RISET LAUT-DALAM TIDAKLAH SEMUDAH MENYELAMI DALAMNYA LAUTAN.

 

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

Busurnews.com,Jakarta –RISET LAUT-DALAM
TIDAKLAH SEMUDAH MENYELAMI DALAMNYA LAUTAN.

–. Ada satu bidang penelitian yang penting untuk masyarakat, khususnya ketahanan pangan dan energi berbasis kemaritiman, tetapi sering terlupakan, yaitu penelitian laut-dalam.

Sebagian orang mungkin masih meragukan apa manfaat dan pentingnya mengungkap rahasia laut-dalam.

Namun, fakta menunjukkan sekitar 75% wilayah RI berupa lautan yang memiliki zona laut-dalam
(kedalaman lebih dari 200 m).

Bahkan, salah satu laut terdalam di dunia terdapat di Indonesia, yaitu Laut Banda, dengan kedalaman mencapai 7.700 m.

Perairan laut-dalam RI sangat unik karena menghubungkan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.

Letak geografis yang berada di daerah tropis, dan posisi pada lintasan gunung berapi, membuat laut-dalam RI diduga menyimpan ‘harta karun’ yang belum terungkapkan.

Harta karun yang paling nyata ialah kekayaan alam termasuk sumber daya hayati dan sumber daya energi seperti minyak dan gas bumi.

Selain itu,
Laut-Dalam merupakan museum sejarah alam yang menyimpan berbagai fosil hidup yang sangat berharga.

Contoh, penemuan ikan purba coelacanth di Sulawesi Utara pada 1998 dan di Papua pada 2011.

Ikan itu telah dinyatakan punah 80 juta tahun lalu.

Negara-negara maju telah memanfaatkan laut-dalam untuk berbagai pembangunan sarana infrastruktur seperti terowongan (tunnel), jaringan komunikasi, distribusi energi, dan sumber pangan.

Contoh,
pembangunan terowongan Seikan di Jepang pada kedalaman 240 m dan

terowongan Gothard Base di Switzerland pada kedalaman 312 m.

Potensi sumber daya pangan juga ditemukan di zona mesopelagik laut-dalam (200-1000 m) bahkan di beberapa negara maju penangkapan ikan sudah mulai berpindah ke zona laut-dalam.

Di lain pihak,
Selama ini pembangunan nasional Indonesia di sektor ketahanan pangan dan energi masih bertumpu pada kawasan darat dan pesisir.

Eksploitasi yang terus-menerus berlangsung telah mengakibatkan turunnya sumber daya di daratan dan pesisir.

Akibatnya, dunia termasuk Indonesia diperkirakan akan mengalami krisis di tiga bidang pokok kehidupan, yaitu pangan, energi, dan air.

Ancaman krisis pangan dapat lebih parah karena diproyeksikan jumlah penduduk RI akan melebihi 300 juta jiwa pada 2035.

Hal itu akan meningkatkan jumlah konsumsi pangan dan energi hingga 41%.

Dampak kerusakan lingkungan dan perubahan iklim akibat eksploitasi SDA juga dapat memperburuk situasi krisis menjadi darurat pangan dan energi.

Salah satu SDA Indonesia yang masih diselubungi kegelapan ilmiah dan sangat menantang adalah laut-dalam.

Sebenarnya upaya mengungkap kegelapan laut-dalam sudah dimulai sejak 1768, yang tercatat sekitar 30 ekspedisi ilmiah dari bebagai negara berkunjung ke perairan laut-dalam Indonesia.

Namun, sebagian besar ekspedisi itu hanya sekadar lewat dan tidak menjadikan RI sebagai lokasi utama penelitian.

Penelusuran literatur ilmiah melalui mesin pencari literatur seperti
Scopus dan ISI Web of Science dan

pencarian manual menunjukkan bahwa jumlah publikasi ilmiah terkait laut-dalam di RI masih sangat minim.

Setiap tahun rata-rata kurang dari satu paper terkait laut-dalam yang dipublikasikan.

Angka itu di bawah Filipina dan jauh tertinggal dari Australia dan AS.

Penelitian laut-dalam yang pernah dilakukan di RI masih berupa penelitian yang bersifat penelitian dasar seperti inventarisasi dan observasi secara parsial.

Bidang penelitian seperti biologi dan kimia kelautan masih sangat minim (24%) jika dibanding bidang geologi dan fisika kelautan (61%).

Selain itu, data dan luaran (output) ilmiah yang telah tersedia juga masih tersimpan di setiap lembaga dengan format beragam dan sulit di akses publik.

Meskipun laut-dalam relatif belum tersentuh, dampak kerusakan lingkungan seperti polusi dan perubahan iklim sudah dirasakan hingga di laut-dalam.

Fenomena paus terdampar akhir-akhir ini sering terjadi di berbagai wilayah di RI seperti di Seram bagian Barat, Flores, dan Cilacap.

Sebuah artikel yang di publikasikan di
Current Biology Magazine
menyebutkan adanya perpindahan berbagai jenis ikan ke zona laut-dalam mungkin akibat kenaikan suhu air di laut-dalam.

Selain itu,
Kerusakan Ekosistem Laut-Dalam juga memengaruhi hasil produksi perikanan, terutama untuk jenis-jenis ikan dan udang yang siklus hidupnya bersentuhan dengan habitat laut-dalam, seperti ikan pisau, ikan sidat, dan udang.

(Rn)