REFERENDUM kemerdekaan kurdistan Irak akan berdampak besar bagi negara-negara regional dan dunia Arab.

 

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

BusurNews.Com,Jakarta – REFERENDUM kemerdekaan kurdistan Irak yang diselenggarakan pada 25 September lalu akan berdampak besar bagi negara-negara regional dan dunia Arab.

Tak mengherankan,
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, pemerintah pusat Irak, Iran, Turki, Suriah, serta Liga Arab menentang referendum yang dipandang dapat mendestabilkan kawasan.

Komunitas Kurdi yang total populasinya sekitar 30-35 juta jiwa tersebar di Irak, Iran, Turki, dan Suriah.
Bila Kurdistan Irak merdeka, ditakutkan akan juga mengintensifkan gerakan separatisme Kurdi di negara-negara itu.

 

Amerika Serikat, Inggris, dan PBB juga keberatan KRG menyelenggarakan referendum kemerdekaan di saat perang melawan Islamic State (IS) masih berlangsung dan banyak persoalan Irak yang lebih mendesak untuk segera ditangani
–seperti pembangunan kembali Irak dari kehancuran perang dan isu jutaan pengungsi yang memprihatinkan ketimbang pelaksanaan referendum yang dapat mengalihkan perhatian dari perang melawan IS.

Untuk membujuk KRG di bawah Presiden Masoud Barzani menunda referendum, AS, Inggris, dan PBB menawarkan opsi alternatif, antara lain menunda referendum hingga minimal dua tahun, PBB menjadi sponsor dialog Baghdad-Kurdistan dalam mencapai kesepakatan pembagian minyak dan gas, dan peningkatan peran parlemen Kurdistan sehingga mereka memiliki peran setara dengan parlemen di negara merdeka.

Namun,
opsi ini ditolak Barzani yang mendapat dukungan parlemen Kurdistan.
Meskipun referendum mendapat ancaman dari Baghdad, Teheran, dan Ankara, serta penolakan DK PBB, penundaan atau pembatalan referendum akan merupakan bunuh diri politik Kurdistan Irak.

Untuk menetralisasi argumen negara-negara regional bahwa referendum kemerdekaan bertentangan dengan konstitusi Irak dan hukum internasional, referendum dibuat tidak mengikat dan, walaupun mayoritas rakyat Kurdi menyatakan

‘ya’, Barzani tidak akan memproklamasikan kemerdekaan. Hasil referendum
–diperkirakan mayoritas rakyat akan memilih ‘ya’–

hanya strategi fait accompli untuk memperkuat posisi KRG dalam pembicaraan penentuan nasib sendiri dengan Baghdad pascareferendum.

Liga Arab menolak referendum karena mereka ikut terpukul oleh kemerdekaan Kurdistan.
Hilangnya wilayah Kurdi Irak akan mengubah peta Arab yang berdampak pada geostrategi, ekonomi, politik, dan keamanan Arab.

Irak, negara Arab garis depan dalam menghadapi Iran, akan mengecil.
Bahkan, kekuatan militer dan ekonomi pun akan melemah karena wilayah Kurdistan merupakan penghasil gas dan minyak bumi yang cukup besar.

Sementara itu,
📌Irak kini telah jatuh miskin akibat perang delapan tahun dengan Iran (1980-1988),

perang Teluk (1991),

embargo ekonomi total oleh PBB (1990-2003),

perang sektarian (2003-2014), dan

perang melawan IS (2014-sekarang).

 

IRAK YANG COMPANG-CAMPING MASIH DITAMBAH DENGAN MENGECILNYA PENDAPATAN AKIBAT

ANJLOKNYA HARGA MINYAK DUNIA DAN UTANG MENUMPUK.

(Rn)