Semangat menjaga PERSATUAN INDONESIA telah ditunjukkan 71 pemuda Indonesia saat mengikrarkan Sumpah Pemuda, 89 tahun lalu.

i

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

BusurNews.Com- Jakarta – Semangat menjaga PERSATUAN INDONESIA telah ditunjukkan 71 pemuda Indonesia saat mengikrarkan Sumpah Pemuda, 89 tahun lalu.

 

Di antara pemuda-pemuda itu tersebut nama
Mohammad Yamin, pemuda kelahiran Sawah Lunto, Sumatera Barat, yang mewakili organisasi pemuda Sumatera, Jong Sumatranen Bond.

Lalu, ada pemuda bernama Johannes Leimena, kelahiran Kota Ambon, Maluku, mewakili organisasi pemuda Jong Ambon.

Ada pula Cornelis Lefrand Sen­duk, mewakili organisasi pemuda Sulawesi, Jong Celebes.

 

Disatukan perbedaan, pemuda-pemuda lintas suku, agama, bahasa, dan adat istiadat, yang berbeda-beda ini

—Mohammad Yamin beragama Islam berbahasa Melayu, sementara Johannes Leimena beragama Protestan berbahasa Ambon—

Bersepakat mengikatkan diri dalam komitmen ke-Indonesia-an dengan menyatakan ikhtiar bersama,

“Bertanah Air satu Tanah Air Indonesia,
Berbangsa satu Bangsa Indonesia,
Berbahasa satu Bahasa Indonesia.”

Ikrar bersama itu dibacakan di arena Kongres Pemuda ke-2 dan 17 tahun kemudian melahirkan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, yakni pada 17 Agustus 1945.

 

“*Fakta sejarah menunjukkan sekat dan batasan-batasan suku, agama, bahasa, serta adat istiadat, tidak menjadi halangan bagi para pemuda Indonesia untuk bersatu demi cita-cita besar Indonesia*.
Inilah yang kita sebut dengan berani bersatu,”.

 

Bercermin dari semangat 71 pemuda tersebut,
Kita meng­ajak generasi muda Indonesia masa kini untuk tidak mudah berselisih paham dan terpecah belah, memvonis orang, saling mengutuk satu dengan yang lain, serta menebar fitnah dan kebencian.

“Stop segala bentuk perdebatan yang mengarah pada perpecahan bangsa.
Kita seha­rusnya malu dengan perjuangan para pemuda 1928 dan kepada Bung Karno karena masih harus berkutat di soal-soal ini.

Sudah saatnya kita melangkah ke tujuan yang lebih besar, yaitu mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,”.

–. BUNG KARNO punya cara tersendiri untuk menyalakan kembali api semangat Sumpah Pemuda dalam diri generasi muda Indonesia.

Dalam salah satu pidatonya, presiden pertama Republik Indonesia ini dengan lantang bersuara,

 

“Jangan mewarisi abu Sumpah Pemuda, tapi warisilah api Sumpah Pemuda.
Kalau sekadar mewarisi abu, saudara-saudara akan puas dengan Indonesia sekarang yang sudah satu bahasa, satu bangsa, dan satu Tanah Air.
Namun ini bukan tujuan akhir.”

Pesan yang dialamatkan kepada generasi muda Indonesia tersebut dengan jelas dikatakan Bung Karno pada peringatan Hari Sumpah Pemuda, yang dirayakan setiap 28 Oktober.

Api semangat Sumpah Pemuda diharapkan menyala dalam diri pemuda-pemudi Indonesia untuk bersama-sama menjaga persatuan Indonesia.

*Kita harus berani melawan segala bentuk upaya yang ingin memecah belah Persatuan dan Kesatuan Bangsa*.

Kita harus berani melawan ego kesukuan, keagamaan, dan kedaerahan kita.

Kita harus berani mengatakan persatuan Indonesia adalah segala-gala­nya, jauh di atas persatuan keagamaan, kesukuan, kedaerahan, apalagi golongan,”.

Presiden Joko Widodo memberikan perhatian sangat besar terhadap pembangunan kepemudaan Indonesia dengan menandatangani Peraturan Presiden (PERPRES) Nomor 66 Tahun 2017 tentang
KOORDINASI STRATEGIS LINTAS SEKTOR PENYELENGGARAAN PELAYANAN KEPEMUDAAN.

 

Melalui Perpres tersebut,
Peta jalan kebangkitan pemuda Indonesia terus digelorakan.

“*Mari kita bergandengan tangan, bergo­tong-royong melanjutkan api semangat Sumpah Pemuda* 1928,”.***

(Rn)