Seni Bermain : Sikap Kedewasaan yang Teruji

Dikarenakan terlalu nyaman duduk didepan layar, beberapa masyarakat mulai melupakan etika dan menjadi bebas sebebas bebasnya untuk berkata kata ataupun berbuat hal kurang bijak, sehingga sama bila disandingkan dengan mesin. Rasa yang semakin hambar menjadi bukti beberapa manusia mungkin sudah dikendalikan oleh mesin itu sendiri hingga aturan yang jelas pun diterobos tanpa peduli dan berinvestasi untuk memupuk kesuksesan diri dalam jangka panjang.

Oleh Zuliana

Menjadi dewasa adalah sebuah keharusan, bagaimanapun kita tidak bisa lepas dari tanggung jawab pada diri dan sekitar. Moral dari apa yang kita ketahui bahwa, menjadi dewasa adalah masuk kedalam ruangan yang kompleks dan penuh dengan kehati hatian dan pertimbangan. Namun kecenderungan masyarakat yang menyukai hal yang berbau jenaka sangat erat dan terasa sangat alami, merupakan gaya hidup yang sebagian dapat ditemui di sekitar.

Sebuah rutinitas yang sering ditemui adalah, banyak masyarakat kian menyepelekan kegiatan bermain, mengolah, dan berproses secara baik dan benar sehingga semakin banyaknya kegiatan yang menyita tenaga dan mengganggu kesehatan mental. Rutinitas yang membentuk kedisiplinan bukan hanya menjadi momok menakutkan dan cenderung dipaksakan, namun membentuk dan mengatur waktu untuk bermain disela rutinitas yang kompleks adalah hal yang wajib. Menjadi dewasa yang lebih positif mungkin sebuah pengharapan yang benar harus diciptakan diruang publik, bukan ikut ikutan trend atau membumbungkan ide untuk ‘ghosting’ dan mematahkan jembatan yang seharusnya dapat dibangun secara dewasa. Sudah jelas dunia hiburan menjadi obat penghilang rasa penat yang teramat kompleks dan mudah diikuti oleh sebagian masyarakat.

Menghidupkan kreativitas bukan hal yang tidak mungkin untuk kecenderungan masyarakat, terlebih bila hal ini dikaitkan dengan budaya, selain banyak hal yang menjernihkan pemikiran bahwa menjadi ’kreatif’ adalah seni yang dibuat buat, ternyata hal ini sudah tersusun dalam karakter masyarakat sesungguhnya.

Penjernihan pikiran yang didapat dari seni bermain bukan saja hal yang serius, untuk maskarakat yang tinggal diperkotaan maupun jarak tempat tinggal berdekatan akan lebih mudah terserang penyakit mental dibanding masyarakat yang tinggal didesa atau memiliki ruang terbuka yang dapat menjadi penyeimbang psikologis masyarakat. Bermain yang tepatnya menjadi waktu luang untuk penyetabil kehidupan perlahan hilang dan tergantikan oleh gedung dan mesin mesin, hingga keranjingan belanja online sebagai satu ritual yang terus berputar menjadi budaya baru masyarakat yang kian diyakini menjadi penyetabil dan kegiatan menyenangkan diri.

Seni bermain yang terhapus belakangan ini bisa jadi merupakan batasan yang menjadikan pemikiran ‘menjadi dewasa adalah menjadi semakin hedonis’, lama kelamaan kecerdasan masyarakat untuk menjadi kreatif akan menghilang seiring waktu. Pemahaman akan sisi psikologis masyarakat pun terelakkan, seakan tidak peduli tempat dan waktu, pemakaian ruang publik yang tidak seharusnya malah jadi pilihan satu satunya untuk mencari kesenangan.

Pembentukkan karakter masyarakat kreatif bukan hanya disuapi oleh tayangan tayangan kreatif maupun berada dilingkungan kreatif, namun hal kecil untuk dapat bermain dan secara imbang menjernihan pikiran merupakan hal yang akan memunculkan warna tersendiri. Lingkungan gaduh bisa jadi membuat kinerja masyarakat hidup dalam ketakutan dan mengukur hal dalam tempo yang memberikan imbas yang tidak maksimal. Begitu pula kekurangan waktu bermain hingga mengerdilkan kebebasan berolah rasa dan berpikir sehingga mudah dikendalikan oleh keadaan.

Dampak modernisasi dan kecenderungan masyarakat yang kian menggantungkan pada teknologi menjadi satu hal yang sudah pasti masuk kedalam keadaan yang mudah di kontrol oleh mesin mesin itu sendiri. Berkaitan erat dengan bagaimana dan mengapa ketergantungan ini bisa menjadi boomerang untuk diri dimasa yang akan datang. Bermain yang diharapkan dapat lepas dari teknologi, mesin pintar, dan segala hal yang berdasarkan kompleksitas mestinya dijadikan kewajiban dan satu waktu khusus yang menjadi pokok untuk menumbuhkan kreativitas yang alami. Mengingat, Sisi gelap dan terang industri kreatif untuk melangkah ke pasar global. Industri kreatif belum menemukan arah kepastian yang terbangun kokoh untuk masuk pasar Asia. Daya tarik yang masih dipergunjingkan dan makin maraknya menyadur atau menggandakan yang sudah jelas pasar dan peminatnya menjadi bisnis yang tidak sepenuh hati dijalankan. Hal ini bisa jadi merupakan satu hal kompleksitas dampak dari hilangnya seni bermain yang biasanya mampu membangun kreativitas yang orisinil.

Dikarenakan terlalu nyaman duduk didepan layar, beberapa masyarakat mulai melupakan etika dan menjadi bebas sebebas bebasnya untuk berkata kata ataupun berbuat hal kurang bijak, sehingga sama bila disandingkan dengan mesin. Rasa yang semakin hambar menjadi bukti beberapa manusia mungkin sudah dikendalikan oleh mesin itu sendiri hingga aturan yang jelas pun diterobos tanpa peduli dan berinvestasi untuk memupuk kesuksesan diri dalam jangka panjang.

Ekonomi hijau dalam industri 4.0 yang seharusnya dapat dihidupkan dengan menggunakan teknologi dan siap untuk memberikan kreativitas tanpa batas bisa saja tak terealisasikan atau gagal mencapai target untuk menumbuhkan sumber daya yang berkualitas, kebutuhan masyarakat tanpa batas yang jelas dan terarah bisa jadi penyebab. Seni bermain yang tidak terlalu elok terlihat dari dampak yang dihasilkan saat kita semua berusaha untuk mengubur diri kedalam kesalahan yang fatal dengan mengikuti trend modern tanpa memelihara kesehatan mental dan antisipasi dampak sosial yang dihasilkan. Memaksakan kesiapan dalam sosialisasi serta edukasi yang minim bisa jadi penyebab, mengapa hal ini bakal tertebak pada akhirnya. Seni bermain tanpa aktualisasi diri seharusnya dapat menjadi satu pokok dalam kehidupan masyarakat dan lebih diberikan ruang untuk berkehidupan dan dikembangkan.