Kategori
Artikel

RISET MENJADI TIDAK TERINTEGRASI APALAGI DIKOMERSIALKAN.

 

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

Busurnews.com,Jakarta – RISET
MENJADI TIDAK TERINTEGRASI
APALAGI DIKOMERSIALKAN.

KENDALA RISET
–. Negara-negara Eropa sudah melaksanakan riset laut-dalam sejak abad ke-19.

Berbagai eskpedisi laut-dalam mereka lakukan bukan hanya di wilayah kedaulatan mereka, tetapi di seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia.

Sementara itu,
Perhatian Pemerintah Indonesia terhadap riset laut-dalam belum banyak ditunjukkan.

Padahal, zona ekonomi ekslusif Indonesia (ZEEI) kita didominasi laut-dalam yang masih terbatas pemanfaatannya.

Ironisnya,
ZEEI justru menjadi ladang pencurian ikan oleh kapal ikan asing, dan nelayan kita tetap hidup miskin.

Hasil survei kuesioner terhadap peneliti bidang kelautan di RI menunjukkan kendala utama riset laut-dalam ialah belum tersedianya infrastuktur dan fasilitas riset yang memadai, seperti kapal riset, peralatan penelitian, dan laboratorium.

Sarana dan prasarana itu mutlak di perlukan.

Kuantitas dan kualitas hasil penelitian sangat ditentukan ketersediaan peralatan penelitian.

Biaya penelitian laut-dalam yang mahal juga menjadi kendala.

Sementara itu,
Anggaran riset RI pada 2017 hanya 0,23% dari PDB, jauh di bawah dari negara tentangga seperti Malaysia 2,8%.

Kendala selanjutnya ialah lemahnya kelembagaan termasuk belum diaturnya kerangka kelembagaan dan regulasi sehingga lembaga atau kementerian seolah jalan sendiri.

Akhirnya riset menjadi tidak terintegrasi apalagi dikomersialkan.

Hal fundamental lainnya adalah belum adanya grand design sebagai acuan riset laut-dalam nasional sehingga terjadi tumpang tindih, inkompatibilitas metode penelitian, dan akses data yang sulit.

Mungkin penelitian laut-dalam bagaikan sebuah mimpi besar di tengah minimnya alat dan dana riset kelautan.

Namun,
Sejarah menunjukkan 145 tahun yang lalu ketika teknologi canggih belum tersedia dan situasi ekonomi yang buruk, sebuah ekspedisi kelautan
‘Challenger’
untuk pertamakalinya berhasil menguak kedalaman Laut Banda dan membuat peta kelautan Nusantara.

Karena keberhasilannya itu, ekspedisi ini dipandang sebagai peletak fondasi oseanografi modern.

Semestinya penelitian laut-dalam RI saat ini dapat dilakukan lebih baik lagi dengan berpedoman pada konsep riset laut-dalam yang jelas untuk capaian yang unggul.

Konsep itu ditujukkan untuk mewujudkan target ekonomi biru, khususnya program prioritas pembangunan nasional di bidang ketahanan pangan dan energi secara berkelanjutan.

Untuk dapat melaksanakan konsep ini, diperlukan SDM terdidik dan terampil, infrastruktur penelitian laut-dalam yang memadai, serta dukungan anggaran riset yang cukup.

Di samping itu, penguatan kelembagaan riset laut-dalam dan jaringan, serta standardisasi metodologi dan pembangunan pusat data base riset laut-dalam juga diperlukan.

Semua ini diperlukan bagi Indonesia untuk memperpendek jarak dalam riset laut-dalam.

Sangat jelas bahwa riset laut-dalam yang unggul diperlukan untuk mencapai target pembangunan kemaritiman yang merupakan prioritas nasional yang dicanangkan Presiden Jokowi sebagaimana tertuang dalam Nawacita.

Namun,
Menyelami komitmen politik Presiden Jokowi terhadap riset laut-dalam tidaklah semudah menyelami dalamnya lautan.

Grand design dan rencana strategi yang baik untuk mewujudkan mimpi riset laut-dalam oleh putra-putri Indonesia sulit untuk tercapai tanpa dukungan politik dan investasi riset dari pemerintah.

Gelora semangat sumpah pemuda yang kita dengungkan diharapkan mampu menggerakkan perhatian pemerintah terhadap pengembangan riset laut-dalam.

(Rn)