Kategori
Artikel

Sejak Kapan Kaum Yahudi Menjamah Amerika Serikat?

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA — Sejak Kapan Kaum Yahudi Menjamah Amerika Serikat?
Yahudi di Amerika Serikat mempunyai pengaruh yang sangat kuat.

Sejak kapan kaum Yahudi menjamah Amerika Serikat hingga akhirnya mampu mengendalikan negeri Paman Sam ini?
Kaum Yahudi telah hadir di Benua Amerika jauh sebelum Amerika Serikat merdeka pada 1776. Pada 3 Agustus 1492, Christopher Columbus (orang Italia) didampingi beberapa orang Yahudi memulai pelayaran ke Barat atas nama Ratu Isabela (Spanyol).
Pelayaran Columbus memang mewakili Ratu Spanyol Isabella. Namun donaturnya adalah kaum Yahudi. Ada tiga ”Maranos” atau ”Kaum YahudiRahasia” yang punya pengaruh besar di lembaga Pengambilan Keputusan Politik Spanyol waktu itu, masing-masing Luis de Santagel, saudagar penting dari Valencia; Gabriel Sanches, bendahara kerajaan; dan Juan Cabrero, pengurus rumah tangga kerajaan.
Mereka bekerja terus menerus mempengaruhi Ratu Isabella dengan gambaran bagaimana menipisnya perbendaharaan kerajaan, dan kemungkinan Columbus menemukan emas indah dari India.
Santagel menawarkan pinjaman emasnya sebagai modal pelayaran sebesar 17 ribu ducate, bernilai sekitar 5.000 pounds, mungkin sekarang sama dengan 40 ribu pounds. Tentu saja Luis de Santagel dan Gabriel Sanchez akan menerima hak istimewa dalam pembagian keuntungan.
Dalam pelayaran ke ‘Timur’ (India) melalui jalur Barat itu, Columbus didampingi sedikitnya lima orang Yahudi, yaitu Luis de Torres (penerjemah), Marco (ahli kesehatan), Bernal (ahli fisika), dan Alonzo de la Calle dan Gabriel Sanchez. Rombongan ekspedisi ini memang akhirnya berhasil mencapai kepulauan Bermuda, yang mereka kira bagian dari India. Makanya, penduduk asli ‘Benua Baru’ itu mereka sebut Indian. Waktu itu, Luis de Torres turun ke darat dan menetap di Kuba. Dia menemukan manfaat dari penggunaan dan bisnis tembakau sejak kali pertama.

Bisa dikatakan, Luis de Torres adalah Bapak Perintis dari penguasaan dan dominasi kaum Yahudi atas bisnis tembakau dan rokok dunia yang eksis hingga kini. Tapi, dalam perkembangan berikutnya Columbus jadi korban persekongkolan yang disebaroleh Bernal, sang dokter kapal.
Columbus menerima nasib tragis menderita ketidakadilan dan hukuman penjara sebagai ganjaran. Bahkan, ‘Benua Baru’ itu bukan diberi nama Columbus, tapi justru nama pelaut Italia lainnya, Amerigo Vespucci, yang hingga kini dikenal sebagai benua Amerika.
New York, kota Yahudi Sejak semula, kaum Yahudi melihat bahwa benua Amerika merupakan ladang yang bermanfaat, sehingga mereka berimigrasi hingga ke Amerika Selatan, terutama di Brasil. Imigran Yahudi banyak memanfaatkan jalur koloni Belanda di kawasan Amerika Utara, yaitu apa yang sekarang disebut New York.
Waktu itu gubernur Belanda di New York, Peter Stuyvesant, tidak setuju sepenuhnya atas kedatangan kaum Yahudi di tengah masyarakatnya. Dia memerintahkan mereka pergi. Tapi kaum Yahudi tetap ngotot bisa menggunakan New York sebagai basis utama imigrasi kaum Yahudi di Benua Amerika.
Waktu itu, kaum Yahudi dilarang jadi pegawai pemerintah dan membuka toko eceran. Kondisi ini justru punya efek untuk mendorong kaum Yahudi menekuni perdagangan asing, yang dalam waktu singkat mereka mampu memonopoli perdagangan internasional, berkat hubunagn dekatnya dengan kaum pedagang Eropa.
Contoh di bawah ini hanya salah satu dari ribuan ilustrasi yang dapat diberikan dari panjang akalnya orang Yahudi. Saat dilarang berdagang pakaian baru, dia menjual baju-baju lama, yang merupakan awal dari perdagangan baju-baju bekas. orang Yahudi adalah pemula dari bisnis barang-barang bekas di dunia.
Mereka menemukan kekayaan di puing-puing peradaban. Mereka mengajari orang menggunakan kain-kain tua, membersihkan bulu ayam, menggunakan empedu dan kulit kelinci. Kaum Yahudi selalu memiliki selera di perdagangan pakaian dari bulu dan kulit binatang.
Tanpa disadari, Peter Stuyvesant telah memaksa orang Yahudi untuk membuat New York sebagai pelabuhan utama Amerika. Meskipun mayoritas Yahudi New York telah berpindah ke Philadelpia di masa Revolusi Amerika, tapi kebanyakan mereka akhirnya kembali ke New York. Seakan-akan mereka tahu bahwa New York akan menjadi surga keuntungan yang utama bagi mereka. Ini telah terbukti ketika New York kini menjadi pusat populasi Yahudi terbesar di dunia.

