Kategori
Opini

REKLAMASI ANCOL IN NUTSHELL

 

 

Oleh : Zeng Wei Jian

Busirnews.com, Jakarta – Narasi Anies Baswedan; Reklamasi Ancol diganti terminologi “Perluasan Daratan”. Silat lidah. Shiny tongue. Retorikanya solusi flooding. Demi kepentingan publik. Moduz coverage; simbol agama. Rasis indeed…!!

Sumber narasi adalah bisikan TGUPP i.e. Kumpulan Anak Magang yang dilegalisir.

WALHI menyatakan awalnya Reklamasi Ancol murni untuk bisnis. Setelah panen kritik, retorika “Demi Public’s interest” dikibarkan. Padahal hanya menambah beban ekologis kerusakan Teluk Jakarta.

KIARA menyebut ada 6 cacat Reklamasi Ancol-Anies. Lawyer Ali Lubis & Susan Kiara satu nada; Kepgub 237/2020 ngga berdasarkan Payung Perda Tata Ruang No 1/2014.

Argumentasi hukum keduanya akan dipatahkan dengan alasan diskresi. Anies terabas aturan. Sambil jalan, revisi Perda RDTR dilakukan. Kongkalikong dengan DPRD. Bila Gubernur & DPRD sepakat, rakyat ngga bisa apa-apa.

Koordinator Jawara, Sanny A Irsan melancarkan perlawanan. Sanny A Irsan diidentifikasi orangnya Sandiaga Uno. Relawan Pendopo Aniser memantau & akan menggebuk bila pendukung Sandiaga Uno mulai membahayakan.

Ahokers ngga bergeming. Mereka ngga keberatan dengan reklamasi 17 pulau. Yang mereka bully adalah cara, perilaku, tata kata & moduz Anies Baswedan.

Kali ini Anies Baswedan melakukan blunder. Kalkulasi politiknya salah. Ahokers solid & konstant. Sama sekali tidak ada apresiasi.

Peng-gratis-an iuran rusun adalah sogokan. Penghuni senyam-senyum melihat manuver Anies Baswedan. Luka PDBB dan retorika reklamasi ngga sanggup menina-bobokan.

Reklamasi Ancol dibangun serangkaian puzzle. Sedari awal Anies Baswedan menempatkan konco lawas keturunan Arab sebagai Komisaris Ancol. Padahal konco satu ini belum tentu lebi berkeringat dibanding Sugiyanto alias SGY dalam memenangkan Paslon Anies-Sandi.

Irma Chaniago menyebutnya “Komisaris Rasa Buzzer”. Politisi Nasdem ini masih ngakak dua minggu kalo ingat gaya verbal si Komisaris Ancol berkepala plontoz.

Anies Baswedan bukan Gubernur Soleh namanya bila tanpa pendukung. Habib Novel Bamukmin menganulir Lawyer Ali Lubis. Beredar meme Anggaran Ormas 2.8 triliun. Dana hibah bagi ormas & jawara. Bukan buat handle Covid-19. Ironiz…!!

Kelompok mabok agama kraz Pro Anies sambil nuding mereka yang tolak Reklamasi Ancol sebagai Anti Agama.

Pembela Reklamasi Anies adalah mereka yang dapet remah-remah proyek. Ada yang nyodok di proyek 20 juta masker. Berkolaborasi dengan Dirut PD Pasar Jaya Arief Nasrudin trigger pengaduan UMKM Masker yang merasa dirugikan.

Mr. Arief Nasrudin disebut-sebut sebagai Ahoker yang suplai 23 Sapi dari Timses Kotak-Kotak ke Kepulauan Seribu waktu Pilkada.

Canggih dia bisa survive. Malah dipake oleh Anies Baswedan. Kemampuan lobby dan personal approach-nya mungkin sanggup pula melipat Komisaris Rikrik Rizkiyana (orangnya Sandiaga Uno).

Satu yang pasti, Pro Anies ngga ngerti soal HPL Reklamasi Ancol. Kewajiban 5% lahan menandaskan bahwa daratan itu tidak dimiliki Pemda. Ahok minta 15% dari nilai NJOP Reklamasi. Setara 179 triliun rupiah. Dua kali APBD Jakarta. Bisa buat bangun sekolah, ratusan rumah ibadah, trotoar dan sebagainya.

Dog’s quote; “You want a friend in Washington? Get a dog,” kata Harry S Truman. Give your dog a bone to get his loyalty.

Taipan lebi enak negosiasi dengan Anies Baswedan daripada Ahok. Hanya satu orang lurus di Ring Anies Baswedan yaitu Sudirman Said Komisaris PT Food Station. Sayangnya dia ngga ikut campur urusan politik. Sudah direpotkan Covid-19 dan Darah PMI.

Selebihnya Aniser sudah kenyang dikasi tulang dan dinina-bobokan rumah ibadah. Pantas Guntur Romli & Ferdinan Hutahean menyatakan Aniser itu bodoh-bodoh.

THE END

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=277183156923999&id=100038969493664