Rezeki merupakan rahasia dan ketentuan Allah SWT 

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA. — Rezeki merupakan rahasia dan ketentuan Allah SWT

Niat menjadi hal penting dalam langkah seorang mukmin.
Dalam setiap aktivitasnya, seorang mukmin wajib mengorientasikan niatnya kepada Allah SWT.
Hanya Allah yang dapat memberikan balasan kebaikan dari setiap amal yang dikerjakan.
Di antara amal yang dikerjakan seorang mukmin dengan tujuan karena Allah adalah ketika seorang mukmin mengerjakan amal tersebut berharap mendapatkan ridha Allah, mendapatkan cinta Rasulullah, berharap surga, dan selamat dari siksa api neraka.
Meluruskan niat harus dilakukan seorang mukmin dalam setiap perbuatan, termasuk dalam bekerja.
Dalam bekerja, seorang mukmin harus berniat untuk ibadah karena Allah. Seorang mukmin yang dalam bekerja berniat se mata-mata karena Allah, mencari pahala dan sarana mendatangkan rezeki dari Allah akan hidup jauh lebih berkah, bahagia, dan tenang.
Orang seperti tersebut hanya akan berharap balasan rezeki dan pahala dari Allah.
Kalau cari pahala dari Allah, kerja sebagai sarana mendatangkan rezeki dari Allah, gaji tak cair kamu akan tenang-tenang saja. Sekarang akidah kita rusak, kita merasa bahwa rezeki itu karena usaha dan kerja kita.
Rezeki merupakan kewenangan mutlak Allah.
Ketika seorang hamba sudah optimal berjuang, dia menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Karena itu untuk tidak membatasi rezeki dengan gaji dan fasilitas yang diberikan perusahaan.
Kalau sudah bekerja, yakin Allah ngasih. Caranya terserah Allah. Karena itu, niat mukmin harus kuat.  Banyak orang masih berkeyakinan perolehan rezeki karena hasil usaha sendiri. Mereka mengesampingkan iman untuk meyakini hanya Allah pemberi rezeki.  Karena itu orang yang tidak mengutamakan Allah dalam niatnya bekerja akan mengalami kekecewaan, bahkan depresi saat mendapati upah yang diperoleh dari tempatnya bekerja tidak sesuai dengan harapan.
Kendati memperoleh materi berlimpah, orang tersebut akan tetap merasa kurang dan susah dalam hidupnya karena tidak menggantungkan segala sesuatu kepada Allah SWT.
Sebalirang yang meniatkan segala amal karena Allah akan dicukupi keberkahan. Dalam bekerja, orang tersebut sudah sangat merasa beruntung sebelum memperoleh upah materi.
Dia menyadari bahwa setiap pekerjaan yang digelutinya untuk memberi nafkah keluarga merupakan ibadah bernilai pahala sekaligus penghapus dosa.
Sehingga, berangkat itu tidak berpikir angka, yang dipikir itu langkahku dapat pahala, langkahku menghapus dosa, langkahku menuju surga.
Sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW dari Umar bin Khattab RA, yang dinukilkan Bukhari dan Muslim sebagai berikut:

إنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيِهِ

“Setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang mendapatkan apa yang ia maksudkan. Siapa yang hijrah karena Allah dan Rasul- Nya, hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau ka re na wanita yang dinikahinya maka hijrahnya karena yang ia tuju itu.”
(HR Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menerangkan bagaimana pentingnya mengorientasikan niat karena Allah, termasuk dalam hal bekerja. Meniatkan bekerja hanya untuk memperoleh upah atau gaji semata maka yang diperoleh hanya sebatas materi.
Namun, ketika pekerjaan tersebut diniatkan untuk mencari ridha-Nya maka Allah pun akan memberikan ke mudahan dan mencukupi segala kebutuhan orang tersebut.
Selain itu, orang yang memiliki tujuan Allah dalam pekerjaannya tak akan merasa khawatir kehilangan jabatan, berkurangnya penghasil an atau upah.
Hati orang tersebut sudah dipenuhi dengan kenikmatan dan rasa syukur kepada Allah.

(*

Alquran mengungkapkan bahwa manusia sibuk bermegah-megah.

Bermegah-megah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengandung arti membanggakan, membesarkan, dan menyombongkan diri atau berlaku ingin lebih megah daripada yang lain. Allah SWT dalam Alquran telah memperingatkan manusia akan bahayanya bermegah-megahan.

اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُۙ

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu
(QS At-Takasur: 8).
Maksud ayat tersebut adalah “Wahai manusia, bermegah-megahan dalam hal harta, keturunan dan pengikut telah melalaikan kamu dari ketaatan kepada Allah dan mempersiapkan diri untuk menghadapi hari akhir.”
Dalam ayat ini, Allah mengungkapkan bahwa manusia sibuk bermegah-megahan dengan harta, teman, dan pengikut yang banyak sehingga melalaikannya dari kegiatan beramal. Mereka asyik dengan berbicara saja, teperdaya oleh keturunan mereka dan teman sejawat, tanpa memikirkan amal perbuatan yang bermanfaat untuk diri dan keluarga mereka.
Diriwayatkan dari Mutharrif dari ayahnya, ia berkata: Saya menemui Nabi SAW ketika beliau sedang membaca al-hakumut-takatsur, beliau bersabda: Anak Adam berkata, inilah harta saya, inilah harta saya. Nabi bersabda: Wahai anak Adam, engkau tidak memiliki dari hartamu kecuali apa yang engkau makan dan telah engkau habiskan, atau pakaian yang engkau pakai hingga lapuk, atau yang telah kamu sedekahkan sampai habis
(HR Muslim).

Diriwayatkan pula bahwa Nabi SAW bersabda: Seandainya anak Adam memiliki satu lembah harta, sungguh ia ingin memiliki dua lembah harta, dan seandainya ia memiliki dua lembah harta, sungguh ia ingin memiliki tiga lembah harta dan tidak memenuhi perut manusia (tidak merasa puas) kecuali perutnya diisi dengan tanah dan Allah akan menerima tobat (memberi ampunan) kepada orang yang bertobat
(HR Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi dari Anas).

Ahli tafsir ada yang berpendapat bahwa maksud ayat ini adalah bangga dalam berlebih-lebihan. Seseorang berusaha memiliki lebih banyak dari yang lain, baik harta maupun kedudukan dengan tujuan semata-mata untuk mencapai ketinggian dan kebanggaan, bukan untuk digunakan pada jalan kebaikan atau untuk membantu dalam menegakkan keadilan dan maksud baik lainnya.
Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan, dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu
(QS Al-Hadid: 20).

@garsantara