SECARA GEOSTRATEGI, Melemahnya Irak ikut melemahkan negara-negara Arab Teluk vis a vis Iran.

 

Oleh:Dhedi Rochaedi Razak

BusurNeqs.Com,Jakarta – SECARA GEOSTRATEGI,
Melemahnya Irak ikut melemahkan negara-negara Arab Teluk vis a vis Iran.

SECARA EKONOMI,
Kekuatan Arab pun berkurang yang memengaruhi kinerja Arab melalui kekuatan ekonomi di panggung internasional.

Kekhawatiran bangsa Arab bukan hanya mengecilnya Irak, melainkan juga lepasnya sebagian wilayah Suriah ke tangan Kurdi.
Setelah dilatih,
Dipersenjatai, dan didukung AS, milisi Kurdi (YPG) semakin perkasa dan percaya diri.

Mereka kini terlibat perang pembebasan Raqqa, ibu kota de facto IS di Suriah, dan kota minyak Deir Az-Zor.
Bukan tidak mungkin pasca-IS mereka juga akan memproklamasikan kemerdekaan, terpisah dari Damaskus.

Toh, secara de facto, wilayah Kurdistan Suriah yang membentang dari timur laut hingga utara Suriah telah bebas dari kekuasaan Damaskus setelah merebaknya perang saudara di negara itu.

 

Ini akan semakin jauh melemahkan Arab.
Bila Kurdistan Irak menjadi buffer zone Arab terhadap Iran dan Turki (negara non-Arab), Kurdistan Suriah menjadi buffer zone Arab menghadapi Turki.

Secara militer,
Irak dan Suriah adalah pelindung Jazirah Arab dari ancaman asing dari utara.

Bila nanti Kurdistan Irak merdeka, lalu kemungkinan disusul Kurdistan Suriah, pertahanan Jazirah Arab melemah.

Lebih jauh,
Mengecilnya Suriah, yang dengan sendirinya melemahkannya, akan mempersulit Damaskus memperoleh kembali Dataran Tinggi Golan miliknya yang direbut Israel pada 1967.

Apalagi Suriah kini menjadi negara yang amburadul setelah terlibat perang saudara yang menghancurkan selama lebih dari enam tahun.

Dampak terhadap dunia Arab ialah melemahnya bargaining power Arab vis a vis Israel terkait dengan isu Palestina.

Belum lagi diperlukan ratusan miliar dolar AS dan waktu yang lama untuk sekadar membangun kembali Irak dan Suriah.

Lepasnya Kurdistan Irak dan Suriah ikut menambah beban bangsa Arab yang sedang dilanda konflik internal antara Qatar dan tiga negara Teluk plus Mesir, isu Palestina, perang melawan IS, dan perang saudara di Yaman dan Libia.

Di saat bersamaan,
Kekayaan bangsa Arab terus menguap akibat anjloknya harga minyak dunia, membesarnya pengeluaran pertahanan untuk mengimbangi Iran, biaya perang di Irak, Suriah, dan Yaman, serta bantuan sosial bagi jutaan pengungsi Suriah di Libanon, Turki, dan Yordania.

 

Dalam konteks inilah kita memahami penentangan Liga Arab terhadap separatisme Kurdistan Irak.
Namun,
Mereka tidak berdaya.

Nasib bangsa Arab justru ditentukan bangsa-bangsa non-Arab seperti Iran, Turki, AS, dan sekutu Baratnya.
Akan tetapi, masih ada harapan krisis Kurdistan dapat diselesaikan melalui jalan diplomatik.

Memang sulit mengharapkan Barzani membatalkan referendum karena isu ini telah beralih dari tangannya ke ranah publik.
Membatalkan referendum sama artinya dengan bunuh diri politik.

Namun,
Dengan tidak memproklamasikan kemerdekaan, meskipun mayoritas Kurdi memilih ‘ya’, Barzani membuka ruang diplomasi untuk negosiasi dengan Baghdad.

 

SELALU AKAN ADA JALAN KELUAR BILA SEMUA PIHAK TIDAK MEMENTINGKAN EGO MASING-MASING

(Rn)