Kategori
Artikel

RAMADAN kali ini istimewa, di bawah bayang-bayang pandemi.

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, Aceh :RAMADAN kali ini istimewa, di bawah bayang-bayang pandemi.

Gegap gempita kegiatan Ramadan yang sangat dirindukan mungkin hanya tinggal kenangan.
Tidak lagi ada canda tawa anak-anak yang berebut jaburan, konsumsi kecil seusai tarawih.
Banyak ritual yang terpaksa dikarantina sebab virus korona (covid-19).

Salat tarawih di rumah bagi wilayah PSBB
Tadarus di rumah.
Kajian-kajian keagamaan beralih daring.
Benar-benar puasa dengan suasana yang sangat berbeda.

Shiyam dan saum

Shiyam dan saum berarti puasa, menahan.
Shihab (2014) membedakan keduanya secara istilahi.

Shiyam adalah menahan diri dari makan, minum, dan hubungan seks karena Allah sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, sebagaimana ditunjuk antara lain oleh
QS Al-Baqarah (2): 183.

Saum digunakan Alquran untuk makna menahan diri tidak mengucapkan sesuatu yang tidak berguna walau sesuatu itu benar.
Di sini berlaku nasihat, jika kata tidak lagi bermakna, lebih baik diam saja.

Demikianlah, idealnya puasa itu lahir-batin.
Rasul mengingatkan, “Betapa banyak orang berpuasa, tapi dia tidak mendapatkan dari puasanya itu kecuali rasa lapar dan dahaga”
(HR Ath-Thobroniy).

Ini berarti secara batiniah kita harus selalu berusaha mengendalikan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat mencemari hati. Tazkiyat al-Nasf, menyucikan hati, menjadi keniscayaan. Di era seperti sekarang ini kita dapat belajar ihsan di mana saja, dari siapa saja, dan kapan saja.

Konteks pembelajaran kini benar-benar telah berubah. Belajar mengembangkan spiritualitas tidak lagi harus pedagogis seperti dahulu. Peran guru-mursyid berubah secara radikal. Internet menjadi sumber utama informasi.

Semoga puasa tahun ini semakin mendekatkan kita pada kualitas muttaqin. Pribadi dengan spiritualitas autentik. Spiritualitas yang melahirkan kearifan dalam menjalani kehidupan pribadi, berkeluarga, berbangsa, dan bernegara.

Refleksi diri

Ketersediaan informasi yang melimpah di dunia maya membantu setiap keluarga untuk dapat mengembangkan kualitas keberagamaan secara lebih mandiri dan memudahkan refleksi diri. Kennedy (2020) menyebut manfaat refleksi diri ialah improve self-awareness, provide perspective, respond not react, facilitate a deeper level of learning, improve confidence, dan challenge your assumptions.

Refleksi sangat dibutuhkan utamanya dalam upaya meningkatkan kesadaran diri.
Memahami diri sendiri pada tingkat yang lebih dalam sangat penting bagi keberhasilan hidup di masa yang akan datang. Dalam konteks spiritualitas, rendahnya kesadaran diri sering kali menyebabkan pemeluk agama gagal menempatkan diri secara benar di hadapan Tuhan.

Refleksi diri memperkaya perspektif. Kemampuan ini memungkinkan kita memahami dan melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Manakala seseorang mencoba mengambil langkah mundur sejenak dari sebuah situasi, yang bersangkutan akan mendapatkan pemahaman baru.

Dengan refleksi diri, kita akan dapat melihat keseluruhan gambar, bukan hanya potongan-potongan teka-teki. Refleksi diri menjadikan orang berpikiran lebih terbuka. Semua orang tentu pernah mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan dalam hidup.

Ada yang reaktif, tapi tidak sedikit yang mampu berlaku proaktif karena kematangan spiritual yang dimiliki. Tidak hanya cepat move on, tapi yang bersangkutan juga mampu dengan cepat memberikan respons terbaik bagi situasi tidak menyenangkan dimaksud. Jika bersikap reaktif, tidak jarang kita gagal melihat konsekuensi potensial dari tindakan yang diambil.

