Sejarah Sidang Umum ICAO Ke 39 Pengalaman Berharga Bagi Indonesia

 

 

 

Oleh: Yuwono (Mantan Jendral AURi) & Ketum RKIH

 

Busur News Com,Jakarta – Pada Sidang Umum ICAO ke-39, Indonesia menjadi negara yang gagal dipilih untuk menjadi anggota Dewan ICAO melalui proses pemilihan Part III. Pada waktu itu, “competitors” Indonesia untuk kelompok pemilihan Part III, didominasi oleh beberapa negara lama. Negara “petahana” Malaysia, Korea Selatan dan juga muncul sekurang-kurangnya 2 negara “asing” yang mengikuti persaingan di Part III. Negara dari Timur Tengah dan Afrika terwakili untuk mengikutinya.

Ternyata dalam sidang kali ini masuk 8 muka baru yang terpilih. Mayoritas negara pemilih berpatokan kepada potret keselamatan dari masing-masing negara yang akan dipilih, maka nilai USOAP dan pengakuan masyarakat dunialah yang akan berbicara.
Dengan berpatokan kepada tingkat keberhasilan tersebut maka negara Korea Selatan (Republic of Korea) adalah pesaing yang paling berat,

Karena nilai USOAP 3 aspek nya yang mencapai 100% dan 5 aspek lainnya mencapai di atas 96%.

Arsip pemilihan di Sidang Umum ke-36, 37 dan 38, 9 tahun yang lalu dapat Anda baca untuk sekedar mengetahui bagaimana “sepak terjang” negara ini hingga akhirnya menjadi anggota dewan ICAO. Tercatat total suara pemilih (total votes cast) 3 tahun lalu berjumlah 176, dengan 14 negara yang maju untuk dipilih.

Negara-negara di kelompok Part III tersebut mewakili bagian ruang udara dunia yang berasal dari negara Eropa, Amerika Latin, Amerika Tengah, Asia, Timur Tengah dan Afrika. Dan perlu diketahui bahwa kuota negara dewan di Part III adalah 13 negara. Sehingga akan ada 1 negara yang tersisih.

Pada Sidang Umum ICAO ke-38 yang lalu, nilai perolehan Malaysia menjadikan negara ini pesaing terdekat Indonesia di antara ke-13 negara lainnya dari kelompok Part III. Negara jiran ini berhasil memperoleh 3 suara di atas batas angka kemenangan minimum.

Sedangkan Indonesia memperoleh angka 28 di bawah batas angka kemenangan minimum. Semua negara yang eksis saat ini mewakili Part III yang disebutkan di atas adalah berstatus petahana atau re-elected. Tercatat hanya negara yang mencapai jumlah pemilih di atas 125 lah yang akan terpilih menjadi anggota dewan melalui proses pemilihan Part III.

Ada 3 negara (dari 13 negara yang terpilih dari 14 negara yang maju untuk dipilih) yang memiliki nilai tinggi yaitu Uni Arab Emirates (158), Republic of Korea (156) dan Dominican Republic (156). Malaysia sebagai satu-satunya negara petahana yang memiliki angka paling dekat dengan Indonesia di pemilihan yang lalu, telah menjadi pesaing pada kali ini.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hanya Malaysia yang harus dapat diungguli Indonesia dalam pemilihan.
Dengan masuknya Uni Arab Emirates kedalam kelompok negara yang akan dipilih, maka dengan peolehan nilai USOAP-nya yang mengungguli Korea Selatan, negara ini akan menjadi pesaing yang lebih berat bagi Indonesia. Pelobi ulung hanya akan fokus untuk bertarung dengan negara sekelasnya bukan yang jauh dari jangkauannya. Sedangkan bagi calon dari negara Afrika, mereka memiliki keunikan tersendiri. Negara Afrika manapun yang akan bertarung dalam Part III pasti akan didukung oleh kelompok mereka yang sejak dulu sangat solid dan fanatik dalam sebuah komisi yang dikenal dengan AFCAC (African Civil Aviation Commission) yang beranggotakan 54 negara.

Berbeda dengan negar-negara ASEAN, persatuan negara Afrika ini benar-benar terasa memiliki sifat “persaudaraan” yang kuat sehingga faktor nilai USOAP negara yang maju untuk dipilih nyaris tidak dijadikan perhitungan. Inilah mesin sukses mereka dari tahun ke tahun bersama asosiasi lainnya dari

Amerika Latin atau LACAC (Latin America Civil Aviation Commission) dan Arab Civil Aviation Commission (ACAC).
Harus diakui semua komisi tersebut benar-benar tangguh berjuang untuk mendukung calon dari negaranya. Bahkan kerjasama LACAC sudah melebar dengan menjalin MoU dengan Singapore Aviation Academy untuk memperoleh award berbagai pelatihan dan kursus singkat yang diadakan di negara kota ini.

Bagaimana dengan negara kita Indonesia tercinta ini?. Salah satu modal kita adalah asosiasi negara Asia Tenggara (ASEAN). ASEAN dalam kaitannya dengan ICAO adalah sebatas asosiasi yang tentunya tidak sefanatik AFCAC, ACAC, ECAC, LACAC atau NORDIC, karena memang memiliki scope atau sasaran cakupan yang berbeda sehingga wajar bila masih melebar. Kita masih harus maju dengan jalur kebijakan konvensional yaitu “diplomasi lobby”, tanpa pendekatan “persaudaraan” atau “fanatisme” dari anggota asosiasi ini.

Upaya melalui lobi sudah mulai dilakukan secara matang dan lama, melalui unjuk prestasi penyampaian Information Papers. Tekanan terakhir bersifat politis dan ekonomis (bukan teknis operasional) akan lebih berperan bila kita memiliki “bargaining power” yang ampuh terhadap sejumlah negara berpengaruh. Amerika, Australia, China, Prancis, Jerman dan Jepang adalah negara berpengaruh yang kiranya patut didekati agar mau secara “jujur” mendukung Indonesia.

Namun sayangnya, hasil pemilihan di Sidang Umum ke-39 ini telah menempatkan pesaing utama kita yaitu Malaysia untuk kesempatan yang ke-4 kalinya dimasa bakti 2016-2019.

Sedangkan Indonesia gagal untuk yang ke-enam kalinya !!!. Delegasi kedua negara ini oleh Menteri Perhubungannya masing-masing. Bagi Indonesia, tujuan keberhasilan ini sebenarnya adalah untuk membuktikan keberhasilan keselamatan penerbangan Indonesia agar mendapat pengakuan dunia, bukan yang lain.

Perlu iiranya diingat bahwa keselamatan penerbangan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi bangsa, dan kemakmuran adalah adalah dampak dari keberhasilan pertumbuhan ekonomi suatu bangsa.(Riena).