Kategori
Artikel

Sejumlah mantan pimpinan KPK mendorong pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF)

 

Oleh dhedi Rochaedi Razak

BusurNews.Com,Jakarta –  Sejumlah mantan pimpinan KPK mendorong pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk

MENGUNGKAPKAN PELAKU KASUS PENYERANGAN PENYIDIK SENIOR KPK Novel Baswedan.

 

“Maksud kedatangan kami mantan pimpinan dan beberapa aktivis adalah pertama kami ingin melakukan komunikasi atau audiensi silaturahim dengan pimpinan KPK sekarang untuk membicarakan beberapa hal,
Di antaranya kita ingin mendorong pimpinan KPK sekarang untuk mengusulkan tim pencari fakta terhadap kasus Novel,”
kata Abraham Samad.

 

Rencananya mantan pimpinan yang datang adalah mantan pimpinan KPK jilid III yaitu
Abraham Samad,
Busyro Muqoddas,
Bambang Widjojanto
Sekjen Transparansi Internasional Indonesia Dadang Trisasongko,
peneliti LIPI Mochtar Pabotinggi,
aktivis Allisa Wahid,
Duta Baca Najwa Shihab.

 

Berikutnya,
Direktur Amnesti Internasional di Indonesia Usman Hamid,
Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Asfinawati,
Mantan Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar
Dan sejumlah tokoh lainnya.

 

“Kenapa (TGPF) ini perlu?
Karena setelah waktu begitu lama, kasus Novel tidak ada penuntasan, dengan kata lain terkatung-katung.
Ini bisa mengganggu keberadaan KPK.
Kita berpikiran untuk mengusulkan kepada pimpinan KPK agar mengusulkan ke presiden pembentukan TGPF,”
tambah Abraham.

 

Menurut Abraham,
KPK mengalami banyak serangan dari berbagai pihak sehingga seluruh mantan pimpinan KPK juga berkewajiban untuk membantu KPK.

 

“Ketika KPK mengalami hal-hal yang terpuruk maka di situ kewajiban (pimpinan) KPK untuk datang membantu, tidak terbatas kepada pansus tapi apa pun bentuk perlawanan secara eksternal KPK maka harus menjadi tanggung jawab segenap mantan pimpinan KPK,”
tegas Abraham.

 

Sedangkan Najwa Shihab mengatakan bahwa TPGF diusulkan oleh sekitar 20
orang.
“Kalau tidak salah ada 23-24 orang, tapi pada intinya kami merasa sudah 200 hari, sudah lebih dari 6 bulan dan memang sudah sangat mendesak pembentukan ini karena teror terhadap Novel Baswedan ini teror terhadap kita semua yang peduli terhadap pemberantasan korupsi di negeri ini.

Jadi sangat ‘urgent’ untuk segera dibentuk TGPF ini,”
tutur Najwa.

 

Pada 30 Oktober 2017 lalu adalah peringatan 200 hari peristiwan penyiraman air keras.

Menurut pimpinan KPK,
Belum ada perkembangan signifikan dari pengusutan kasus tersebut.

“Kepolisian ‘welcome’
Kita masuk ke dalam, sejauh ini belum ada perubahan (informasi) yang signifikan.
Saya sendiri menawarkan diri untuk masuk tim itu dan Polri juga
‘welcome’,
Jadi artinya semuanya terbuka kok, kita harus sabar karena ini kan kejahatan tidak gampang,”
kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang.

(Rn)