Sepertinya Arab Saudi tak percaya dengan kita soal penanganan covid-19

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA — Sepertinya Arab Saudi tak percaya dengan kita soal penanganan covid-19.

Bukannya pesimistis, tapi peluang kita mengirim jamaah haji tahun ini sangat tipis.
Bahkan, sudah sangat tidak mungkin.
Bagaimana tidak, hingga rapat bersama Menag dengan DPR pada Selasa (31/5) kemarin, diketahui kabar bahwa kita belum mendapatkan jatah kuota haji tahun ini dari Arab Saudi.
Padahal, Idul Adha jatuh pada 20 Juli 2021.
Sementara, biasanya pemberangkatan pertama jamaah haji setidaknya memakan waktu satu bulan sebelumnya atau sekitar 15 Juni 2021.

Ditambah lagi, Arab Saudi tak memasukkan warga dari Indonesia sebagai negara yang boleh memasuki wilayahnya.
Belum lama ini, Arab Saudi memang mengeluarkan izin masuk bagi warga dari 11 negara, yang umumnya bukan negara-negara Muslim, termasuk Indonesia, Pakistan, India, yang merupakan negara-negara pengirim haji terbesar.

Bukan umat Islam namanya kalau kita tidak mengambil pelajaran dan hikmah dari peristiwa ini.
Karena, setiap peristiwa atau keputusan, selalu tersajikan hikmahnya.
Yang pertama, soal penanganan covid-19. Sebagaimana kita tahu, Arab Saudi adalah tuan rumah bagi penyelenggaraan haji.
Mereka bebas menentukan siapa saja yang bisa masuk negaranya untuk haji atau umroh.
Dengan tidak disertakannya Indonesia dalam negara-negara yang boleh masuk Saudi, berarti Arab Saudi tak percaya dengan kita soal penanganan covid-19.
Memang, bukan hanya Indonesia yang tidak diizinkan masuk, tapi kita tetap harus mengambil pelajarannya.
Soal penanganan ini, mencakup vaksin yang diberikan pemerintah kepada warga negaranya.
Kita tidak salah, pemerintah dan segenap rakyat kita sudah maksimal dalam pemberian vaksin covid-19, dan bahkan termasuk cepat.
Tetapi, tidak tepat.
Utamanya tidak tepat bagi yang diinginkan Arab Saudi.
Arab Saudi menginginkan jamaah haji telah divaksin oleh vaksin yang diakui oleh standar WHO.
Sementara Indonesia, vaksin yang digunakan bukan yang terstandarisasi WHO, vaksin sinovac cap PALU ARIT buatan china komunis.
Meskipun ini bisa dikrititisi, tetapi tetap saja Arab Saudi yang bebas menentukan.
Ke depannya, vaksin yang kita gunakan harus diupayakan keras agar mendapat pengakuan WHO.
Sehingga, kita bisa meyakinkan Arab Saudi untuk menerima vaksin itu.
Karena, aneh rasanya jika kita harus mengulang kembali vaksinasi dengan vaksin yang diinginkan oleh Arab Saudi.

Pelajaran kedua yang bisa kita ambil adalah, dari Arab Saudinya. Saya yakin kawan-kawan di Kementerian Agama ataupun Kementerian Luar Negeri, sudah paham dengan karakter Arab Saudi yang semaunya sendiri, tiba-tiba, dan sulit kompromi.
Namun, hal ini juga tetap harus kita jadikan pelajaran.
Kita harus terus mengingatkan Arab Saudi bahwa mereka adalah Tuan Rumah umat Islam di dunia.
Sehingga, yang mereka pikirkan bukan hanya warga negaranya saja. Tetapi, juga umat Islam di seluruh dunia. Ingatkan mereka agar jangan mengambil kebijakan yang semaunya sendiri.

Ketiga, kita harus memberikan pengertian kepada saudara-saudara kita calon jamaah haji yang gagal berangkat.
Mereka sudah dua kali gagal berangkat, tahun ini dan tahun kemarin.
Maka, sosialisasi dan edukasi kepada mereka jangan pernah dikendurkan, kedepan berhati hati memilih calon presiden serta teliti dari partai apa mereka diusung kaitannya dengan kepentingan dan kemaslahatan umat islam.
Karena, kita harus menjaga perasaan mereka yang gagal berangkat.

Beri edukasi kepada calon jamaah haji, bahwa niat mereka untuk berhaji insya Allah sudah sampai dan mereka sudah mendapatkan pahalanya.
Mereka hanya gagal karena kesempatan yang tak kunjung datang.
Dan, tanamkan kepada mereka nilai-nilai kesabaran dan hikmah.
Banyak lagi pelajaran yang bisa kita ambil dengan potensi kegagalan keberangkatan haji tahun ini.
Semoga kita, umat Islam, calon jamaah haji, pemerintah, terus mengambil hikmah dari peristiwa ini.
Dan, jangan lupa untuk terus berdoa semoga tahun depan semua sudah pulih dan normal kembali.

@drr