Kategori
Artikel

Sarjana Barat mengakui keberadaan Islam sebagai sistem hidup lengkap.

 

Oleh : Dhedi Razak

Bisurnews.com, JAKARTA — Sarjana Barat mengakui keberadaan Islam sebagai sistem hidup lengkap.

Islam bersifat universal, tidak jumud (monoton) dan menolak keras praktek kerahiban.
Seorang Muslim ketika dia berdiri sebagai imam shalat, dia juga adalah seorang pemimpin, pengatur, pejuang, dan pekerja yang berdedikasi.
Seorang orientalis terkenal, HAR Gibb, tanpa malu-malu memuji ajaran Islam.
Dia berkata: ”Islam bukanlah semata-mata ajaran ibadah dan upacara, bahkan Islam meliputi politik dan kenegaraan, sosial dan ekonomi, undang-undang dan kekuasaan, serta perang dan perdamaian. Islam adalah satu sistem yang hidup.”

Inilah di antara daya tarik Islam bagi orang Barat yang berpikiran maju.
Mereka menemukan keserasian di antara Islam dan gaya hidup modern yang produktif.
Ciri-ciri produktivitas dalam Islam antara lain adalah, meletakkan ibadah dan bekerja sebagai satu visi dan misi kehidupan. Islam menuntut setiap umatnya agar menjadi Muslim yang produktif.
Nabi Muhammad SAW bersabda:

إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا

”Jika kiamat hampir datang sedangkan di tangan salah seorang dari kamu ada biji benih yang hendak ditanamnya, maka jika dia mampu hendaklah dia menanamnya!” (Hadis riwayat al-Bukhari dan Imam Ahmad).

Betapa agungnya ajaran agama ini yang mengajarkan kepada kita agar bekerja seakan-akan kita akan hidup selama-lamanya dan beribadah seakan-akan kita akan mati esok hari. Jika umat Islam betul-betul berkomitmen terhadap ajaran Islam, maka tidak akan ada orang Islam yang hidupnya melarat, miskin, dan terbelakang.
Jika bencana kemiskinan melanda maka penyakit sosial akan merebak. Dan kita lihat tidak sedikit orang Islam yang rela anak-anaknya tidak berpendidikan, bodoh, dan rusak oleh gejala sosial. Semua ini berawal dari kemalasan dan gaya hidup yang tidak produktif.
Merancang masa depan adalah wajib menurut agama. Menurut Jabir bin Abdullah, pada suatu ketika saat berada di majelis Rasulullah, tiba-tiba datang seorang lelaki membawa sebatang emas sebesar biji telur, lalu dia berkata: “Wahai Rasulullah ambillah ini sebagai sedekah dariku, dan demi Allah aku tidak memiliki harta yang lain selain ini. Tetapi Rasulullah enggan menerimanya.
Kemudian lelaki itu datang kembali sambil menunjukkan batang emas tersebut. Baginda pun bersabda: ”Bawalah ke mari! Rasulullah mengambilnya dan dengan bersikap marah lalu dilemparkan batang emas itu dengan kuat, yang jika mengenai lelaki itu pasti akan terasa sakit. Kemudian baginda bersabda: ”Adakalanya seseorang di antara kamu membawa hartanya semua padahal dia tiada memiliki selain dari itu. Kemudian setelah itu dia keliling meminta-minta pada orang. Ingatlah sesungguhnya sedekah itu dikeluarkan dari harta yang lebih. Ambillah kembali batang emas itu. Kami tidak memerlukannya.”
(Hadis Riwayat Abu Daud dan al-Hakim).

Berlebihan dalam mengeluarkan uang belanja hingga terpaksa meminta-minta kepada orang lain adalah perbuatan yang dibenci oleh Rasulullah. Kita sering mendengar orang yang gajinya tidak cukup untuk sebulan dan memiliki tabiat boros dalam berbelanja.
Akhirnya dia terpaksa berutang dan meminta-minta ke sana ke mari. Jika kita merenungi hadits Rasulullah SAW tadi, jelas dengan tegas baginda memarahi orang yang tidak mengatur keuangannya. Bahkan untuk melakukan ibadah pun harus ada perencanaan yang baik.

@drr