Kategori
Artikel

Sejatinya, sejarah kehidupan umat manusia di masa lampau menjadi pelajaran bagi generasi sesudahnya

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA —Sejatinya, sejarah kehidupan umat manusia di masa lampau menjadi pelajaran bagi generasi sesudahnya.
Betapa naifnya, ketika kita tak mau mengambil ibrah (pelajaran) dan i’tibar (pertimbangan) dari kejayaan atau keruntuhan orang-orang terdahulu, apalagi kisahnya diabadikan dalam kitab suci Alquran.
Karena penting belajar dari sejarah, maka sebagian isi Alquran mengandung kisah-kisah umat di masa lalu yang bekasnya masih ditemukan hari ini, meskipun kejadiannya sudah ribuan tahun.
Islam menyuruh umatnya melakukan rihlah (pejalanan ilmiah) ke berbagai penjuru bumi untuk mengkaji sebab kehancuran sebuah peradaban yang maju. “Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah. Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikan bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan.” (QS 3: 137).
Juga, “Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa.” (QS 27: 69).

Imam Ibnu Jarir ath-Tabari dalam Tafsir Jaami’ul Bayan menjelaskan, perintah mengembara di muka bum yakni bagi orang-orang yang meragukan kerasulan Nabi Muhammad SAW. Lalu, memperhatikan nasib yang menimpa kaum yang durhaka dan mendustakan rasul-rasul Allah SWT, seperti azab yang menimpa kaum Nabi Nuh AS, kaum Nabi Luth AS, serta kaum Nabi Saleh AS. Jika tidak mau mengambil pelajaran, boleh jadi sejarah akan terulang kembali dalam bentuk yang berbeda.
Menukil sebuah riwayat dalam kitab Biharul Anwar bahwa Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib RA menyebutkan tiga sumber kehancuran manusia, yakni;
Pertama, kesombongan.
Sikap tinggi hati yang menghancurkan nilai-nilai agama dan karenanya iblis terlaknat. Merasa diri paling besar dan benar, melihat orang lain kecil dan selalu salah, tidak mau mendengar nasihat dan meremehkan orang lain. (HR Muslim). Allah SWT tidak suka dengan kesombongan sebab itu baju-Nya (QS 4: 36).

Kedua, kerakusan. Sikap buruk yang menyebabkan Adam AS terusir dari surga. Keinginan yang tidak terkendali melahirkan kerakusan. Akibatnya, rela melakukan segala cara untuk mengambil hak orang lain, seperti korupsi dan menipu. Manusia yang menuruti hawa nafsu tidak akan pernah merasa cukup (HR Muslim).

Ketiga, kedengkian. Sikap berbahaya yang menimbulkan keburukan pertama di muka bumi, yakni Qabil tega membunuh adiknya Habil. Kedengkian membuat seseorang yang tidak rela melihat pencapaian orang lain dan berusaha melenyapkannya.
Artinya, ia akan susah melihat orang lain senang, dan senang melihat orang lain susah.
Hasad akan menghanguskan semua kebaikan seperti api membakar kayu (HR Abu Daud).

Jika direnungi, penyebab kehancuran manusia sejak zaman dahulu sampai masa kini selalu terkait dengan tiga penyakit hati tersebut. Misalnya, Fir’aun dan Namrudz dihancurkan karena kesombongannya (QS 2: 50, 258).
Qarun yang kaya raya ditenggelamkan ke perut bumi karena kerakusannya (QS 28: 81).
Pun, Abu Lahab dihinakan karena kedengkiannya kepada Baginda Nabi SAW (QS 111: 1).

Ketiga sumber kehancuran tersebutlah yang akan menyengsarakan manusia selamanya.
Na’udzubillahi min dzalik.
Wallahu a’lam bissawab.

 

@drr