Kategori
Artikel

Sarjana Barat mengakui keagungan toleransi Islam dan Umar bin Khatab.

 

Oleh : Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA -Toleransi Islam dan Umar bin Khattab
Sarjana Barat mengakui keagungan toleransi Islam dan Umar bin Khatab.

Sejak awal, umat Islam sudah diajarkan untuk menerima kesadaran akan keberagaman dalam agama (pluralitas).
Misalnya, dalam surat Al Mumtahanah ayat 8 disebutkan:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Bahkan, Nabi Muhammad SAW berpesan:
من آذى ذميا فقد آذاني ومن آذاني فقد آذى الله

“Barangsiapa menyakiti seorang dzimmi, maka sungguh ia menyakitiku, dan barangsiapa menyakitiku, berarti ia menyakiti Allah.”
(HR Thabrani).
Kegemilangan Rasulullah SAWdalam membangun peradaban yang unggul di Madinah da lam soal membangun toleransi beragama kemudian diikuti Umar bin Khattab yang pada 636 M menandatangani Perjanjian Aelia dengan kaum Kristen di Yerusalem. Sebagai pihak yang menang Pe rang, Umar bin Khathab tidak menerapkan politik pembantaian terhadap pihak Kristen.
Karen Armstrong memuji sikap Umar bin Khatab dan ketinggian sikap Islam dalam menaklukkan Yerusalem, yang belum pernah dilakukan para penguasa manapun sebelumnya.
Karen Armstrong mencatat: “Umar juga mengekspresikan sikap ideal kasih sayang dari penganut (agama) monoteistik, dibandingkan dengan semua penakluk Yerusalem lainnya, dengan kemungkinan perkecualian pada Raja Daud.
Ia memimpin satu penaklukan yang sangat damai dan tanpa tetesan darah, yang Kota itu belum pernah menyaksikannya sepanjang sejarahnya yang panjang dan sering tragis. Saat ketika kaum Kristen menyerah, tidak ada pembunuhan di sana, tidak ada penghancuran properti, tidak ada pembakaran symbol-simbol agama lain, tidak ada pengusiran atau pengambialihan, dan tidak ada usaha untuk memaksa penduduk Yerusalem memeluk Islam.

Jika sikap respek terhadap penduduk yang ditaklukkan dari Kota Yerusalem itu dijadikan sebagai tanda integritas kekuatan monoteistik, maka Islam telah memulainya untuk masa yang panjang di Yerusalem, dengan sangat baik tentunya.”
(Dikutip dan diterjemahkan dari buku Karen Arsmtrong, A History of Jerusalem: One City, Three Faiths, (London: Harper Collins Publishers, 1997).

 

@garsantara