Kategori
Artikel Islam

Rasulullah SAW berpesan agar waspada dengan urusan duniawi.

 

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com JAKARTA — Rasulullah SAW berpesan agar waspada dengan urusan duniawi.

Suatu hari Nabi Muhammad saw berjalan-jalan di pasar, diikuti banyak orang.
Di tengah jalan, ia melihat bangkai seekor anak kambing yang daun telinganya kecil.
Nabi menghampiri lalu mengangkatnya seraya bertanya, ”Siapa yang mau membelinya?” Massa menjawab, ”Kami tidak mau, tidak ada manfaatnya bagi kami.”
”Kalau diberi gratis, apakah kalian mau?”
”Bahkan, bila kambing itu masih hidup, kami juga menolaknya karena telinganya cacat.
Apalagi sekarang anak kambing itu sudah jadi bangkai.” Mendengar itu nabi bersabda, ”Demi Allah, sesungguhnya dalam pandangan Allah, dunia lebih hina daripada bangkai ini menurut anggapan kalian.”
(HR Muslim)

Ini wajar karena bangkai tak lagi berbahaya.
Bangkai pun tak kuasa menggoda dan menyesatkan orang hingga saling menganiaya. Bangkai siapa pun atau hewan apa pun takkan bisa menggunjing dan memfitnah.
Sebaliknya, isi dunia bisa mengawali penghancuran manusia oleh peradaban imperialisme beberapa negara. Karena muatan perut bumi, seperti tambang minyak atau emas, penganiayaan hingga pembantaian ribuan orang masih terjadi hingga kini.

Selain itu, kemampuan meraih nikmat dunia dijadikan kriteria kesuksesan sehingga ditirulah peradaban negara atau orang yang paling mampu meraih nikmat fisik dunia. Ukuran sejati kemanusiaan, yakni ketakwaan dan keluhuran akhlak, tersingkirkan.
Padahal, itulah standar penilaian Allah.

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

”Jangan sekalipun kamu teperdaya akan kebebasan orang-orang kafir bergerak (karena kekayaan dan kemajuan ekonominya) di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, selanjutnya tempat tinggal mereka ialah neraka Jahannam, dan Jahannam itu adalah seburuk-buruknya tempat tinggal.”
(QS 3:196-197).

Sabda nabi di awal tulisan ini hendaknya menyadarkan mereka yang selama ini terlalu memuliakan dunia.
Tak jarang harta atau jabatan seseorang dijadikan standar kemuliaan. Akibatnya, bukan cuma saat berbisnis atau muamalah lain, bahkan dalam dakwah sekalipun, kerap muncul keengganan mengakui kebenaran dakwah orang-orang yang lebih miskin daripada yang didakwahi.
Jadi, tinggalkanlah penilaian kemuliaan atau kebenaran pada diri seseorang yang didasari ukuran keduniaan.

@drr