Saat membaca hasil survei Rekode Research Center yang menyebutkan bahwa 27,1% masyarakat nekat pulang kampung di periode larangan mudik pada 6-17 Mei, saya makin kehilangan kata-kata

 

 

Busurnews.com,  JAKARTA —:Saat membaca hasil survei Rekode Research Center yang menyebutkan bahwa 27,1% masyarakat nekat pulang kampung di periode larangan mudik pada 6-17 Mei, saya makin kehilangan kata-kata.

Bukankah penyebaran covid-19 masih jauh dari kata terkendali?

Tidakkah kita menyaksikan angka kematian akibat korona masih di angka 200-an orang tiap hari?

Apakah kita tak membaca bahwa varian baru covid-19, yaitu B117 asal Inggris, kemudian B1351 asal Afrika Selatan, dan varian mutasi ganda dari India B1617 telah memasuki kampung halaman kita?

Tak mau tahukah kita bahwa varian baru tersebut punya daya tular 36% hingga 75% lebih dahsyat daripada virus lama?

Akan panjang daftar pertanyaan tersusun dari kata ‘bukankah’ lainnya, seperti bukankah aturan pembatasan sangat ketat?

Bukankah pemerintah dari pusat hingga daerah sudah dibekali perangkat yang cukup untuk menindak para pembangkang?

Bukankah fakta India telah benderang mengingatkan bahwa euforia pasti berujung petaka?

Tetap saja ada yang tidak percaya.
Masih banyak saja yang nekat menantang bencana.
Tidak sedikit yang meyakini ini semua konspirasi, rekayasa.
Padahal, sejumlah penyintas covid-19 telah memberikan testimoni secara nyata.
Termasuk mereka yang terkena virus korona hingga dua kali.
Seperti juga dengan kekuasaan, pandemi telah membuat sejarah panjang’. Ia pun meneruskan, ‘Kekaisaran dan kerajaan menaklukkan wilayah, pandemi menaklukkan tubuh.
Keduanya menyisakan misery berkepanjangan, ribuan orang menjadi korban, serta kehancuran sendi-sendi kemasyarakatan.
Virus muncul di satu tempat liar, membunuh banyak manusia, namun kekebalan kemudian berkembang dan virus pandemi menjadi less lethal.

 

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Ghebreyesus pernah mengingatkan bahwa ketika sains ‘ditelan’ teori konspirasi, virus akan menang.

Tedros menyebut semakin subur teori konspirasi tumbuh, semakin luas virus akan menyebar.
Dia mengatakan bahwa banyak negara telah membuktikan dengan ilmu pengetahuan, solidaritas, dan pengorbanan covid-19 bisa dijinakkan dan dihentikan. “Tetapi ketika sains tenggelam oleh teori konspirasi, saat solidaritas dirusak perpecahan, ketika pengorbanan diganti dengan kepentingan pribadi, virus tumbuh subur, virus menyebar.
Dunia membutuhkan kepemimpinan untuk mengakhiri pandemi dan membangun dunia pascapandemi,” tegasnya dalam pidato pada Desember 2020.
Toh, tetap saja muncul penyangkal.

Hasil survei yang dilakukan Spektrum Politika Institute pada September 2020 menyebutkan 39,9% masyarakat Sumatra Barat, yang dianggap memiliki pemikiran rasional dan terbuka, percaya covid-19 merupakan konspirasi negara-negara besar di dunia.
Kepercayaan itu tidak hanya menunjukkan kaitannya dengan tingkat pendidikan, tetapi juga berkorelasi dengan tingkat kepatuhan masyarakat terhadap penerapan protokol kesehatan yang dinilai belum maksimal.

Kepercayaan masyarakat pada teori konspirasi sebenarnya ada di mana-mana, baik di negara-negara berkembang maupun negara-negara maju.
Di Indonesia sendiri, masyarakat dalam jumlah yang cukup signifikan juga memercayai teori konspirasi tentang banyak hal dan isu, termasuk covid-19. Di negara maju, seperti AS dan Inggris, sebagian warganya juga ternyata percaya teori konspirasi terkait dengan covid-19.

Jajak di pengujung tahun lalu, misalnya, menunjukkan bahwa 28% warga ‘Negara Paman Sam’ itu percaya Bill Gates ingin menggunakan vaksin untuk menaruh chip ke tubuh orang-orang.
Tak hanya itu, para antivaksin pun akan menggunakan media sosial untuk mengajak orang-orang agar tidak melindungi diri mereka dari vaksin korona.
Padahal, kurang apa negara itu dalam bidang pendidikan warga.

Hal yang sama juga berlaku di negara maju lainnya, seperti Inggris, yang berdasarkan survei Mei 2020 menunjukkan seperlima orang dewasa di ‘Negeri Ratu Elizabeth’ itu meyakini covid-19 sebagai hoaks.

Sejumlah penelitian menunjukkan ada kaitan antara stres, keadaan mudah dipengaruhi, dan teori konspirasi.

Ketika seseorang tak menguasai dirinya sepenuhnya, ketika mengalami stres, teori konspirasi akan menjadi masuk akal.
Selain itu, semakin sering orang terkena terpaan teori konspirasi, semakin besar kemungkinannya percaya dengan teori konspirasi tersebut.

Apa yang terjadi di Pasar Tanah Abang dan nekatnya para pemudik kian mematangkan bahwa rasionalitas, sains, testimoni, juga ajakan ternyata masih majal untuk sebagian orang.

Jangan-jangan mereka terhipnosis teori konspirasi bahwa virus ini sudah bisa diatasi karena memang penemu vaksin tak lain ialah penyebar virus itu sendiri.
Untuk yang bandel seperti ini, jalan terbaik ialah ‘gebuk’ dengan sanksi agar minimal tak mencelakai orang lain.

 

@garsantara