Kota ini menjadi gerbang di mana sebagian besar impor dan ekspor Amerika Serikat dikenai pajak, dan bisnis-bisnis praktis dilakukan serta tempat membayar upeti kepada pemilik uang. Tanah dari kota itu adalaha tanah milik Yahudi. Tidaklah mengherankan bahwa penulis-penulis Yahudi memandang kondisi ini sebagai kemakmuran yang belum pernah terjadi sebelumnya, pertumbuhan yang tidak terkendali di kekayaan dan kekuatan.
Mereka berseru dengan penuh semangat bahwa Amerika Serikat adalah Tanah yang Dijanjikan (Promised Land) sebagaimana diramalkan para nabi. New York lalu berubah jadi New Yerussalem. Bahkan mereka menganggap puncak ‘Rocky’ sebagai ‘Gunung Zion’ dan dengan alasan itu juga maka pertambangan dan kekayaan dari pantai tersebut dianggap milik Yahudi.
Di masa George Washington, di negara Amerika Serikat ada sekitar 4.000 orang Yahudi. Kebanyakan dari mereka berhasil di perdagangan. Mereka memiliki posisi baik di mata pemerintah Amerika (Serikat) dan membantu koloni tersebut, saat revolusi melawan penjajah Inggris dengan pinjaman di saat genting.
Dalam 50 tahun berikutnya, perkembangan populasi Yahudi di Amerika Serikat mencapai lebih dari 3.300.000 orang. Kaum Yahudi menguasai sebagian besar industri vital Amerika Serikat. Bisnis pertunjukan drama dimonopoli Yahudi, mulai dari berakting, pemesanan tiket, sampai jalannya pertunjukan.
Bidang-bidang vital lainnya yang dimonopoli kaum Yahudi antara lain Industri bioskop, industri gula, industri tembakau; menguasai lebih dari 50 persen industri pengepakan daging; lebih 60 persen industri sepatu, perlengkapan dan produksi yang berbau musik, penulis majalah, penyaluran berita televisi, bisnis minuman keras, bisnis pinjaman kredit dan perbankan, dan lain-lain.
Mereka juga membangun jaringan bisnis dengan kaum Yahudi atas bisnis, maka bisa dikatakan bahwa yang disebut sebagai ‘Bisnismen Amerika Serikat di luar negeri bukanlah orang Amerika Serikat, tapi Yahudi.’
Paman Sam Sekali lagi, berdasarkan spirit dari beberapa penulis dan pemimpin Yaudi, yang yakin bahwa Amerika Serikat yang makmur, kaya, dan kuat adalah Tanah yang Dijanjikan, maka kaum Yahudi sangat bersemangat dalam proses membentuk negara dan perkembangan ekonomi-politik Amerika Serikat

@drr