Kategori
Artikel

Secara psikologis AS dekat dengan Indonesia.

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA – Secara psikologis AS dekat dengan Indonesia.

Apa yang terjadi di AS akan selalu menjadi magnet perhatian warga Indonesia.
Lebih-lebih kontestasi menuju kursi ‘Amerika 1’.

Banyak orang Indonesia berharap Joe Biden, kandidat presiden dari Partai Demokrat, memenangi kontestasi.

Namun, sebagian publik diam-diam ada yang senang jika capres Partai Republik Donald Trump kembali terpilih.
Hasil sementara yang hampir final menurut Associated Press menunjukkan Biden unggul dengan suara elektoral 264 melawan Trump dengan 214 suara elektoral.
Cuma butuh enam suara elektoral lagi bagi Biden untuk menuju Gedung Putih.

Lalu, apa untungnya bagi Indonesia bila Biden menang?

Apa pula enaknya jika ternyata Trump tetap melenggang?

Jawaban atas pertanyaan itu setidaknya tersedia dari beberapa data, terutama data statistik, plus janji kampanye kedua kandidat tersebut.

Kemenangan Joe Biden dinilai lebih menguntungkan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.

Sebaliknya, jika Donald Trump yang menang, kebijakan proteksionisme AS akan berlanjut dan dampaknya akan kurang baik bagi Indonesia.

Kemenangan Biden dinilai akan bisa memperkuat kebijakan globalisasi dan perdagangan bebas. Itu bisa menguntungkan ekspor Indonesia.

Dalam kampanye, Biden sempat berjanji terkait dengan penanganan permasalahan sengketa perdagangan dengan Tiongkok secara multilateral melalui WTO.
Selain itu, faktor calon wakil presiden, Kamala Harris, membuat AS mungkin kembali memandang secara khusus Asia seperti era Barack Obama.
Biden bisa lebih menguntungkan Indonesia terutama dalam kaitan Laut China Selatan yang dalam beberapa tahun ini agresif diusik Tiongkok.

Jika Trump menang, pasar keuangan domestik Indonesia akan lebih tertekan jika dibandingkan dengan Joe Biden yang menang.
Trump lebih membiarkan negara lain mengurusi diri sendiri, sebaliknya Biden bakal mengajak serta negara lain dalam menyikapi Tiongkok.

Terkait dengan perdagangan, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan neraca perdagangan kita selalu surplus saat berdagang dengan AS.
Indonesia merupakan mitra dagang ke-50 bagi AS dengan volume dagang senilai lebih dari US$16 miliar per tahun.
Neraca perdagangan September 2020, misalnya, kita surplus US$2,44 miliar. Itu menjadikan neraca dagang kita untuk kelima kalinya surplus tahun ini.

Lima produk ekspor andalan kita ialah pakaian, hasil karet, alas kaki, produk elektronik, dan furnitur.

Kebijakan proteksionis Trump membuat Indonesia dicoret dari daftar negara berkembang yang berhak memperoleh fasilitas bebas bea masuk, alias generalized system of preferences (GSP).

Trump lebih suka dengan kesepakatan bilateral, ini memungkinkan Indonesia melakukan lobi dan menciptakan kesepakatan perdagangan/ investasi bilateral pula.

Kesepakatan bilateral tersebut hampir tidak mungkin bisa ada bila presiden AS bukan Donald Trump.

Namun, di sisi lain Trump juga tipe presiden yang bergerak berdasarkan sentimennya sendiri dan cenderung menghukum negara yang tidak disukai sehingga menciptakan ketidakpastian bagi dunia usaha.

Sepanjang pemerintahan Trump, Indonesia untuk pertama kalinya di-review sampai dua kali untuk mempertahankan fasilitas GSP.

Akibat kebijakan Trump pula, mekanisme dispute settlement di WTO menjadi tidak berfungsi sehingga kasus-kasus yang ingin dimenangi Indonesia melalui WTO sulit memiliki perkembangan yang cepat.
Kebijakan Trump terhadap Tiongkok turut menciptakan peluang ekonomi bagi Indonesia.

Namun, banyak yang menilai Indonesia tidak memperoleh keuntungan yang berarti dari peralihan perdagangan, juga investasi dari baik AS maupun Tiongkok sepanjang 2018-2019.

Bahkan, baik investasi maupun ekspor Indonesia-AS cenderung lebih rendah di 2019 bila dibandingkan dengan 2018.

Meski ekspor Indonesia turun, penurunan impornya lebih besar.
Tercatat pada 2019, nilai ekspor Indonesia dan AS turun 3,8% menjadi US$17,7 miliar.

Sementara itu, impor menurun hingga 8,8% menjadi US$9,3 miliar.
Alhasil, nilai neraca perdagangan dengan ‘Negeri Paman Sam’ itu meningkat 2,4% dari US$8,3 miliar pada 2018 menjadi US$8,5 miliar di 2019.

Namun, siapa pun yang akan menang, Biden atau Trump, sebaikbaik perkara ialah bila kita mengusahakan setiap peluang dari upaya kita sendiri.

Seperti kalam Tuhan dalam kitab suci yang pernah dikutip Bung Karno di Sidang Umum Perserikatan Bangsa Bangsa:
‘Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu bangsa, kecuali bangsa itu mengubah nasibnya sendiri’.

 

 

@garsantara