiga, berpaling dari kebatilan, yaitu kesyirikan dan semua bentuk kemaksiatan serta segala hal yang tidak berguna dan tidak penting sekalipun itu mubah. Waktu yang ada dimanfaatkan untuk berkarya dan bernilai ibadah.

Keempat, menunaikan zakat harta wajib, menyucikan jiwa dari kemaksiatan, membersihkannya dari segala bentuk penyakit hati, seperti kemunafikan dan kebencian. Hal ini relevan dengan dua ayat lainnya yang mengandung kata qad aflaha, yaitu QS al-A’la [87]: 14 dan QS asy-Syams [91]: 9).

Kelima, menjaga kemaluan, memelihara diri dari keharaman, seperti zina dan perbuatan kaum Luth AS (hubungan sesama jenis), serta berpaling dari syahwat. Mereka mampu menjaga kemuliaan diri, keluarga, dan keturunannya.
Keenam, menunaikan amanah, menghormati, menjaga, dan mematuhi perjanjian. Janji pada Allah dengan menyembah dan menaati-Nya.
Janji pada orang lain mereka tunaikan, kepercayaan yang diberikan tidak dikhianati.

Ketujuh, memelihara shalat dengan menegakkannya, bersegera melaksanakannya pada awal waktunya, serta menyempurnakan rukuk dan sujudnya.
Tidak saja fardhu, shalat sunah pun mereka dirikan.
Dan nilai-nilai shalat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Wallahu a’lam.

@drr