Setiap 15 Oktober, secara khusus dunia memperingati hari Hak Asasi Binatang.

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA –Setiap 15 Oktober, secara khusus dunia memperingati hari Hak Asasi Binatang.

Peradaban menempatkan bumi sebagai rumah bersama semua manusia dan semua makhluk.
Kewajiban dan tanggung jawab moral manusia tidak hanya dibatasi terhadap sesama manusia, tetapi juga mencakup semua kehidupan alam semesta, khususnya binatang.
Kewajiban dan tanggung jawab terhadap binatang bisa ditemukan rekam jejaknya dalam khazanah sastra lisan Jawa yang ditulis Sony Sukmawan dalam buku Sastra Lingkungan (2015).
Disebutkan, kearifan terhadap kehidupan hewan dalam sastra lisan Jawa terdiri atas tiga bentuk: hormat terhadap hewan, kepedulian terhadap hewan, dan kasih sayang terhadap hewan.

Istilah hak asasi binatang muncul pada 1970-an karena terjadi eksploitasi berlebihan, termasuk kekerasan, terhadap hewan.
Di Indonesia, sejumlah regulasi telah dibuat untuk melindungi binatang.
Pasal 302 KUHP mengancamkan sembilan bulan penjara bagi pelaku kekerasan terhadap binatang.
Bumi sebagai rumah bersama tak bisa dicerai-beraikan pandemi covid-19 sekalipun.
Karena itu, selain mempertahankan hidupnya, manusia terpanggil untuk menyelamatkan satwa terutama satwa yang dipelihara di lembaga konservasi.
Tidak sedikit orang, termasuk anak-anak, menggagas gerakan penyelamatan satwa lewat donasi.
Gerakan itu bertujuan menyelamatkan kelangsungan hidup satwa di kebun bintang.
Satwa pun butuh uluran tangan, butuh bantuan sosial alias bansos.
Miris, sangat miris, dampak covid-19 terhadap satwa.

Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI) menyatakan sebanyak 92,11% anggotanya hanya bisa bertahan kurang dari satu bulan untuk pemberian pakan sebagai imbas dari pandemi covid-19.
Di tengah kondisi memprihatinkan itu, muncul kabar menggembirakan.
Seekor bayi gajah lahir di tengah pandemi.
Arinta namanya, alias anak dari induk Argo dan Shinta.
Lahir pada 25 Maret di Gembira Loka Zoo (GL Zoo) Yogyakarta.
Kabar gembira juga datang dari Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua.
Bayi orang utan yang diberi nama Fitri lahir pada 22 Mei.
“Mengingat kelahirannya masih dalam suasana Hari Raya Idul Fitri, saya menamakan bayi orang utan ini dengan nama Fitri,”
kata Menteri LHK Siti Nurbaya.

Kelahiran satwa itu jadi tanda bahwa lembaga konservasi telah menjalankan fungsi mereka. Lembaga konservasi, menurut Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.53/Menhut-II/2006, mempunyai fungsi utama pengembangbiakan dan/atau penyelamatan tumbuhan dan satwa dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya.
Izin lembaga konservasi diberikan kepada lembaga pemerintah dan lembaga nonpemerintah. Lembaga swasta lebih banyak ber-gerak dalam pengelolaan kebun binatang yang tergabung dalam PKBSI yang didirikan pada 5 November 1969.
Selama masa pandemi covid-19, lembaga konservasi ditutup untuk umum.
Penutupan itu membawa konsekuensi tidak ada lagi pemasukan dari kunjungan.
Padahal, biaya operasional untuk pakan, perawatan, penjaga, dan dokter hewan terus berjalan.
Biaya operasional cukup besar.
Pengeluaran GL Zoo Yogyakarta mencapai Rp1,5 miliar per bulan, Rp400 juta di antaranya khusus untuk pakan satwa.
Di Indonesia terdapat 81 lembaga konservasi.

Keluhan biaya juga datang dari pengelola lembaga konservasi swasta yang tergabung dalam Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia.
Terdapat 60 kebun binatang dalam keanggotaan mereka, yang merawat 4.912 spesies satwa dan 98.933 individu.
Setiap bulan biaya operasional seluruh kebun binatang itu mencapai Rp60 miliar.
Meski dana operasional terbatas, lembaga konservasi tetap melakukan pemeliharaan satwa.
Pemeliharaan itu tetap berdasarkan etika dan kaidah kesejahteraan satwa.
Kaidah dimaksud diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 95 Tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat dan Kesejahteraan Hewan.
Kesejahteraan hewan dilakukan dengan cara menerapkan prinsip kebebasan yang meliputi bebas dari rasa lapar dan haus; dari rasa sakit, cedera, penyakit; dan dari ketidaknyamanan, penganiayaan, dan penyalahgunaan.
Menteri Siti Nurbaya sejak awal sudah menyiapkan strategi menyelamatkan satwa.
“Tentang satwa, karena dia milik negara yang kami titipkan kepada lembaga konservasi, sudah diantisipasi sejak awal terkait masalah covid-19, yaitu pada sisi kecukupan kesediaan pakan satwa.
Selain itu, antisipasi dengan identifikasi yang mendalam kalau-kalau atau kita khawatirkan virus covid-19 dapat menular kepada satwa,”
ujar Siti dalam keterangan persnya pada 16 Mei.
Pada tingkat masyarakat sudah muncul gerakan-gerakan menyelamatkan satwa.
Anak-anak di Depok, misalnya, menyisihkan dana khusus untuk membantu kebun binatang.
Saatnya bergotong royong untuk membantu satwa lewat program donasi Food for Animal yang diinisiasi PKBSI.
Donasi yang terkumpul hingga 26 Mei berjumlah Rp2,2 miliar.
Anda mau berdonasi?

@drr