Kategori
All

Ratusan Pesilat Betawi akan adakan atraksi untuk mencapai rekor MURI non stop 24 jam di kawasan Fatahillah kota tua.

 

Busurnews.com,Jakarta – Ratusan Pesilat Akan Ramaikan Festival Silat Betawi untuk mencapai rekor MURI di kawasan Fatahillah kota tua.pada tanggal  15,16,17 Desember 2017 demikian kata Eky Pitung pada pertemuan diskusi dengan  Pokja wartawan Kota tua Senin (4/12/2017) di Jl. cengkeh pusat UMKM.

Para tokoh masyarakat Betawi baik dari komunitas, lembaga maupun unsur masyarakat lainnya akan menggelar acara kegiatan atraksi silat Betawi.

Acara tersebut akan dimeriahkan oleh pesilat-pesilat lainnya seperti Karate, Tek kwon do dan tidak ketinggalan pula dari Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).

Areal Museum Fatahillah Kota Tua Jakarta, kini memang tempat yang sangat strategis dan cocok untuk menggelar Festival Tradisi Silat Betawi, selain lokasinya yang luas juga keramaian yang selalu dikunjungi dari pelbagai komunitas, masyarakat local, luar kota bahkan turis mancanegara.

Menurut Ketua Umum Brigade Anak Jakarta, Eky Pitung, saat ini sudah terdaftar para pesilat-pesilat tangguh yang ikut mengisi acara tersebut sebanyak 650 orang dari berbagai perkumpulan silat, bahkan bisa lebih.

Persiapannya memang harus terencana secara matang dan kerjasama yang solid dengan semua pihak yang terlibat beserta para media yang mendukungnya,”Ungkapnya.

Dikatakan Eky Pitung, masyarakat lokal dan kaum Betawi nya sangat menyambut baik penyelenggaraan acara fastival tersebut, karena didalamnya tertuang upaya pelestarian seni budaya, situs-situs sejarah, pahlawannya bahkan para ulamanya.

Lebih jauh, Eky mengatakan bahwa peran pemerintah dan swasta bersama masyarakat lokal kiranya perlu bersinergi dalam upaya manangani masalah kota tua Jakarta terutama soal budaya dan sejarah masalalu nya yang belum maksimal terungkap, “ini perlu digali dari semua potensi yang ada, karena Kota Jakarta itu bukan hanya kota bisnis semata,”Jelasnya.

Tentu saja penyelenggaraan Fastival Tradisi Silat Betawi selain untuk menghibur pengunjung di kawasan Meseum Kota Tua Taman Fatahila Pengelolaan kawasan kota tua harus di lakukan oleh pemerintah dan masyarakat lokal, dengan lebih mengutamakan kepentingan pariwisata dan kebudayan di banding kepentingan bisnis semata.

Dikatakan Eky, bahwa peran serta aktif Bamus Betawi serta para jawara dan pendekar Betawi sangat dibutuhkan, terlebih dalam mendukung pembentukan badan pengelolaan kawasan Kota Tua.

“Namun yang lebih utama dan paling penting juga adalah bagaimana komunitas seni budaya dan pariwisata juga lebih memiliki peran dalam mengembangkan industry kreatif di kawasan Kota tua”pungkasnya.

Lebih jauh, Eki Pitung yang juga sebagai Ketua Umum Brigade Anak Jakarta mengatakan, bahwa Kota Tua dengan memiliki luas 846 Hektar dari 5 Zona ini mempunyai potensi yang sangat luar biasa jika dikembangkan, baik dari sisi sejarah, budaya, maupun dari sisi ekonomi.

“Jangan hanya bangunan saja yang di lestarikan dan di revitalisasi, tapi masyarakatnya pun harus di jaga keberadaannya dan terutama dikembangkan potensinya,” Pungkas Eky Pitung..

Hal senada diungkap Tokoh Masyarakat Lokal Kota Tua Jakarta, H.M. Arif Haryono, dirinya sangat mengapresiasi dengan keberadaan Pokja Wartawan Kota Tua Jakarta, terlebih jika Pokja Wartawan Kota Tua Jakarta dapat menjembatani masyarakat dan stakeholder dalam memberdayakan potensi wilayah Koa Tua.

“Apabila pokja Wartawan Kota Tua yang mempunyai fungsi kontrol sosial ini dapat menjembatani masyarakat dan stakholder dalam memberdayakan potensi wilayah kota tua terutamanya masyarakat lokal di Kota tua ini dapat berperan aktif dalam setiap aktifitas dan kegiatan di kawasan kota tua,” jelasnya.

Adapun harapan dari masyarakat maupun stakholder adalah agar segera dibentuk badan pengelola kawasan kota tua, yang mana keberadaan badan pengelola tersebut benar-benar dapat menjadi jembatan bagi masyarakat lokal dan stakeholder.

“Terlebih dalam mengembangkan potensi wilayah nya masing-masing tanpa adanya ikut campur dari pihak luar yang bukan lahir dan besar di kawasan kota tua.

“Kalau bukan kita siapa lagi yang akan melestarikan budaya Kota tua.”tutupnya.(Riena)..