REVOLUSI INDUSTRI telah memasuki fase yang keempat di saat teknologi informasi menjadi salah satu ukuran yang digunakan industri untuk meningkatkan kapasitasnya.

 

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

BusurNews.Com,Jakarta – REVOLUSI INDUSTRI telah memasuki fase yang keempat di saat teknologi informasi menjadi salah satu ukuran yang digunakan industri untuk meningkatkan kapasitasnya.

 

Persaingan industri pada revolusi industri 4.0 ini masih dapat dirasakan seluruh pelaku usaha dan masyarakat.

Berbagai macam produk sejenis dengan branding dan kualitas yang berbeda muncul di dalam pasar modern maupun pasar konvensional kita saat ini.

Pergeseran pola konsumsi dan munculnya revolusi industri 4.0 secara otomatis akan mengubah perilaku masyarakat secara viral.

Hanya, perubahan perilaku sulit untuk mengubah karakter manusia yang selalu ingin lebih dari yang lain sehingga persaingan usaha tetap menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari.

Persaingan usaha dalam era revolusi industri 4.0 bukan merupakan hal yang baru.
Mundurnya sejumlah perusahaan ritel dari industri jasa penjualan merupakan salah satu bentuk dari masifnya persaingan usaha.

Sudah menjadi sebuah doktrin yang kuat bahwa perusahaan yang tidak dapat berinovasi akan dapat dengan mudah tersisihkan.
Pemain industri digital semakin marak akibat pola konsumsi masyarakat yang berubah.

Konsumsi masyarakat juga berubah akibat perubahan gaya hidup dan pola pikir generasi saat ini.

Jadi, kita tentu tidak akan heran dengan perubahan karakteristik proses produksi maupun produk yang disajikan secara ‘instan’.

Instan inilah yang pada akhirnya menjadi justifikasi di setiap kebutuhan masyarakat muda saat ini.

 

Dalam kamus Bisnis,
Industri yang mengalami pailit sudah menjadi risiko yang harus mereka hadapi.

Untuk meminimalkan risiko terjadinya pailit, para pelaku usaha pada umumnya akan melakukan berbagai macam strategi untuk membendung arus capital outflow yang dirasakan tidak akan kembali.

Salah satu strategi itu ialah dengan memperluas jangkauan pemasaran sebagai langkah dari strategi yang inovatif.

Namun, pasar akan mempersempit mobilitas produk yang diperdagangkan jika situasi geopolitik tidak akan mendukung.

Dalam situasi yang kurang menguntungkan di dalam pasar internasional, para pelaku usaha selalu menggunakan rencana cadangan dengan mencari wilayah ataupun produk yang berbeda.

 

Di setiap negara,
strategi ‘DIVERSIFIKASI’ sudah menjadi bagian dari rencana perluasan perdagangan mereka.

Hanya, strategi diversifikasi tidak akan berjalan tanpa langkah nyata yang diambil para pelaku usaha kita.

Dari segi wilayah di belahan dunia, wilayah Eropa bukan merupakan wilayah pemasaran yang dominan bagi Indonesia.
Indonesia masih mengandalkan wilayah Asia sebagai jalur perdagangannya, khususnya Asia Tenggara dan Asia Timur, karena hampir 70% transaksi perdagangan dunia terjadi di wilayah Asia.

Selain itu, konflik politik internal maupun eksternal serta krisis sosial yang terjadi di wilayah Eropa menjadi hal lain yang harus dipertimbangkan bagi para pelaku usaha di Indonesia ketika mereka ingin menjangkau wilayah yang berbeda di daratan Eropa.

 

Akan tetapi,
Harus diingat bahwa stabilitas wilayah Asia pun masih menjadi titik yang rawan dari masuknya tindak kejahatan, baik itu kejahatan pencucian uang, transaksi perdagangan gelap, perdagangan barang yang terlarang, penyelundupan tenaga kerja ilegal, maupun munculnya gangguan keamanan nasional.

Kejahatan perbankan yang merujuk kepada penggunaan teknologi informasi menambah jumlah kejahatan transnasional yang terjadi di mana pun.

Munculnya kelemahan dari teknologi informasi yang ada saat ini harus diimbangi dengan teknologi terbaru yang mampu menjaga tingkat keamanan transaksi dunia.

 

Munculnya fenomena DIGITALISASI di setiap teknologi yang digunakan untuk memudahkan kebutuhan manusia mendorong persaingan geopolitik melalui cara merebut perhatian masyarakat internasional.

Masuknya perusahaan pengembang dan penelitian Apple di wilayah Asia menjadi salah satu bukti adanya persaingan bisnis geopolitik.

Kehadiran Apple di Asia tampaknya menjadi nilai tambah bagi Asia.

Hegemoni ekonomi negara-negara maju seperti Amerika Serikat sedang diuji sejak Tiongkok mulai menjadi kekuatan ekonomi dunia yang patut diperhitungkan.

Di dalam revolusi industri 4.0 yang sedang berkembang, industri manufaktur, jasa, maupun industri keuangan masih menduduki popularitas dalam perkembangan industri yang ada.

Apabila pemerintah ingin terus dapat mengembangkan industri yang ada, industri berat, pertambangan, dan energi harus menjadi agenda ekonomi bangsa yang didukung seluruh masyarakat tentunya.

Ekonomi dunia memang telah sedikit membaik setelah krisis ekonomi terjadi di beberapa negara.

Krisis sosial, politik, dan gangguan keamanan tampaknya masih menjadi prioritas seluruh negara untuk diminimalkan secara sektoral.

Akan tetapi, optimisme tumbuh dan berkembangnya industri baru tetap diharapkan masyarakat.

Implementasi hasil penelitian yang baru terhadap produk industri yang dibutuhkan harus segera diimplementasikan.

Regulasi dari pemerintah pun sudah cukup baik untuk mendukung tumbuh dan berkembangnya industri di dalam negeri.

Bahkan, badan usaha milik desa (BUM-Des) yang merupakan jenis industri yang ingin dimajukan pemerintah di wilayah yang sangat kecil juga turut menjadi program kerja pemerintah dalam mendukung negara ini sebagai negara industri sekaligus sebagai poros maritim dunia.

Dengan demikian,
Masalah PAILIT ataupun masalah GEOPOLITIK bukan menjadi penghalang bagi masyarakat untuk memajukan negara ini.

Terlebih jika negara ingin mengembangkan industri sebagai salah satu motor penggerak ekonomi selain dari keunggulan ekonomi maritim kita.

Beberapa industri ritel di belahan dunia mengalami distabilitas akibat pergeseran industri dan pola konsumsi masyarakat yang mengarah kepada pasar yang berbasiskan pada teknologi digital.

Dalam lima tahun ke depan, perubahan template industri sudah tidak dapat dihindari lagi.

Digitalisasi akan menjadi sindrom masyarakat yang menjadi kebiasaan dan mengakar di masyarakat.

Namun,
Digitalisasi juga tetap akan memberikan dampak yang negatif meskipun dampak positif menjadi domain dari keunggulan teknologi digital ini.

(Rn)