Banyak studi menunjukkan, refleksi diri memfasilitasi tingkat belajar dan pemahaman yang lebih mendalam. Ketika orang diberikan waktu
merenung, mencerna, dan mengintegrasikan makna, yang bersangkutan lebih mampu membuat koneksi abstrak.

Lalu, mempertahankan dan mengingat kembali informasi yang diperlukan. Oleh karena itu, di bulan yang penuh berkah, rahmat, dan ampunan ini, setiap keluarga hendaknya menyediakan cukup waktu untuk refleksi diri.

Refleksi memungkinkan siapa pun untuk dapat membuat keputusan tepat dan mengambil tindakan yang lebih akurat. Setiap kali pemaknaan kita terhadap pengalamaan belajar meningkat, semakin membantu kita dalam membangun kepercayaan diri.

Efikasi diri tumbuh semakin subur.
Kita menjadi semakin optimistis dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan semakin banyaknya pengetahuan dan perspektif.

Fakta membuktikan, apa yang kita yakini benar ternyata tidak selalu benar. Salah satu cara terbaik untuk mengatasi fenomena ini ialah dengan sejenak melangkah mundur dan memperdebatkan kembali keabsahan keyakinan itu. Refleksi memungkinkan kita menguji kembali keyakinan dan asumsiasumsi yang telah tertanam sekian lama. Work from home memberi ruang yang sangat besar untuk melakukan itu.

Kritis ke dalam

Kebanyakan orang lebih kritis ke luar daripada ke dalam. Refleksi diri mengarahkan sebaliknya. Kritis yaitu proses penalaran untuk membuat makna dari pengalaman, sebaiknya lebih ke dalam. Diskusi refl ektif yang dilakukan secara interaktif memiliki manfaat besar bagi
perkembangan spiritualitas.

Pada praktiknya, refl eksi ini dapat diintegrasikan dalam setiap jenis kegiatan experiential learning, bahkan di rumah sekalipun. Pengalaman dimaksud dapat faktual atau virtual.

Setidaknya terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan manakala kita melakukan refleksi kritis (Jacoby, 2010). Pertama, identifikasi
hasil belajar yang terkait dengan pengalaman. Apa yang kita harapkan sebagai hasil dari kegiatan ini? Memahami banyak sudut pandang? Dapat mengusulkan solusi untuk mengatasi masalah?

Identifikasi merupakan proses awal untuk memulai kegiatan refleksi. Kedua, setelah mengidentifikasi hasil, kita dapat merancang kegiatan refleksi agar dapat mencapai hasil terbaik. Refleksi kritis ialah proses yang berkesinambungan.

Tahap ini kelanjutan dari proses sebelumnya. Oleh karena itu, poin-poin penting yang telah dirumuskan pada tahap identifikasi dicari jawabannya pada tahap ini.
Kemampuan berbikir kritis dan mendalam menjadi kunci keberhasilan tahap ini.

Ketiga, melibatkan pihakpihak terkait dalam kegiatan refleksi. Melakukan refleksi kritis secara berjemaah dalam keluarga atau pertemanan akan jauh lebih mempertajam pemaknaan bila dibandingkan dengan dilakukan sendirian. Semua anggota keluarga dapat berbagi pengetahuan dan pemaknaan secara terbuka tanpa rasa sungkan.

Terakhir, menilai hasil belajar.
Sebuah rubrik yang menguraikan kriteria untuk mengevaluasi tingkat spiritualitas seluruh anggota keluarga, sangat diperlukan agar penilaian produk refl eksi dapat diberikan umpan balik secara lebih rinci.

Dengan cara demikian, semoga puasa di rumah kali ini membawa hikmah besar bagi seluruh keluarga.

Hasilnya lebih terukur dan membanggakan.
Menjadi pribadi paripurna yang berkeadaban.

Aamiiin…

@drr